SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 159


__ADS_3

Tanpa menoleh ke arah Pandji, Damar menjawab dengan nada bersalah, "Mohon maaf, sepertinya Mas Pandji harus ikut campur menyelesaikan masalah saya. Dia meminta Mika sebagai ganti karena saya tidak bersedia mengikutinya."


Damar Jati menghilangkan diri setelah berbicara singkat, dan bersamaan dengan itu … mewujud satu pedang dengan gagang keemasan yang ditempati Asih Jati satu depa di depan Pandji. Pemuda dengan mata lelah tersebut menangkap pedangnya dengan setengah hati.


"Kau bahkan tidak menjelaskan apapun padaku sebelumnya, Damar!" gerutu Pandji mengatur mana dalam tubuhnya lalu berjalan ke depan nona muda yang mulai meraung marah.


"Siluman anjing itu bermuka sembilan Mas Pandji, mempercayainya adalah hal terbodoh yang pernah saya lakukan dulu, meski dia membantu saya saat jadi buronan, tapi dia punya misi pribadi untuk menangkap dan memperalat saya," jelas Damar Jati singkat.


"Aku dengar dia bicara soal rindu tadi," ejek Pandji sarkas. "Bukankah begitu, Asih!"


Damar Jati hanya diam, membiarkan Asih yang berbicara pada Pandji.


"Maafkan suami saya, Mas Pandji! Tabiatnya menggoda wanita memang membawa banyak masalah bagi banyak orang, saya akan membantu menyelesaikannya!"


Pandji membentuk perisai dari udara yang dipadatkan secara spontan sebelum bola api biru datang dan menabrak dinding tak kasat miliknya. Bola api super panas tersebut hancur menjadi ribuan keping kristal biru yang sangat tajam bersama luruhnya perisai Pandji.

__ADS_1


Secara serentak seluruh anjing bermata merah bersiap menyerang ke arah Pandji dan Mika, mengepung mereka dalam satu lingkaran berdiameter sepuluh meter.


Melihat hal tersebut, Pandji menatap ke arah nona cantik yang mulai kehilangan wajah ayunya. Perlahan tapi pasti, iblis cantik itu berubah bentuk menjadi anjing hutan dengan bulu hitam legam dan mata merah terang. Aura gelapnya sangat mencolok dibandingkan dengan siluman-siluman anjing lain yang tubuhnya lebih kecil.


Pandji memiringkan kepalanya dan dengan tak acuh berbicara santai. "Pantas saja Damar Jati tidak mau denganmu, Nona! Tidak bermaksud menghina, tapi saat berubah wujud begini … ibarat bumi dan langit jika kau dibandingkan dengan Asih Jati!"


Tiba-tiba, bersama dengan hembusan angin, sebuah kilatan cahaya merah dan biru berkelebat ke arah Pandji.


TRANG!!! BUK!!!


Hasilnya sangat menakjubkan, kepala siluman tersebut terpotong dengan telak, semudah mengiris tahu yang biasa dilakukan Atika di dapur. Potongan antara kepala dan badan juga terlihat sangat rapi, menunjukkan betapa tajam bilah pedang di tangan Pandji.


"Wanita kalau sedang cemburu ternyata menakutkan, bukankah begitu Damar?! Pedang ini mendadak jadi jauh lebih angker dan panas, sepertinya Asih Jati tidak ingin berlama-lama punya urusan dengan mantan pacarmu yang satu ini." Pandji meledek Damar Jati dalam pikirannya. Dia sengaja hanya menggunakan satu pedang untuk menghormati Damar yang masih kikuk jika harus menghabisi siluman yang pernah menolongnya.


"No komen," jawab Damar Jati datar.

__ADS_1


"Setidaknya tidak akan ada lagi cairan hitam yang terciprat jika langsung terbakar saat terkena hawa pijarnya," sambung Pandji dengan nada geli. Ditangannya, Asih Jati sudah menyala semerah lava dan siap membantai siluman yang menghalang jalan untuk menyelamatkan ayahnya. Mpu Sapta.


"Biarkan aku membantu!" seru Mika melompat ke arah anjing hitam yang paling besar, jelmaan dari iblis cantik yang sedang murka pada Damar karena menolak menyerahkan Mika padanya.


Pertarungan langsung sengit, Mika dengan dua belatinya sudah sibuk dengan siluman anjing keras kepala yang terus berusaha menggigit dan melancarkan bola sihir berwarna biru yang sangat panas.


Pandji sendiri tidak ingin mengganggu Mika, dia lebih suka mencacah daging yang dengan sukarela melompat padanya tanpa henti. Tampak bodoh mengorbankan diri tapi tidak berani lari meninggalkan nona siluman yang juga berada dalam keadaan hidup dan mati.


Satu tebasan lebar dari Pandji kembali memotong satu siluman menjadi dua bagian dan menghancurkannya menjadi jutaan serbuk abu hitam. Asih membakar korbannya tanpa belas kasihan dalam satu serangan.


Sama seperti barion Pandji yang ikut mencabik anjing liar yang berusaha mendekati Mika, berusaha membantu majikannya yang mulai terdesak.


***


...Happy nice weekend teman-teman! Tetap pakai masker ya kalau keluar ngupi sama mantan di ruang terbuka … biar, ehm … gak ketauan hehehe! ...

__ADS_1


...Cium jauh - Al...


__ADS_2