
Matahari sudah sangat condong di barat, hampir hilang ditelan garis cakrawala. Warna merah yang tersisa mulai berganti dengan hitamnya malam.
Pandji baru saja rampung menggambar heksagram terakhir di ringroad timur kota Yogya, hanya tinggal menggambar simbol di dalamnya dan melakukan sentuhan akhir agar rune sihir itu bisa bekerja.
Mika berteriak keras saat dua pemuda mendatanginya, "Pandji … ada maroz dalam tubuh mereka!"
Pandji melihat sekilas dan melanjutkan pekerjaannya, dia yakin Mika akan menangani keduanya dengan baik. Dari aura yang dirasa, mereka hanya disusupi makhluk kelas rendahan.
Belati Mika mengayun cepat saat kedua pemuda itu berlari memburunya, seringai ganas dan tangan yang terulur hendak mencekik mampu ditepisnya dengan mudah.
Satu pemuda dibuat jatuh dengan tendangan di kaki, sedangkan pemuda kedua berhasil dilumpuhkan Mika dengan menghantamkan gagang belati pada dahinya.
Pemuda itu mengusap dahinya yang berdenyut sakit, mengerang dan mengejang dengan lolongan yang menyedihkan.
Setelah menggelepar sesaat, tujuh lubang kepalanya mulai mengeluarkan asap hitam tipis.
"Seret pemuda jangkung itu ke dalam heksagram, Mika!" seru Pandji menunjuk pemuda pertama yang mulai berdiri dan bersiap menghantam mika dengan bogem besarnya.
Mika menangkis dengan lengannya dan menendang keras perut pemuda yang sudah dekat dengannya.
__ADS_1
Dari arah belakang pemuda itu, Pandji merangkul leher dan menjepit dengan lengan kanan. Pemuda itu diseret Pandji dan dimasukkan ke dalam lingkaran sihir yang menyala hijau kebiruan.
Pemuda itu meraung pendek sebelum jatuh terjerembab kehilangan kesadaran, asap hitam yang keluar dari tubuhnya pun langsung terurai hilang bersama hembusan angin.
Asap hitam yang menggumpal di atas pemuda kedua mulai membentuk bayangan maroz. Seluruh cakarnya keluar perlahan, memanjang dan mengeras bersama lengkingan yang keluar dari moncong bertaring tajam.
Pandji melihat Mika sudah menerjang lebih dulu ke arah maroz yang masih mendongakkan kepala. Ayunan belati di malam yang mulai gelap terlihat mengerikan karena pendar warna merahnya.
Sabetan Mika yang berbenturan dengan kuku panjang serigala besar itu berdentang memekakkan telinga. Tak cukup sekali serangan Mika ditangkis dengan telak oleh maroz yang mulai kehilangan kukunya.
"Pergilah ke neraka!" seru Mika seraya menancapkan belati pada dada serigala yang meraung dan mencakar lengannya.
Nafas Mika terengah, dia mundur beberapa langkah karena maroz di depannya mulai pecah dan menghilang dalam gelap.
Pandji menaikkan sebelah alis tak paham. Senyum Mika terasa aneh baginya. Dilindungi wanita jelas bukan gaya Pandji, tapi tetap saja dia tidak bisa menolak keinginan Mika.
Kenapa wanita cantik satu ini ingin sekali menjadi bodyguard? Bukankah lebih baik jika dia mendaftar menjadi … pacar?
Mika berusaha membangunkan pemuda yang dekat dengannya, sementara Pandji menepuk kasar pipi pemuda yang telungkup di atas gambar heksagram.
__ADS_1
Dua pemuda yang mulai mendapatkan kesadaran linglung dengan kondisi sekitar. Pandji menunjuk kendaraan mereka yang terparkir di pinggir jalan.
"Hati-hati ya, Mas!"
Pemuda tak dikenal itu mengangguk bodoh dan langsung pergi meninggalkan Pandji dan Mika.
"Kita pulang, Mika!"
Tangan Pandji menarik Mika kuat hingga merapat padanya. Gelombang energi gelap sangat pekat menyambar tempat Mika berdiri dua detik sebelumnya. Menghamburkan debu dan meninggalkan lubang cukup dalam.
Umpatan yang hampir keluar dari mulut Mika berganti dengan gumaman terima kasih.
Mika merenggangkan pelukan Pandji dan mencabut kembali belati yang tadi sudah disimpannya di pinggang.
"Aku mengenali aura ini. Adik Biantara … dimana dia?" desis Mika pada Pandji.
"Di atas!" ujar Pandji datar.
Mika mendongak dan melihat satu sosok pemuda berdiri melayang di udara. Penampilan berantakan dan raut kejam tampak sekali padanya.
__ADS_1
"Kau mengikutiku?" tanya Mika kalem. "Aku sedikit tersanjung punya penggemar …."
**"