
Pandji meletakkan tangan kanannya di atas kepala Ratna, menggumamkan mantra dan mengalirkan mana melalui telapaknya ke seluruh tubuh gadis di depannya.
Iblis cantik dalam tubuh Ratna menggeram marah, merasa sesak dan tidak bertenaga. Belum pernah sekalipun dia tampil selemah itu di hadapan manusia.
Berada dalam tubuh Ratna tidak sama dengan saat dia menguasai putri Candika, jiwa Ratna selalu berusaha bangun untuk mengusirnya meskipun iblis itu sudah menekannya hingga ke dasar.
Aura pemuda di depannya sangat mengintimidasi, menyebabkan dirinya batuk-batuk karena tidak tahan dengan sakit di sekujur tubuh.
"Keluarlah!" desis Pandji dengan mata dingin menusuk penglihatan Ratna.
Seketika, tubuh yang tak mampu bergerak itu bergetar hebat. Iblis dalam tubuh Ratna memberontak, rasa panas dan terbakar menjalar ke setiap titik syaraf.
Rasa seperti diikat tali tak kasat membuat raungan Ratna hanya seperti gumaman rendah. Juga ada tangan kuat yang coba menarik iblis itu keluar dari tubuh yang ditempatinya.
Iblis dalam tubuh Ratna pun berteriak dan menjerit marah.
Jiwa Ratna menguat, berusaha mengambil kesadarannya bersamaan dengan suara Pandji yang terngiang kabur di telinganya. "Ratna … bangunlah!"
__ADS_1
Kata itu terekam dengan baik, berulang-ulang didengar Ratna seperti alarm yang lupa dimatikan.
Iblis dalam tubuh Ratna tak ingin kalah, dia juga berusaha menekan Ratna agar tetap terinjak dibawah kendalinya.
Pandji mencengkeram leher Ratna, "Kau tau apa yang akan terjadi jika kau menyakiti gadis ini, iblis sialan? Tiap rasa sakit yang diderita calon tunanganku akan kau bayar dengan penyesalan yang amat dalam!"
Ratna menyeringai, mewakili iblis yang mengambil tubuhnya. "Kau bahkan tidak mampu mengeluarkan aku dari sini, Cah bagus! Tawaranku tidak berubah, aku bisa menggunakan tubuh ini untuk menyenangkanmu!"
Cekikan pandji menguat, mana dari tubuhnya mengalir deras berbenturan dengan energi iblis yang juga tak kalah besar.
Seketika barrier yang mengurung mereka berdua runtuh, Pandji mundur satu langkah untuk mengatur ulang mana.
Iblis cantik itu tak berniat meladeni Pandji bertarung, dia ingin melarikan tubuh Ratna sebagai sandera, sebagai jaminan agar Pandji tetap memberikan buku sihir hitam meskipun dia sudah menyalahi aturan dengan membantu Badrika menghabisi ayahnya Candika yang telah berkhianat.
Iblis cantik itu lari ke balkon kamar dan terjun ke tanah menyongsong pasukan yang akan mengamankannya untuk melarikan tubuh Ratna, tapi Pandji yang sudah waspada mengejar dengan mudah.
"Aku tidak berniat melukai wajah tampan ataupun merusak tubuhmu, Cah bagus! Aku hanya perlu memastikan kalau kita masih punya kesepakatan," ujar Ratna sinis.
__ADS_1
"Hm … setelah kau menyalahi aturan? Itu mustahil aku kabulkan!" sarkas Pandji dengan seringai bengis.
Sebelum gadis di depannya pergi Pandji kembali menciptakan barrier pelindung untuk mereka berdua. Cahaya hijau kebiruan memancar jauh lebih terang, menandakan Pandji melapisi dengan banyak energi.
Ratna mendongak sebentar, lalu melihat Pandji dengan mata yang hampir seluruhnya berwarna putih, tubuhnya melepas energi hitam yang sangat pekat.
Mana sihir pandji meruap seketika, menghadang pusaran energi yang akan menghempaskan apa saja, bagai topan menyapu daratan.
BLAR!!!
Barrier pelindung Pandji bergetar, tapi masih kokoh memisahkan mereka berdua dari kawanan maroz yang mengelilingi tanpa berani mendekat. Menunggu perintah dari iblis wanita yang ada dalam kurungan bersama Pandji.
"Hancurkan kubah pelindung ini sekarang juga!" teriak iblis wanita.
Serentak seluruh kawanan hewan ganas melolong panjang dan mulai menerkam pagar pelindung. Menabrakkan diri dengan segenap energi yang mereka punya.
***
__ADS_1