
Maksudnya apa nih? Aku disuruh latihan dan dia belajar pacaran?
Mika mendengus kesal, dia pergi ke lapangan dengan hati mendongkol. "Kalian nunggu apalagi?"
Tiga pemuda yang diteriaki Mika langsung menghambur ke arah lapangan, menghunus senjata ke arah Mika dan siap bertarung.
"Jangan sungkan, Kak!" Tirta dengan gaya sembrono langsung maju menyerang Mika dengan pedangnya.
Aswanta yang berada dalam jangkauan Mika langsung menghindari dua belati yang tadinya mengarah padanya. Dia memang sengaja ingin memakai beladiri tangan kosong dan itu jadi kesempatan Mika untuk memburunya di awal latih tanding.
TRANG!!! TRANG!!!
Suara logam nyaring terdengar dari belati Mika yang beradu dengan pedang Tirta yang menangkisnya telak karena ingin melindungi Aswanta.
Waktu berlalu dengan cepat, Aswanta dan dua temannya yang gigih ingin menumbangkan Mika dengan cepat masih belum terlihat hasilnya meskipun mereka sudah menyerang dengan formasi berimbang dan apik.
Mahesa menunjukkan kemampuannya melindungi dua teman yang bertarung bersamanya. Bakat tersembunyi miliknya bangkit, perisai tubuh berwarna kuning menyelimuti tiga pemuda yang mengelilingi Mika.
Belati tajam Mika beberapa kali menyentuh selubung kuning tersebut, tapi tidak mampu merobeknya, ujung belati seperti hanya menembus kapas tebal.
"Keluarkan kemampuanmu, Tirta! Kau diberi nama Tirta itu ada alasannya kan?" tantang Mika dengan seringai sadis
__ADS_1
"Guru … apa aku boleh memakai jurus warisan keluarga? Aku belum pernah menggunakannya lagi semenjak sepuluh tahun lalu saat aku tak sengaja melukai Gendhis, kakakku!"
Aswanta menggertakkan gigi pada pemuda konyol yang tak berhenti memanggilnya Guru, "Lakukan perintah Mika sekarang!"
Gerakan pedang Tirta mendadak berubah lentur seperti ombak, awalnya tenang lalu menderu keras seperti suara gelombang air memecah karang. Tirta mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga ke arah Mika.
Salah satu belati Mika menyala lebih terang daripada yang lain saat menghadang pedang yang hampir membelah tubuhnya.
KLANG!!! BRET!!!
Benturan kedua senjata tidak bisa dielakkan, meski bisa menangkis dengan baik tapi sapuan angin dari pedang Tirta tetap menghantam sisi tubuhnya dan mengoyak sedikit bajunya. Rasanya seperti dihempas ombak dengan sangat kuat.
Pandji bertepuk tangan melihat pertandingan seru satu wanita banding tiga pria yang cukup berimbang. Kadang Mika terlihat terdesak, tapi masih mampu menahan semua serangan ketiga lawannya.
“Kau menahan diri, Aswanta!” teriak Pandji tidak suka.
“Aku tidak ingin melukai kakakmu, Sobat!” pekik Aswanta tak acuh.
“Aku yakin kau yang akan terluka … kau hanya belum tahu bagaimana cantiknya iblis yang ingin merasuki Ratna!"
"Eh … apa kau serius, Sobat?" tanya Aswanta lengah.
__ADS_1
Benar saja, Aswanta sudah terbanting keras karena tendangan Mika pada perutnya. Aswanta mengaduh memelas, "Untung masih selamat dari sabetan belatinya!"
Mika mendengus dingin tak peduli, dia sibuk mematahkan sapuan pedang Tirta yang datang seperti gelombang air bah.
Pemuda konyol ini ternyata penuh kejutan!
Sementara untuk menjangkau Mahesa yang tepat berada di depannya masih belum bisa dilakukan Mika karena perisai aneh Mahesa yang terus saja menghalangi.
Pandji melihat ke angkasa, ke arah bulan redup yang beberapa hari lagi mungkin akan bundar sempurna.
Pemuda tampan itu memperhatikan Aura gelap yang menggantung di bawah bulan semakin besar, seperti awan bertumpuk yang siap berubah menjadi hujan kapan saja.
Udara dingin yang menyakiti kulit Pandji makin terasa menusuk ibarat sengatan lebah di seluruh bagian tubuhnya yang tidak tertutup kain.
Pandji memperbaiki duduknya ke posisi lotus, “Aku tidak ingin diganggu, Atika! Sampaikan itu nanti pada mereka jika latihan sudah selesai!”
Atika mengangguk kaku dan tersenyum manis, "Iya, Mas!"
Pemuda berwajah mengantuk itu memejamkan mata bersamaan dengan aura hitam yang melengkung membentuk lingkaran besar dengan bulan sebagai pusatnya.
Bulan redup dengan cincin besar hitam melingkar di sekelilingnya terlihat mistis menerangi kota Yogya.
__ADS_1
***