SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 71


__ADS_3

Pandji merendam dirinya di tempat mandi kuno yang biasa dipakai Ibundanya. Ramuan yang dibubuhkan ke dalam air hangat perlahan mengembalikan energi Pandji yang terkuras habis.


Pemuda dengan ekspresi mengantuk itu memejamkan mata, merelaksasi tubuh dan pikiran setelah melewati hari yang berat.


Minuman herbal yang disediakan Atika di dekat Pandji diminum dengan gaya malas. Dia tau ada efek bagus dari potion racikan keluarga Abisatya, tapi dari segi rasa ... Pandji sama sekali tidak menyukainya.


"Apa aku bisa minta jus jeruk?" tanya Pandji tak membuka matanya.


Atika yang menunggu Pandji berendam tersipu, meski tidak dalam satu ruangan tapi menemani Pandji yang sedang mandi sambil membaca majalah tak urung membuat konsentrasinya buyar.


Wajah Pandji yang pasti sedang bosan, rambut basah berantakan dan dada tak tertutup kain sangat mengganggu pikiran Atika.


"Iya … apa Mas Pandji mau dibawakan yang lain?" Atika berdiri siap meninggalkan tempat duduknya.


"Aku ingin membaca buku, tapi aku malas membuka mata. Kamu mau membacakannya untukku? Kalau iya … ambil di rak buku bagian atas, judulnya sihir teleportasi. Kalau kamu keberatan cukup bawakan aku jus jeruk saja!"


Memikirkan portal besar yang sedang terbuka dan proses penyebrangan berbagai bentuk iblis ke dunianya, membuat Pandji merasa harus membaca ulang buku sihirnya.


Buku yang mengulas perpindahan berbagai elemen memang tidak dibaca Pandji secara detail, dia hanya mempelajari sebagian sesuai kebutuhan, dan seperti biasa ... itu membuat Pandji jadi sangat penasaran.


"Perpustakaan?" Atika tidak yakin apa dia bisa menemukan buku yang dimaksud Pandji di antara banyaknya buku di tempat Pandji suka mengurung diri itu.

__ADS_1


"Kamar," jawab Pandji singkat.


Atika melangkahkan kaki, pergi membuat minuman untuk pemuda yang sedang menenggelamkan diri dalam air berbau rempah aroma terapi.


Kembali ke tempat Pandji, Atika hanya membawakan jus pesanan Pandji. "Mas … Ibunda bilang ada tamu sudah menunggu dari tadi."


Pandji membuka sebelah matanya, menerima gelas penuh cairan kuning dan menenggaknya habis. "Siapa? Ada apa mencariku malam-malam begini?"


"Sore tadi Mas Aswanta sudah kesini, tapi karena mas Pandji keluar sama Mbak Mika jadi Ibunda meminta untuk datang pas makan malam," tutur Atika sopan. Wajahnya sama sekali tidak terangkat saat bicara dengan Pandji.


"Tik … kamu kalau ngomong sama orang biasain jangan lihat lantai bisa nggak?"


"Tapi … Mas Pandji kan nggak pakai baju," jawab Atika menahan suaranya agar tidak terkesan aneh didengar.


Pandji keluar dari tempatnya berendam setelah Atika meninggalkan ruangan, mengeringkan badan dan memakai baju santai untuk bertemu sahabatnya.


Aswanta tersenyum lebar melihat Pandji yang menyambut muram kedatangannya, "Aku datang memenuhi undanganmu, Sobat!"


"Undangan? Aku tak mengundangmu makan malam di sini, Apa di rumahmu tak ada makanan?" tanya Pandji menaikkan sebelah alisnya.


Tawa Aswanta meledak, "Aku tak mungkin melewatkan masakan Ibundamu, Pandji. Makan malam di sini terlalu spesial untuk kutolak. Lagipula kau menjanjikan ramuan herbal untuk mengobati lukaku kan?"

__ADS_1


"Hm … sore tadi Ibunda belum memberikan potion penyembuh?" Pandji menatap skeptis sahabatnya, tidak mungkin Ibundanya diam saja melihat kondisi Aswanta yang babak belur. "Ada yang ganjil … kau terlihat sehat dan bersemangat!"


"Tentu saja sudah, aku langsung meminumnya sore tadi. Lihatlah! Bengkak di wajah dan lebam tubuhku hilang … hanya menyisakan sedikit rasa sakit,” jawab Aswanta cengengesan.


"Jadi motif mu datang selain makan malam apa?" selidik Pandji dengan ekspresi berbahaya.


"Hehe … aku ditolak Prameswari."


"Lalu hubungannya apa denganku?" Pandji mengambil toples berisi keripik nangka di depannya dan mengunyahnya perlahan. Matanya menyorot Aswanta dengan curiga.


Aswanta masih juga tersenyum aneh, “Aku mau minta tolong pada Ayahandamu!”


“Oh … jadi kedatanganmu ada urusan dengan Ayahku? Kenapa Ibunda bilang kau mencariku?!”


“Aku jelas nggak berani langsung bicara pada Ayahmu, Sobat! Itu pasti melalui anaknya, mentalku tak cukup kuat jika harus menghadap sendiri ….”


Pandji mengernyit, “Langsung saja jangan berbelit-belit!”


"Aku butuh pengasihan untuk mendapatkan Prameswari,” ucap Aswanta dengan cengiran polosnya.


“Uhuk … uhuk ….” Pandji tersedak keripik buah hingga matanya berair.

__ADS_1


***


__ADS_2