SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 124


__ADS_3

Paginya rumah Pandji ramai oleh tamu. Berita pemakaman sembilan orang murid Hargo Baratan ternyata tersebar lebih cepat dari dugaan. Hampir seluruh kesatrian bela diri yang mengikuti turnamen datang untuk memastikan kebenaran tersebut.


Kebanyakan yang datang adalah ksatria pilih tanding yang merupakan utusan dari perguruan, walaupun tidak sedikit juga yang memangku jabatan sebagai kepala kesatrian ataupun pemilik yang turut hadir.


Bukan hanya mereka, banyak juga perguruan bela diri aliran putih yang tidak ikut turnamen, datang dengan niat bergabung menjadi pejuang jika dibutuhkan.


Hargo Baratan sudah resmi ditutup oleh pemiliknya, sisa murid dan guru yang masih ingin belajar dan mengajar diterima Putra Ganendra dengan tangan terbuka. Sayangnya pada acara kumpul di rumah Pandji, Candika tidak bersedia hadir untuk memberikan penjelasan.


Desas desus tentang sihir hitam yang mengkolaborasikan kekuatan iblis dan manusia tersebar di seluruh Yogya Solo bagai awan gelap di musim hujan. Menakuti dan mengkhawatirkan.


"Kenapa Den Bagus Candika tidak memenuhi undangan kita untuk ikut duduk dan bercengkrama di sini?" geram pria paruh baya yang jauh-jauh datang dari Solo.


"Aku masih tidak habis pikir, ternyata sihir hebat milik kesatrian Hargo Baratan membawa dampak buruk bagi sebagian muridnya!"


"Saya menyesal sudah membiarkan anak belajar di sana, pulang tanpa nyawa … tanpa jasad yang bisa dikuburkan dengan layak!" Salah satu orang tua korban yang menunggu kedatangan Candika ikut geram.


"Seharusnya pemilik kesatrian itu bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya dengan cara bergabung menjadi ksatria melawan angkara yang sedang mengancam dunia kita! Bukan bersembunyi seolah tidak ada apa-apa!"

__ADS_1


"Aku sungguh tidak menyukai keluarga Candika sejak dulu! Arogan!" Pria sepuh yang seluruh rambutnya sudah memutih ikut berbicara.


"Ehm …." Suara dehem dari Ayahanda Pandji mendiamkan keributan dan bisik-bisik yang sedang terjadi di ruangan besar tempat pertemuan. "Ada apa sebenarnya … kok saya mendapatkan kejutan besar di pagi hari yang cerah ini? Tamu datang dari segala penjuru tanpa undangan!"


"Begini mas, saya mewakili kelompok aliran putih dan juga juru bicara tamu di sini mohon maaf sebelumnya. Kedatangan kami kemari ingin mendengar langsung semua kejadian meresahkan di wilayah Yogya yang baru-baru ini terjadi!" kata pria sepuh membuka obrolan.


Ayahanda Pandji menjawab semua pertanyaan apa adanya. Tidak ada hal penting yang ditutupi karena memang menyangkut keselamatan umat manusia.


Banyaknya manusia yang gugur dalam kekacauan yang terjadi dua hari lalu, membangunkan orang-orang yang dijuluki pendekar atau mungkin ksatria yang ingin jadi pahlawan.


"Ya, mereka bertarung seperti manusia. Memiliki kekuatan yang berbeda-beda juga, hanya saja jumlahnya sangat banyak jika dibandingkan dengan kita yang berkumpul di sini!" jawab Ayahanda Pandji tenang.


Pria sepuh menyimak dengan wajah serius, mengusap jenggotnya perlahan sebelum bicara. "Mas, kalau misal setiap kesatrian memberi bantuan untuk mengirimkan setidaknya setengah dari jumlah murid bagaimana? Apa itu bisa membantu?"


"Tentu saja sangat membantu. Yang jadi masalah … saya tidak tau kapan bantuan itu diperlukan. Mereka yang menamakan diri makhluk dari alam kegelapan menyerang tanpa kita ketahui waktunya!"


"Bagaimana jika kita yang menyerbu lebih dulu?"

__ADS_1


"Saya juga belum tahu basis mereka ada dimana. Awan hitam yang menggantung di bawah bulan kemarin jatuh di bagian timur Jawa. Tepatnya di daerah mana, kita harus melakukan penyelidikan!" terang Ayah Pandji bimbang.


"Saya ikut dalam tim penyelidikan," seru pria paruh baya dari Solo dengan suara lantang. "Saya sudah nggak tahan untuk menghunus keris warisan nenek moyang pada makhluk sialan penebar petaka!"


"Pripun, Mas?" (Gimana, Mas?) tanya pria sepuh melanjutkan. "Apa akan dibentuk tim untuk berangkat ke Jawa Timur? Butuh berapa orang?"


"Akan saya putuskan secepatnya, tapi tidak mungkin dengan jumlah banyak … tujuannya agar tidak menarik perhatian. Empat atau lima orang cukup!" Ayahanda Pandji memaparkan sedikit rencana, kalau penyelidikan mungkin akan dilakukan oleh keluarganya.


"Baiklah, kami menunggu informasi dari keluarga Abisatya. Dan untuk menindaklanjuti pertemuan ini kami akan menyiapkan setengah dari murid kesatrian yang terbaik agar siap dipanggil kapan saja."


Ayahanda Pandji mengangguk setuju, "Saya harap jika ada berita atau pergerakan aneh di setiap wilayah, segera dilaporkan dan jangan ditangani sendiri."


Perbincangan diteruskan membahas kondisi kesatrian yang sedang tumbuh maupun ilmu kanuragan paling diminati kawula muda.


Pusaka atau senjata bertuah yang masih jadi perburuan utama para ksatria tidak luput dari materi obrolan.


***

__ADS_1


__ADS_2