
Tidak banyak bicara, Pandji menyelipkan perkamen kuno bergambar peta penjara ke tangan Mika. Matanya tajam menatap dingin pada beberapa iblis yang datang menghampiri dan mulai mengepung mereka.
"Kita berpisah disini, Mika! Aku akan menahan mereka sementara kau pergi ke dunia bawah! Aku akan menyusul segera setelah membereskan masalah yang tidak perlu ini!" perintah Pandji terdengar jelas, tegas dan mutlak tidak bisa dibantah.
Mika hanya mengangguk, menyimpan perkamen di balik bajunya lalu bersiaga dengan dua belati sambil menunggu Pandji membuka jalan untuknya.
Iblis penjaga dengan berbagai rupa aneh, seram dan mengerikan mulai mengeluarkan senjata dan memasang kuda-kuda. Mereka tidak ingin lengah pada anak muda yang terlihat biasa saja auranya.
Tidak, sepuluh iblis yang mengepung Pandji tidak berpikir seperti itu!
Bagi iblis yang berpengalaman, aura manusia yang bisa ditutupi dengan baik dan menggantinya dengan aura iblis menandakan orang tersebut memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan. Dan meskipun Pandji belum memompa mana sihirnya, tapi iblis penjaga bisa menilai dari tatapan pemuda yang dirasa menusuk, seperti tatapan seorang pembantai yang tidak kenal rasa takut.
__ADS_1
Pandji menyeringai tanpa merasa bersalah, "Sepertinya kami tersesat, kami datang untuk menghadiri perayaan di istana. Apakah acaranya bukan di sini? Tempat ini terlalu sepi."
"Omong kosong apalagi ini? Dari mana asalmu manusia? Kau tidak memiliki kepentingan di area ini, serahkan dirimu dan dapatkan keadilan dari raja karena sudah lancang menyelinap ke area terlarang!" Salah satu iblis penjaga mengabaikan alasan Pandji yang terdengar dibuat-buat.
"Baiklah kalau kalian tidak percaya, aku memang tidak pandai berbohong seperti kaum kalian. Jadi, mari kita bicara dengan pertarungan saja! Itu hal jujur yang biasa aku lakukan untuk mengurangi jumlah kalian yang sudah terlalu banyak," jawab Pandji enteng. Dia menangkap sepasang pedang hitam yang muncul di hadapannya.
"Dua pedangku tidak pernah bicara omong kosong!" sambung Pandji dingin.
"Kau sangat arogan anak muda, aku mencium bau pusaka sihir kegelapan dan aura seseorang yang lama menghilang. Satu dari karya Mpu Tua itu ternyata ada padamu, dan ya … putra angkat iblis yang jadi buronan sepertinya juga ada di sini."
Kepala tim penjaga melanjutkan bicaranya dengan lantang serta ekspresi bangga, "Tapi kau sedang berhadapan dengan sepuluh iblis darah, ksatria elit dari istana yang bertugas menjaga tempat ini. Kami tidak akan membiarkanmu dan wanita itu berbuat sesuka hati di area ini!"
__ADS_1
"Hentikan aku jika kalian memang punya kemampuan," gertak Pandji garang. Dua tangannya mengayunkan pedang dengan sangat cepat. Membubarkan formasi pedang yang baru saja mengurungnya dan Mika.
Tanpa menunggu perintah lagi, Mika langsung melesat keluar dari kepungan menuju bagian belakang kastil. Pandji menyilangkan kedua pedang hitam dan berdiri menghalangi jalan pelarian Mika, tidak membiarkan satupun anggota iblis darah memiliki kesempatan untuk mengejar.
Melihat pemuda di depannya dengan mudah merusak formasi pedang andalan sepuluh iblis darah, kepala tim mengerang marah. "Beritahu pimpinan kita kedatangan tamu!"
Pandji menyeringai senang saat salah satu anggota iblis darah melesat pergi ke arah berlawanan dengan Mika, dengan menyibukkan para penjaga untuk menghadapinya, dia bisa sedikit mengulur waktu bagi Mika untuk menemukan lokasi Mpu Sapta.
Pandji membuat beberapa tebasan pada iblis darah yang mulai menyerangnya. Mana Pandji meruap memenuhi tubuh, terbagi menjadi dua untuk mengaliri Damar dan Asih dengan elemen masing-masing, elemen yang memiliki perbedaan sangat mencolok yaitu api dan es.
Damar Jati menyala biru gelap menunjukkan betapa dingin energi yang ada di dalamnya, sementara Asih memijar semerah lava dengan panas seperti api neraka.
__ADS_1
***