
Pandji mengabaikan tata krama dan sengaja mengetuk pintu kamar orang tuanya di tengah malam. Dia sedikit kesal soal mimpi dan penasaran bagaimana Ayahandanya menyelamatkan dirinya dari godaan makhluk cantik yang memberikan iming-iming ilmu padanya.
Ayahnya keluar dengan mata merah dan tatapan tak percaya, "Ada apa, Mas? Ini bukan jadwal Ayah berjaga kan?"
"Pandji mau bicara, Ayah!" Mata Pandji melihat ke dalam tempat Ibundanya lelap, lalu menghembuskan nafas lega karena wanita yang melahirkannya tak merasa terganggu.
"Soal mimpimu?" tanya Ayahanda Pandji tanpa ekspresi. "Kita bicara di pendopo depan."
Pandji bukan orang yang bisa disuruh menunggu sampai besok, dia lebih suka mengganggu siapapun untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Jika tidak, dia akan nekat mencari dan berusaha menemukan sendiri apa yang menjadi ganjalan hatinya.
Netra Pandji sedikit berbinar, "Ayah mau kopi? Pandji akan membawanya ke depan."
Sedikit menimbang, Ayah Pandji mengangguk ringan. "Good idea, Boy!"
Pandji pergi membuat dua cangkir kopi susu dan membawanya ke halaman depan. Tidak seperti tadi sebelum keluar rumah, Pandji melihat Ayahnya memasang wajah serius padanya saat sudah duduk bersama di pendopo.
Wajah yang jarang sekali ditemukan Pandji pada saat biasa, dia hanya bisa membuat tebakan kalau Ayahnya sedang memikirkan hal buruk yang tidak diketahuinya.
"Apa yang ingin Mas Pandji tanyakan?"
__ADS_1
"Eh … anu tadi Pandji mimpi bertemu perempuan cantik, lalu saat masih mengobrol dengannya tiba-tiba bangun," ungkap Pandji singkat.
Dia yakin Ayahnya sudah tau apa yang terjadi padanya, pun Pandji malu menceritakan kalau wanita cantik yang ditemui dalam mimpinya itu mengajaknya membuat kesepakatan.
"Lupakan mimpi dan tawaran wanita gaib itu! Dia datang untuk menggodamu … dia sedang mencari pewaris ilmu hitam, mencari murid manusia berbakat yang mampu mengemban misi untuk menyelesaikan tugasnya di dunia."
"Hah? Pandji tidak mengerti, Ayah!"
"Ada kegelapan abadi yang sedang dibangun di dunia kita, Mas. Beberapa yang sudah Mas Pandji temui saat pertandingan adalah bukti bahwa mereka ada, seseorang telah membangkitkan ilmu sesat.
Ilmu yang menggunakan iblis sebagai perantara untuk masuk ke dalam tubuh manusia. Menguasai dari dalam dan akhirnya menghancurkan jiwanya." Wajah Ayah Pandji menunjukkan rasa khawatir saat mengungkapkan semua itu.
"Lalu hubungannya dengan wanita cantik itu apa, Ayah?"
Ramalan almarhum Mbah Joyo sepertinya akan menjadi kenyataan, kita akan bertemu dengan kegelapan yang berjalan di siang hari."
"Iblis dalam bentuk manusia?"
Ayah Pandji mengerutkan dahinya dan mengangguk pelan. "Tidakkah Mas Pandji merasakan perubahan udara di sekitar tempat tinggal kita?"
"Hawa jahat berputar-putar, mata yang selalu mengawasi dan aura gelap yang lebih pekat menggantung di udara sebelah selatan?
__ADS_1
Mika pernah coba mengintai dengan skill eyes, tapi ada selubung yang tidak bisa ditembusnya. Dia hanya bisa melihat makhluk itu jika sudah mendekam dalam tubuh manusia seperti Biantara." Pandji bersedekap dan menghadapkan wajahnya ke arah selatan.
"Biantara sedang dalam masa penyembuhan, tapi Ayah merasakan tidak ada lagi elemen kehidupan dalam diri pemuda itu."
"Artinya apa, Ayah?" Pandji tidak terlalu memperhatikan bagaimana mendeteksi aura kehidupan, dia selalu mengutamakan aura lain yang sifatnya aneh dan berbahaya.
"Kehidupannya sepenuhnya sudah diambil alih, dia hanya jasad tanpa jiwa. Pasukan yang disiapkan oleh Sang Pemimpin.
Seharusnya instingmu mengenai elemen kehidupan lebih tajam, Mas! Mereka sedang memanipulasi aura agar tersamar dalam tubuh manusia, memadamkan elemen kehidupan yang seharusnya ada dalam tubuh manusia secara perlahan."
"Bagaimana dengan Paman Candi?" Mendadak Pandji ingat, aura aneh yang terasa di kesatrian sama persis dengan aura wanita yang datang dalam mimpinya.
"Dia hanya ingin membesarkan kesatrian miliknya dengan ilmu sihir baru yang tidak dimiliki oleh kesatrian lain, jadi tawaran untuk ngelmu seperti yang barusan terjadi padamu sepertinya diterima baik olehnya. Menjadi budak iblis!
Nggak perlu terkejut! Orang punya alasan yang mungkin tidak logis dan motivasi apapun untuk mendapatkan kekayaan dan kejayaan."
Pandji mengangguk memahami, "Iya, Ayah … Pandji sudah membaca hal seperti itu di perpustakaan. Ehm … tapi ada sesuatu yang masih mengganjal pikiran Pandji, anu … apa Ayah penjelajah mimpi?"
Ayah Pandji tersenyum lebar, mengakui tapi tak menjawab secara langsung pertanyaan putranya.
Benar-benar keterlaluan, sudah kuduga kalau Ayah ternyata suka iseng ngintip privasi orang!
__ADS_1
***