
Suasana lengang, angin tidak bertiup dan tidak ada suara apapun di tempat yang penuh dengan peserta turnamen. Semua mata tertuju pada Biantara, takjub dan takut terlihat pada wajah banyak pemuda.
Aura gelap dan jahat yang dikeluarkan Bian mempengaruhi area sekitarnya, menekan dan menurunkan mental orang sebelum bertanding.
Beberapa peserta mulai berbisik-bisik, "Aku lebih baik mundur jika lusa berhadapan dengannya!"
"Aku tidak tau apa aku siap jika harus berduel dengan Biantara!"
"Kemampuan sihir dan menggunakan senjataku sepertinya tidak akan bisa menandingi juara tahun kemarin itu!"
Lama kelamaan suara itu seperti dengung lebah yang sedang mencari makanan.
"Hargo Baratan benar-benar mencetak juara yang luar biasa," kata salah satu peserta yang ada di sebelah kiri Pandji.
Suara bisik-bisik di sekitar tidak membuat Pandji terpengaruh, dia tetap berdiri tenang walaupun Biantara sudah bersiap menyerangnya.
Beberapa saat berlalu, semua diam menunggu apa yang akan terjadi pada pandji atau Biantara. Tidak ada yang berani melihat dalam jarak terlalu dekat, hanya ada Paman Candika yang ada di antara mereka.
__ADS_1
"Jika kau membuat onar di sini aku tidak akan mengakuimu sebagai murid, Biantara! Kau juga tidak berhak membawa nama kesatrian, dan aku pastikan kau akan didiskualifikasi sebelum bertanding!"
Bian yang keras kepala masih saja arogan, dia hanya mengangguk ringan ke arah gurunya tanpa menurunkan mana sihirnya yang terlanjur memenuhi area.
Pandji menatap lurus ke arah Biantara dalam diam hingga akhirnya pandangannya tertutup punggung orang lain yang tiba-tiba berdiri di depannya.
Ayah Pandji dengan suara tenang berbicara pada Bian, "Mungkin kamu memang perlu diajari sopan santun oleh orang tua, Nak! Kamu boleh menyerang kapan saja kamu siap, biarkan pria lanjut usia ini saja yang menyambut salam sapamu!"
Paman Candika yang merasa tak enak hati memaksa muridnya untuk menurunkan emosi dan gengsinya, lalu dengan terburu-buru mendatangi Ayah pandji untuk meminta maaf.
"Saya pamit dulu, mohon maaf atas kelancangan Biantara. Saya akan mengajaknya pulang sekarang, monggo dilanjutkan pestanya!" ucap Paman Candika sopan pada Ayah Pandji yang hanya membalas dengan anggukan singkat.
Elok masih bengong dengan gelas penuh minum di tangannya, saat berpapasan dengan Pandji dia bertanya, "Apa Bian tidak apa-apa? Kenapa kamu masih sehat-sehat saja?"
"Apa kamu berharap Bian tidak apa-apa dan aku yang terluka?" tanya pandji sarkas.
Dengan bodohnya Elok mengangguk, "Aku khawatir pada Bian."
__ADS_1
Astaga … apa perlu kamu kubawa ke kamar Mika biar sekalian disembuhkan, Ibunda?
"Bian sudah pulang dengan Paman Candika, dia meninggalkanmu sendiri di sini. Sebaiknya kamu ikut aku bertemu Ibunda!"
Elok menggeleng keras, "Aku harus ke rumahnya memastikan Bian baik-baik saja. Dia tetanggamu, aku bisa jalan kaki ke sana."
Pandji yang merasa jengkel menarik tangan Elok dan menekan bahunya agak keras, teman kecilnya itu mengaduh dan limbung tak sadarkan diri seketika. Pandji membopongnya dan bersiap membawanya ke kamar Mika.
"Mas Pandji?" tanya Ratna dengan raut bingung. "Siapa perempuan itu?"
Wajah Pandji stagnan, dia merasa sedang kepergok berbuat yang tidak-tidak di depan calon tunangannya dan tidak bisa langsung menjelaskan.
"Ikuti aku ke kamar Mika, nanti aku jelaskan di sana!" pinta Pandji lembut.
Ratna Ayu menurut, tanpa membantah dan banyak bertanya lagi dia berjalan di belakang Pandji yang sedang tergesa. Dia tidak memahami kenapa ada dua perempuan cantik pingsan dalam jeda waktu yang tidak begitu lama. Keduanya pun sepertinya wanita yang dekat dengan Pandji.
Pesta masih belum usai, tapi Biantara sudah membuat keadaan menjadi tidak nyaman untuk peserta delegasi kesatrian lain. Banyak yang memilih pulang ke penginapan untuk beristirahat dari pada melanjutkan pesta penyambutan yang digelar mewah.
__ADS_1
***