
Satu bulan kemudian.
Rumah kediaman keluarga Pandji sedang ramai, merayakan kelulusan Pandji dan juga Mika yang akhirnya selesai masa studi S2 nya di Yogya.
Teman-teman satu tim Pandji berkumpul membentuk lingkaran, memenuhi meja yang khusus disediakan di pendopo depan untuk makan secara lesehan.
Bukan hanya Aswanta yang sudah sukses menggandeng Prameswari, Mahesa juga datang dengan pacarnya, Rengganis. Hanya Tirta yang masih arogan menjaga statusnya tetap sendiri.
"Nggak usah ngeledek, aku memang tak mau hatiku dijaga orang lain," ujar Tirta tak peduli dengan situasi.
Ratna duduk di sebelah kanan Pandji, disusul Elok dan Atika. Mika memilih berada di sebelah kiri Pandji setelah berdebat dengan Tirta.
"Kamu kenapa lagi? Ngebet banget pingin duduk di sebelah Pandji?" Mahesa bertanya pada Tirta yang memasang wajah kecewa.
"Aku cuma ingin banyak mengobrol, aku berniat konsultasi dengan Pandji … tidak lebih!" jawab Tirta muram.
"Bukan waktunya curhat, ini waktunya makan!" Mika menimpali dengan nada tak mau mengalah.
Tak lama, satu mobil mahal berwarna merah memasuki halaman rumah dan parkir tak jauh dari pendopo tempat Pandji dan kawan-kawannya berkumpul.
"Nirmala? Mau apa lagi dia?" gumam Mika tak suka.
"Nyari Pandji lah, masa iya nyari Tirta!" Aswanta menahan tawa.
Semua mata menatap ke satu titik, ke arah wanita bergaun batik merah marun dengan paper bag warna biru yang baru turun dari mobil dan berjalan gemulai ke arah pendopo.
Dengan senyum manis, Nirmala menyapa ramah. "Selamat untuk kelulusan Mas Pandji. Saya datang hanya untuk menyampaikan ini!"
Pandji menerima hadiah dari Nirmala dengan wajah datar, "Terima kasih sudah merepotkan!"
"Oh sama sekali tidak, saya juga datang dalam rangka menyampaikan undangan makan malam keluarga, untuk Mas Pandji dan kedua orang tua." Nirmala mengamati para gadis di sekitar Pandji sebelum menyambung kalimat. "Selain saya, di rumah juga ada adik dan beberapa saudara perempuan yang sama sekali tidak buruk untuk menemani makan malam!"
"Ohya? Apa menurutmu Pandji kekurangan wanita cantik hingga harus mencari ke rumahmu?" Mika melontarkan pertanyaan penuh sarkasme yang tidak bisa dijawab Nirmala.
Dengan wajah merah, Nirmala pamit dan mengangguk ramah pada Pandji. Serentak semua pemuda yang ada di pendopo juga mengangguk tak kalah ramah.
"Ada apa sebenarnya, Mas? Kenapa keluarga Mbak Nirmala ingin sekali kamu menjalin hubungan dengan mereka?" tanya Ratna polos.
__ADS_1
"Apalagi kalau bukan karena rumor yang beredar soal tujuh pusaka sihir yang sekarang ada padaku!" jawab Pandji menatap mata Ratna lurus.
"Bukankah pusaka itu memang sudah tidak ada padamu, Mas? Menghilang saat kamu menyeberangi dimensi kan?" tanya Ratna khawatir.
Pandji diam sejenak, "Ya … tujuh pusaka sihir itu memang tidak ada padaku, mereka menghilangkan diri entah untuk berapa lama!"
Mahesa berdehem saat ada mobil masuk halaman sesaat setelah mobil Nirmala keluar. "Wah, gadis mana lagi nih?"
"Ehm, kayaknya bule nyasar! Ayune As!" Tirta berbisik pada Aswanta saat melihat perempuan tak dikenal turun dari mobil.
"Tamu siapa ini, Sobat? Kau laris sekali hari ini!" Aswanta menatap Pandji.
Pandji mengedikkan bahu tak peduli, "Mungkin teman Ibunda!"
Merasa diperhatikan oleh sekumpulan anak muda, bule cantik itu melempar senyum dan berjalan menghampiri.
"Walah senyumannya bikin meleleh, sepertinya aku rela kalau dia yang menjaga hatiku!" ujar Tirta terpesona.
"Siang, apa Mas Al sama Mbak Selia ada dirumah?"
"Oh, Mbak cantik ini teman ayahanda Pandji ya?" Tirta antusias menjawab duluan.
"Wah dengan senang hati!" Tirta langsung saja buru-buru mengambil langkah untuk mengantarkan Sari, meninggalkan teman-teman yang mengerjap tak percaya.
"Hati-hati, Tirta! Mbak nya bawa bodyguard, meskipun tua tapi kelihatannya bukan bapaknya!" ledek Mahesa lirih.
Tirta mengabaikan tawa teman-temannya, dia memilih mengantar Sari ke dalam rumah induk.
Ibunda Pandji menyambut hangat kedatangan Sari dan suaminya yang bernama Doni. "Apa kabar Mbak Sari? Akhirnya kita ketemu lagi setelah sekian lama!"
"Baik, Mbak Selia sendiri gimana? Sehatkan? Ohya ini suami saya, Doni." Kalimat Sari seketika membuat Tirta yang masih ada di sana melongo. Dia tidak mengira wanita cantik yang diperkirakan berusia dua puluh lima tahun itu ternyata sudah memiliki suami.
Dengan wajah linglung Tirta kembali ke pendopo setelah pamit dan menerima perintah dari Ibunda Pandji untuk memanggil Pandji dan Mika. "Mahesa benar, laki-laki itu ternyata bukan bodyguard biasa!"
"Alhamdulillah sehat … selamat datang di kediaman kami. Ehm, mas Doni bukannya dulu yang ikut liputan di Indramayu ya?" tanya Ibunda Pandji ramah.
"Iya Mbak, dulu waktu ketemu … saya masih muda, sekarang udah tua. Yang awet cuma itemnya aja," jawab Doni menyambut uluran tangan Ibunda Pandji.
__ADS_1
"Mas Doni bisa aja, mari silahkan duduk." Ibunda Pandji mengajak Sari dan Doni mengobrol santai sambil menunggu Pandji dan Mika bergabung.
"Hai Mas Pandji, do you still remember me?"
Pandji menggaruk kepalanya karena malas mengingat. "Nggak!"
Sari tertawa, sementara Ibunda dan Ayahanda yang juga baru bergabung hanya tersenyum. "Mas Pandji sudah lupa dengan hantu penari bertopeng?"
"Oh, iya inget dikit." Pandji menjawab singkat.
"Pandji sudah beranjak dewasa, tapi Mbak Sari masih sama seperti dulu. Muda dan juga cantik," Ayahanda Pandji bicara dengan tawa ramah dan sukses mendapat cubitan mesra dari istrinya di bagian pinggang.
Sari tertawa geli melihatnya, "Ya seperti yang Mas Al dan Mbak Selia lihat, saya sangat awet muda."
"Miss Sari memang umur berapa sekarang?" tanya Pandji penasaran.
"Pandji, nggak sopan bertanya begitu sama teman ayah!" Ibunda Selia mengingatkan.
"Maaf," ujar Pandji cepat.
Sari tergelak, "Umur saya empat puluh tahun. Mas Pandji bisa panggil saya aunty sekarang, jangan Miss Sari lagi!"
Pandji dan Mika sedikit terkejut mendengar usia Sari. Tidak ada tanda penuaan sedikitpun, baik kerutan atau pun rambut yang memutih meski Sari tidak menggunakan make up. Benar-benar terlihat seperti gadis seumuran Mika.
"Saya masih ingat loh sama makanan kesukaan Mas Pandji, fruit chips, right?" sambung Sari sambil membuka kantong kertas besar yang dibawanya dari Semarang dan menyerahkannya pada Pandji. "Di mobil masih ada banyak lagi, khusus untuk Mas Pandji."
"Apa ini semacam sogokan?" Pandji tersenyum lebar seraya melihat ke dalam kantong kertas.
Sari tertawa penuh makna, "Anggap aja begitu, ini upeti kecil buat pinjam Mika sebentar. Apa boleh?"
Pandji dan Mika saling menatap dengan ekspresi bingung. Sementara Ayahanda Pandji justru mengangguk setuju.
*** TAMAT ***
...Big thanks to fans Satrio Pamungkas, especially kak Lia (Srikandi Tanah Pasundan), kak Ikka, kak Winda, kak Irva, kak Khariesma, kak Anksu namum, kak Yoenia, kak Anthy, kak Sahidin, kak Nanda, kak Lailatus, kak Putri M, kak Bunda R, kak Rinda, kak Ananti, kak Mariaje, kak Andini, kak Hiatus, kak Samian, kak S.K Brook, kak Namika, kak Andira, kak Wiwik, kak Yeni N, kak Dwi F, kak Anny Y, kak Mei D dan semua reader yang sudah memberikan dukungan tapi tidak disebut satu-persatu....
...Petualangan Mika bersama Sari bisa dibaca di Srikandi Tanah Pasundan karya author Nath_e ya teman-teman!...
__ADS_1
...Cium jauh dari Surabaya - Al...