
"Waktuku hampir habis, apa ada hal penting yang ingin kau tanyakan?" tanya wanita yang memakai tubuh Mika.
"Kau bahkan belum menjelaskan tentang sihir pembuka dan penutup portal dimensi, Asih!"
"Sudah kubilang aku bukan Asih!" ujar mulut Mika sewot. "Kau bisa membacanya sendiri bagian ini!" sambung wanita yang dipanggil Asih oleh Pandji. Tangannya kembali menunjuk pada buku yang memilih halamannya sendiri dan terbuka di bagian tengah.
Sebuah gambar lingkaran dengan bintang daud yang bertumpuk sangat banyak dan rumit. Di bawah gambar tersebut ada mantra yang ditulis dengan bahasa kawi yang dibaca cepat oleh kembaran Asih Jati.
Seketika dunia seolah terbelah dan Pandji tersedot ke dalam pusaran angin yang menghembusnya ke dunia lain.
Satu gerbang sangat besar berwarna hitam dan tinggi menjulang seperti menyentuh langit berdiri tegak kokoh di hadapannya.
"Apakah ini gerbang menuju kegelapan?"
"Hm, menurutmu …?" Satu suara tanpa wujud berbicara di dalam kepalanya.
Pandji mengamati dinding tak kasat mata yang melingkar di depannya, menerawang kehidupan lain yang ada di dalamnya.
Aura pekat dan jahat memenuhi udara tempat Pandji berdiri. "Kau tinggal menjawab iya atau bukan, kenapa harus membuatku menebak-nebak?"
Secara reflek Pandji menggumamkan pusaka penganten agar datang dan mewujud di depannya.
"Kau tidak akan menghadapi mereka sekarang, Mas Pandji! Jumlah mereka berkali lipat banyaknya dibanding kehidupan tempatmu berpijak!"
Pandji mendengus kesal, "Lalu apa maksudmu membawaku kemari?"
__ADS_1
"Beberapa pintu kecil yang ada pada dinding tak kasat itu adalah portal mini, dia akan hancur setelah dilewati sejumlah tertentu iblis. Tekanan energi dari iblis yang keluar dimensi membuat portal itu tidak bisa digunakan untuk kembali. Butuh membuka gerbang portal utama sebagai jalan keluar masuk iblis untuk melintas alam dengan aman."
"Lalu … penjara Sang Empu ada di dalam gerbang?"
"Ya, ada tangga melingkar ke bawah dasar dunia, disanalah ayah terpenjara!"
"Kau bisa menciptakan sihir untuk membuka gerbang, juga menciptakan sihir terlarang yang mungkin juga terhebat seperti pedang darah … tapi kenapa kau tidak melakukan misi itu sendiri? Membebaskan ayahmu tanpa merepotkan orang lain!"
"Aku akan menjawab bagian itu nanti, yang pasti aku tidak punya kemampuan untuk melakukannya. Aku ini penyihir pencipta mantra, bukan penyihir petarung! Sama seperti Sang Empu, kesaktian beliau hanya membuat pusaka … bukan ksatria yang bisa pergi ke medan laga. Apa kau masih juga belum paham, anak muda?"
Pandji menggosok dua tangannya yang terasa dingin, "Baiklah aku sedikit setuju dengan alasanmu, tapi aku belum bisa menyanggupi untuk menyelesaikan misi Damar Jati dan istrinya. Aku punya prioritas lain."
"Aku mengerti," ucap suara dalam kepala Pandji. Suara yang membawa mantra magis dan mengirim jiwa Pandji kembali ke ruang perpustakaan.
Pandji menyeringai licik, "Aku ingin bertanya sesuatu, apa yang akan aku dapatkan sebagai bayaran kerjaku nanti? Menyelamatkan ayahmu bisa saja mengorbankan nyawaku!"
"Aku hanya tidak suka melakukan sesuatu yang tidak berguna atau tidak ada untungnya," gumam Pandji menguatkan pembelaan dirinya. Ya walaupun hati kecilnya sudah punya rencana untuk memanfaatkan Sang Empu agar membuat pusaka untuknya.
Tentu saja aku akan menyelamatkannya, Sang Empu adalah aset terbaik untuk rencana masa depanku. Membayangkannya saja membuat aku … sudahlah!
Pandji kembali berkonsentrasi saat Mika merapal mantra perlahan sambil menatapnya dengan menusuk tajam. Tiba-tiba satu petir yang sangat besar menyambar di luar rumah. Suaranya menggelegar menyakiti telinga.
Cahaya bulan yang menerobos jendela mendadak hilang, kegelapan meliputi langit dan petir bersahutan seolah murka dengan orang yang sedang membaca sihir terlarang.
Semesta mengamuk, angin berhembus kencang menabrak jendela kaca dan hujan mendadak turun dengan sangat deras. Udara dingin menyelimuti Pandji dan Mika.
__ADS_1
"Kau akan melihat pertanda alam ini saat merapal mantra pembuka atau penutup portal utama, pertanda yang sama persis saat kau lahir ke dunia."
"Kenapa pertandanya seperti sesuatu yang tidak baik? Apa artinya kelahiranku juga membawa hal buruk bagi orang lain?" tanya Pandji pelan.
"Simpan saja baik-baik mantra sihir itu dalam kepala, karena kau hanya akan bisa membacanya beberapa kali selama hidupmu! Soal kau membawa kebaikan atau keburukan, itu adalah pilihan tersulit manusia. Aku tidak bisa ikut campur urusan itu, tentukan sendiri kiblatmu kemana!"
Pandji mencerna kalimat terakhir wanita di depannya lalu mengangguk samar. "Bagaimana dengan sihir yang lain? Aku rasa masih ada beberapa yang belum kau bacakan!"
"Pelajarilah sendiri, kau bisa membacanya bersama gadis ini atau putri keturunan Ganendra. Isinya kebanyakan hanya sihir untuk perlindungan dan memaksimalkan kekuatan tersembunyi kaum hawa. Bisa dibilang lebih berguna untuk mereka daripada untukmu."
"Maksudmu Giandra adikku?"
"Hm … dia pantas mempelajari buku ini selain tiga sihir terlarang itu!"
Pandji mengernyit dengan ekspresi tak puas, "Jadi untukku hanya tiga poin penting itu?"
"Bisa dibilang begitu, aku pamit … waktunya telah habis."
"Tapi semua tulisanmu memakai aksara kawi, bagaimana aku, Mika dan Gia membacanya?" protes Pandji. Jelas dia tidak ingin bersusah-payah kalau ada yang berbaik hati sudi menerjemahkan semua isi buku itu untuknya.
"Kau sudah diajar caranya membaca oleh leluhurmu! Ohya jangan lupakan heksagram bertumpuk, itu bagian penting dari mantra terakhir!"
"Tapi aku belum paham dan pandai, " elak Pandji mempertahankan kemalasannya. "Lalu apa gunanya penanggalan dalam perkamen kuno ini? Aku yakin Romo Guru memberikannya bukan sebagai cinderamata dari alam gaib!"
"Kau akan tau setelah membaca keseluruhan isi kitab sihir itu! Jangan terlalu malas, Mas Pandji … ada banyak nyawa yang harus kau lindungi!"
__ADS_1
Pandji menghembuskan nafas kecewa tapi dia tidak sempat melontarkan pertanyaan lagi karena dilihatnya Mika terpejam. Tertidur oleh penyihir yang baru saja menempati tubuhnya tanpa permisi.
***