
Pandji mengubah sisa tenaga dalamnya menjadi energi dingin luar biasa, mengalirkan ke Damar Jati yang berada di tangan kanannya dan bersiaga penuh.
Dia menghadapi Chimera yang berdiri sendirian. Makhluk besar yang akan mengambil tubuhnya dan menyerahkan kepada junjungan tertinggi.
Semburan api pertama dari mulut kambing betina dihindari Pandji dengan mudah, begitu pula dengan beberapa semburan susulan.
Udara yang awalnya normal mendadak menjadi panas karena api yang keluar dari mulut dan hidung makhluk yang kadang berganti dengan kepala singa itu membakar tempat mereka bertarung. Menciptakan dinding api lebih tebal.
KLANG!!!
Sabetan Damar Jati yang berada di tangan kanan Pandji ditangkis dengan kuku tajam Chimera, meski selamat tapi kuku tersebut langsung berubah menjadi biru dan berderak patah.
Pandji pun telat menghindar, sehingga bajunya yang terkena semburan api mulai terbakar. Dia reflek membekukan udara untuk memadamkannya.
Mulutnya berteriak mengumpat, “Damar … aku tidak mungkin bertarung dalam keadaan telanjang! Dan kau Asih, bisakah kau tak melihat hal memalukan ini?!”
Dengan kesal Pandji melempar bajunya yang hampir habis terbakar, dia hanya memakai celana yang sudah tak berbentuk.
Damar Jati yang sedang serius hampir meledak tertawa, bisa-bisanya tuan sembrono masih memikirkan malu dibandingkan memikirkan nyawanya.
"Sendiko, Mas Pandji." jawab Asih serius.
__ADS_1
Pandji memutar pedang biru untuk mendinginkan udara yang terus memanas melepuhkan kulit manusia. Memadamkan api dengan udara beku yang diciptakan dengan mana yang sudah sangat tipis.
Mendongak sebentar, Pandji kembali menangkis terkaman dan semburan api dari mulut bayangan yang kini menyerupai kepala singa.
Sesekali ujung pedangnya juga menggores makhluk hitam besar yang tak sedikitpun merasa lelah.
Meski cakarnya hampir buntung semua, Chimera lebih banyak menggunakan mulut dan hidung untuk membakar kulit putih Pandji.
Jika Ibunda tau hal ini, Beliau pasti akan mencacahmu dengan pisau dapur! Mengertilah ... kulit ini warisan dari Ibuku, dan kupastikan Beliau tidak suka warisannya dirusak makhluk buruk rupa sepertimu!
Chimera melompat tinggi dan menerkam Pandji yang lengah, tapi Pandji masih sempat menghindari taring tajam yang nyaris menancap pada bahunya.
Pandji jatuh telentang dengan siap diterkam kembali, tanpa mengubah posisi Pandji merapal mantra dan mengerahkan mana sihir yang baru sedikit terkumpul untuk menciptakan petir.
Petir biru yang turun dari langit menyambar punggung bawah makhluk yang sedang melompat untuk menerkamnya.
Pandji membelalakkan mata karena petir birunya tak menjatuhkan ataupun menghentikan makhluk yang sudah terluka parah itu.
Ketika Pandji sudah pasrah dengan nasibnya, dia berusaha berdiri dengan hanya kekuatan manusianya untuk tetap bertarung, Chimera itu tiba-tiba jatuh berdebam.
Tombak hitam menancap tepat di tengah kepala, di antara kedua mata yang melotot tak percaya kalau kepalanya meledak begitu saja.
__ADS_1
Angin dingin menyapu tubuh yang berubah menjadi asap hitam dan satu lolongan mengerikan membuat sisa makhluk yang masih ada di sekitar Pandji menghilang melarikan diri.
Dinding api tak lama padam karena hembusan angin yang keluar dari mulut naga yang ditunggangi oleh pria dengan postur tubuh mirip Pandji.
Seseorang yang sangat Pandji kenal auranya mengambil tombak dan menyimpan senjata pusaka itu di punggung. Hampir sama dengan gaya Pandji.
Pria itu menyapa dengan senyum lebar, “Apa Ayah terlambat?"
Pandji ingin mengangguk dan mengutuk, tapi dia justru menggeleng ringan. "Terima kasih bantuannya, Ayah! Tapi Pandji tadi sudah hampir mengalahkan makhluk ke*parat itu."
" … " Ayahanda Pandji menatap putranya yang membungkuk seraya memegangi perut.
"Hoek …." Pandji bukan muntah darah, tapi mengeluarkan seluruh makan malamnya. "Pandji mual dan pusing … tapi Pandji tadi masih bisa menjatuhkan Chimera itu dengan satu pukulan terakhir, hanya butuh satu kali lagi … hoek, hoek!"
"Oh jadi maksud Mas Pandji itu ... Ayah mencuri last hit?"
Astaga … apa ini benar anakku dan Selia? Perangainya?
“Hm … iya, kalau dalam game that's mean you're cheating me, Dad!" (Ayah mencurangiku!)
Ayah Pandji berdecak, “Sebaiknya Mas Pandji pulang sekarang, Ibunda sudah menunggu! Ayah berfirasat mereka akan mengatur siasat untuk segera mendapatkanmu, apalagi Ayah sudah membunuh satu dari tujuh panglima pasukan."
__ADS_1
Pandji mengangguk, memanggil barion untuk pulang dan melompat ke punggungnya, memerintahkan untuk berlari cepat menembus dimensi mengejar naga yang terbang secepat kilat.
***