
Tiga hari di dalam ruang perawatan rumah sakit ternama di tengah kota Yogya, Pandji hampir mati bukan karena lukanya tapi karena bosan yang melanda.
Bagaimana tidak? Kegiatannya sehari-hari hanya dihabiskan di atas tempat tidur. Dokter memberi maklumat agar Pandji cukup berbaring untuk meredakan bengkak kaki.
Ibunda yang diharapkan membantu untuk menolak apa kata dokter justru menyetujui, membuat peraturan keras kepada Pandji agar tidak banyak meninggalkan tempat tidur dan nongkrong di depan kamar untuk menggoda suster yang lewat.
Makin bosan lagi karena Pandji harus ikut menonton sinetron ku menangis saat bersama Eyang dan Atika, menonton drakor saat ditemani Ratna dan menonton acara gosip artis saat ditunggu Mika.
"Bisakah kita menonton acara yang lebih berguna, Eyang?" tanya Pandji kemarin.
"Tidak … tidak, ini ceritanya bagus. Suami yang berusaha menikah lagi, Yangyut suka!" jawab wanita sepuh itu antusias yang diikuti anggukan setuju Atika.
Di jam yang lain Ratna memuja aktor tampan dari Korea dan mengabaikan Pandji yang menggertakkan gigi karena merasa kalah tampan.
Sementara Mika mengikuti drama perselingkuhan artis dengan banyak komentar yang akhirnya membuat Pandji memilih tidur.
Kepalanya hampir meledak bukan karena pertarungan dengan Chimera yang menimbulkan banyak luka, tapi karena Ibunda yang biasa mengalah dengan acara televisi pun tak peduli dengan keinginannya menonton film action.
Remote dikuasai wanita yang melahirkannya dan dia dipaksa ikut menikmati acara masak bersama Chef Juna.
Alasannya sederhana, sekalian mengajari Gia agar familiar dengan kegiatan memasak di dapur.
Jika Ayahanda tidak segera mengurus kepulanganku, jangan salahkan aku kalau kabur dari ruang VIP ini ….
__ADS_1
"Bisakah Pandji pulang hari ini, Ibunda?" tanya Pandji dengan nada tersiksa.
"Kita lihat apa kata dokter, sepertinya kaki Mas Pandji sudah tidak bengkak. Bagaimana dengan luka punggungmu? Biar Ibunda lihat dulu!"
Ibunda Pandji memeriksa luka yang sudah mengering dan sembuh dengan cepat di seluruh tubuh Pandji. Wanita itu sama sekali tak merasa heran, karena selain ramuan racikannya, Pandji memiliki tubuh khusus dan mewarisi sedikit darah penyembuh darinya.
"Sudah sembuh semua kan? Pandji merasa sehat sekali jadi untuk apa lama-lama tinggal di sini? Biayanya mahal …," gumam Pandji seolah dia saja yang akan mengeluarkan uang untuk tagihan rumah sakit.
Ibunda Pandji tersenyum lembut dan mengusap kepala putra sulungnya. "Kita tunggu Ayahanda datang, setelah itu baru bisa diputuskan kapan Mas Pandji pulang."
"Pandji sudah tidak sekolah tiga hari, Ibunda. Pandji kangen sama teman-teman!"
"Teman yang mana? Radit, Elok dan beberapa teman dekat Mas Pandji kan sudah datang kemarin."
Ibunda Pandji tergelak, "Kalau soal itu yang dipanggil ke sekolah Mas Pandji kan Ibunda."
"Kalau gitu … Pandji ingin bicara dengan dokter saja sekarang, Ibunda!"
"Mas Pandji …."
Ditatap Ibundanya dengan tekanan lembut, Pandji diam tak berani membantah. "Pandji mau makan keripik apel, Ibunda."
Pandji mengunyah keripik apel sambil menatap jam yang dirasanya bergerak lebih lambat dari seharusnya. Mulutnya yang ingin protes dijejali dengan makanan agar tak bersuara dan membuat Ibundanya tak suka.
__ADS_1
Dua jam yang menyakiti dan memberikan tekanan bosan pada Pandji akhirnya akan segera berakhir. Ayahandanya datang dan sedang berbincang serius dengan seseorang di depan kamar.
Pandji tidak mendengar perbincangan tersebut dan juga tidak ingin mencuri dengar. Dia hanya mengenali lewat aura kalau yang sedang mengobrol dengan Ayahnya adalah Paman Candi.
Kenal baik sejak kecil membuat Pandji mudah mengenali aura dasar milik pria yang sekarang sedang dicurigainya.
Meskipun auranya bercampur dan terasa gelap, tapi ada dasar yang tetap bisa dirasakan saat Paman Candi ada di dekatnya.
Pandji tersenyum tanpa membuat lengkungan di bibir, "Hai Dad, Hai Paman!"
Ayahnya hanya mengangkat alis sedikit, "Siap untuk pulang?"
Senyum yang hanya segaris itu berubah menjadi lebar dan penuh semangat, "You're the best, Daddy."
"Mau makan di rumah Paman? Tante Risa masak spesial untuk kamu hari ini, khusus untuk menyambut kepulangan Mas Pandji." Paman Candi berbicara dengan ramah seperti biasanya.
"Ayah?" tanya Pandji bingung.
"Kita akan makan siang di rumah Paman Candika, kasihan Tante Risa udah masak banyak. Sekarang ayo bersiap pulang!"
Apa Ayah tidak salah bicara? Atau aku yang salah dengar?
***
__ADS_1