SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 56


__ADS_3

Dengan wajah penuh peluh, Mika merangsak maju berusaha melindungi Pandji dari serangan cepat kapak adik Biantara.


Mika ingin menjadi berguna untuk orang yang seharusnya dia lindungi, bisikan yang diterimanya sejak kecil bahwa dia adalah seorang penjaga baru bisa ditelaah belum lama ini.


Belati yang disimpan lama oleh Mika pun baru bereaksi karena kemunculan makhluk seperti serigala beberapa waktu lalu.


Pusaka yang kelihatan biasa saja tapi sangat beracun bagi hewan gaib yang apes harus tertusuk atau hanya tergores bilahnya.


Mika mengambil jarak dekat dengan Pandji, dua belati yang dipegangnya memaksa Mika harus bertarung dalam jarak dekat dengan adik Biantara.


Pemuda yang sesekali melolong layaknya hewan itu tak berhenti menyerang Mika dan Pandji meskipun tubuhnya mulai mandi darah karena goresan pedang Pandji.


"Minggir, Mika!" bentak Pandji seraya menghindari kapak yang membabat ke arah perutnya.


Begitu Pandji mundur beberapa langkah untuk mengatur jarak serangan, Mika masuk ke dalam pertarungan dan mulai memainkan kembali dua belatinya.


KLANG!!!


Kapak yang hampir membelah dada Mika mampu dihindari, serangan balasan Mika ditangkis dengan tepat oleh kapak milik adik Biantara.


Tak kenal lelah, Mika terus memburu dan menyerang. Hingga Mika akhirnya tidak perlu menunggu lama untuk bisa menggorok leher adik Biantara yang lengah.


Darah mengalir deras membasahi baju, mata pemuda yang cenderung berwarna putih itu membelalak tak percaya.


Raungan keras terdengar dari mulut yang mulai menyemburkan darah, pemuda itu terpelanting beberapa langkah ke belakang karena tendangan Mika pada perutnya. Membuat darah kehitaman keluar dari mulut si pemuda bertambah banyak.

__ADS_1


Mika hampir menikam adik Biantara saat satu bayangan berkelebat membawa tubuh penuh luka itu menghilang di kegelapan. Meninggalkan bau harum parfum wanita di sekitarnya.


Tanpa pikir panjang, Mika berusaha mengejar bayangan hitam yang berkelebat menuju selatan. "Berhenti!" seru Mika mengancam.


Mika memperpendek jarak dengan cepat, pengejaran yang dilakukannya makin jauh keluar rumah.


Mika berteriak dan siap melompat menangkap bayangan yang berlari membawa adik Biantara saat angin keras memisahkan jarak mereka. "Berhenti …!"


Bukan bayangan hitam yang membawa pemuda sekarat yang berhenti, tapi Mika yang tak bisa mengejar lagi karena dua pedang pendek milik Biantara menancap di kedua punggungnya.


Serangan mendadak itu membuat Mika tak sempat membalas, kedua pedang yang melukai punggungnya sudah tercabut dan penyerangnya ikut menghilang ditelan malam.


"Biantara …," desis Mika tak jelas karena mulutnya penuh dengan darah. Dia menyimpan kedua belatinya saat merasakan aura Pandji mendekat.


Menyimpan kedua pedangnya di punggung, Pandji menangkap Mika dan siap membawanya kembali ke rumah. Di belakangnya lolongan demi lolongan mengerikan makin dekat dan siap menyerangnya kapan saja.


"Serang mereka, Alpha!" lengkingan keras terdengar dari belakang kawanan serigala yang mengejar Pandji.


Gadis kecil itu dengan gesit membelah kawanan serigala di depannya, senjatanya mengacung seperti pisau yang menyala hijau lumut di dalam gelap.


"What the hell are you doing, Giandra?!" geram Pandji pada adiknya yang menyusul dengan menunggang Alpha dan dikawal oleh tiga harimau lain di belakangnya.


Gia tidak memperdulikan kakaknya, tapi justru mengendalikan maung tunggangannya untuk mencabik serigala yang sedang mengejar kakaknya.


Senjata di tangan kanan Gia yang dianggap Pandji pisau dapur adalah sebuah pusaka sejenis kujang.

__ADS_1


Adik perempuannya itu sama sekali tidak mirip Srikandi, tapi seperti gadis kecil yang sedang menakuti anjing liar dengan kucing galaknya.


Pandji mengurungkan niat untuk menarik telinga Gia, prioritasnya adalah mengamankan Mika dari hewan yang sedang melompat menerkamnya.


Dengan geram Pandji merapal mantra petirnya. Matanya terpejam sesaat dan dia mendongak menatap kilatan biru turun dari angkasa.


BLAR!!!


Dua petir menyambar dua makhluk bermoncong yang sedang dalam posisi menerkam, sekaligus mengubah mereka jadi abu. Meninggalkan raungan seperti hewan disembelih di rumah jagal.


Gia dan empat maungnya sibuk bertarung untuk memberikan jalan kepada Pandji agar bisa membawa Mika secepatnya masuk ke dalam kubah.


Alpha yang ditunggangi Gia menggigit leher serigala yang menyerangnya, mencabik sebentar sebelum kujang Cakrabuana milik Tuan Putri yang ada di atas punggung menancap di mata dan meledakkannya.


Tiga macan di belakang Gia menyerang dan menggigit satu serigala besar yang siap menyerang Pandji dan merobeknya menjadi tiga bagian.


KRAK!!! AUUU!!!


Suara raungan kawanan yang menyaksikan satu serigala hilang dalam gelap karena tubuhnya terburai oleh tiga maung menjadi semakin garang dan liar menyerang kakak beradik itu.


Pandji menghela nafas berat, mengeluhkan tindakan Gia yang terlalu berani menyusulnya.


Bukankah ini namanya like brother like sister? Tapi aku tak pernah mengajari Giandra untuk berbuat sok pahlawan seperti ini!


***

__ADS_1


__ADS_2