SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
SP 169


__ADS_3

Pandji dan Mika maju ke arah pintu berwarna hitam dengan lubang sekecil mata. Mika meraba permukaan pintu yang terbuat dari kayu berwarna hitam. Kayu khusus yang sangat keras yang diambil dari hutan hitam.


"Pintunya disegel dengan formasi sihir, Mas!" Mika berbisik lirih, tangannya mengusap simbol rumit yang berada dalam lingkaran.


Pandji ikut mengamati lingkaran sebesar telapak tangan anak kecil sedikit menyesal saat berbicara pada Mika. "Harusnya aku tidak membunuh iblis pedang setan terlalu cepat! Dia pimpinan penjara ini, pasti dia bisa membaca simbol sialan ini."


Seketika Damar Jati mewujud di belakang Pandji. "Biarkan saya melihat segel itu, Mas Pandji!"


Mika langsung mundur memberi tempat pada Damar Jati, begitu juga dengan Pandji.


"Aku baru mau bertanya padamu, Damar! Kau pasti tidak asing dengan situasi seperti ini," kata Pandji menyuarakan pikirannya.


"Saya tau apa yang Mas Pandji pikirkan tanpa bertanya." Damar Jati menyahut santai.


"Tapi aku tidak suka kau mengetahui apa saja yang aku pikirkan, Damar! Apalagi soal …," gerutu Pandji tidak terima.


"Kalau soal itu saya paham, itu rahasia kita sebagai sesama pria." Damar Jati tersenyum jenaka.

__ADS_1


Mika mendengus dengan wajah merah mendengar obrolan tak berguna dua laki-laki yang ada di depannya. Tapi Pandji dan Damar hanya melirik tak peduli.


Damar Jati berdiri di depan pintu, menyentuh simbol yang menjadi segel ruangan tersebut dengan kedua tangan dan berkonsentrasi penuh. Setelah berkomat-kamit merapal sihir perusak pelindung kegelapan, Damar menghancurkan pintu dalam satu kali pukulan.


Serpihan kayu hitam bertebaran di depan mereka bertiga, Damar menyingkirkan kepingan-kepingan kecil yang masih ada di udara dengan satu kali kibasan. Keinginannya untuk cepat melihat kondisi Mpu Sapta membuat Damar menjadi sangat tidak sabaran.


Pandji menyeringai pada Damar karena diberikan jalan lebih dulu untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah memenjarakan Mpu Sapta sekian lama.


"Silahkan, Mas!" Suara Damar terdengar tertahan oleh perasaannya.


Ruangan gelap menyambut, tidak terlalu sempit tapi penuh dengan aura mistis. Pandji mengenal sebagian aura pedangnya ada di sana, di dalam ruangan yang dihuni oleh sosok orang dengan pakaian hitam kusam.


Satu wajah pucat muncul dari kegelapan, berdiri dan memandang Pandji dengan mata menyipit tajam. Lalu satu suara takjub menyapa Pandji dengan gembira. "Satrio Pamungkas!"


Pandji menoleh ke kiri, kanan hingga ke belakang mencari nama yang disebut oleh Mpu Sapta, mungkin yang dimaksud orang tua itu adalah menantunya, Damar Jati.


"Damar, apa itu gelar ksatria yang kau miliki dulu saat berada di dunia iblis?" tanya Pandji dalam pikiran karena tidak menemukan roh pusakanya mewujud di dalam ruangan tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Jangan bercanda, Mas Pandji! Selain ksatria penggoda, aku tidak memiliki gelar lain di istana iblis!" jawab Damar Jati dengan tawa tertahan.


Namun, pria tua itu mendatangi Pandji dengan tergopoh-gopoh dan memeluk erat pemuda yang memasang wajah dengan ekspresi runyam.


"Ternyata ramalan itu benar!" bisik Mpu Sapta masih dalam suasana takjub.


"Ramalan?" tanya Pandji semakin tidak mengerti.


Mpu Sapta meregangkan pelukan lalu memegang kedua bahu Pandji, "Ya, kau adalah anak dalam ramalan. Kau adalah ksatria terakhir yang memiliki pulung (pertanda gaib) untuk memegang tujuh pusaka sihir."


"Saya?" tanya Pandji skeptis sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Aku Mpu Sapta, aku mengenali auramu, Cah bagus! Aku mengenalmu lewat wisik (bisikan) dari sejak tujuh belas tahun lalu, Satrio Pamungkas!"


Pandji menggaruk kepala dan menggeleng ringan, "Nama lengkap saya Raden Pandji Satria Abisatya, biasa dipanggil Pandji."


***

__ADS_1


__ADS_2