SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 128


__ADS_3

Pandji meminta Mika menepi dan memarkir mobil di dekat keramaian, di salah satu pasar tradisional di kota Jombang.


Setelah terjadi perbincangan panjang dengan keluarganya, Pandji dan timnya diberikan izin untuk melakukan penyelidikan di Jawa Timur.


Oma Pandji memiliki firasat kalau basis kekuatan gelap berada di kota tempat Pakde Karman dulu membuka praktek. Meski tidak berada di lokasi yang sama, tapi kemungkinan tidak akan keluar dari kota tersebut.


"Kok disini, Mas?" tanya Mika heran. Dia melihat pemuda yang dari sejak berangkat banyak diam itu dengan ekspresi penuh tanya.


"Kita ngopi sebentar, ngantuk!" jawab Pandji monoton, menguap lebar lalu bersiap turun sambil menenteng tas kecilnya secara serampangan. "As … cari tahu warkop paling ramai pengunjung ya! Kita nongkrong di sana aja!"


Aswanta berdehem lalu mengeluarkan sebaris kalimat tanya, "Warkop … warung kopi? Ini aku yang salah dengar apa kamu yang salah bicara, Sobat?"


Tirta menyahut dengan wajah jenaka, "Yang penting bukan warung koprok!" (permainan dadu kocok)


Mahesa tertawa masam, "Kau biasa jadi bandar ya … kok bisa tau main dadu koprok?"


"Guru, apa wajahku cocok jadi dewa judi? Aku merasa keren seperti Chow Yun-fat saat bermain God of Gamblers," tanya Tirta pada Aswanta yang memperhatikan dengan jeli wajah konyolnya. "Tapi aku belum pernah berjudi, apalagi jadi bandarnya!"


"Aku rasa kau lebih mirip Stephen Chow!" sahut Pandji datar. "Seniman bela diri!"


"Hm … kau benar, Sobat! Jadi kita serius akan ke warkop nih? Bukan tempat ngopi kekinian yang biasa kita kunjungi di mall?" tanya Aswanta memastikan keinginan Pandji sebelum pergi bertanya pada tukang parkir.


"Ya, sekalian belilah koran lokal beberapa biji yang mengulas banyak kejadian di Jawa Timur, kalau bisa koran kemarin dan sebelumnya juga buat bacaan sambil minum kopi." Pandji mengedikkan kepala ke arah tukang koran yang sedang menawarkan dagangan yang sudah kadaluarsa karena kesiangan.

__ADS_1


Aswanta sebenarnya tidak mengerti tujuan Pandji, tapi dia mengangguk dan mengacungkan ibu jari saat melangkah pergi. "Siap!"


Sambil menunggu Aswanta kembali, Pandji membeli jajanan pasar pada nenek tua yang memperhatikannya tanpa henti dari sejak turun dari mobil.


"Beli apa, Cah bagus?" tanya nenek tua tanpa berkedip menatap Pandji.


"Semua, Mbah!" jawab Pandji dengan sangat sopan. Dia berjongkok memperhatikan satu-persatu dagangan yang yang seharusnya sudah habis dari pagi. Mungkin si nenek sedang tidak beruntung pagi tadi.


Dengan tangan gemetar nenek tua membungkus dan memasukkan seluruh dagangannya yang ada di atas tampah ke dalam kantong plastik. "Cah bagus mau kemana? Sepertinya bukan orang sini."


"Saya sama teman-teman mau jalan-jalan, Mbah. Tapi belum tau kemana tujuannya … apa Mbah tau saya harus pergi kemana?" tanya Pandji dengan segaris senyum menawan. Tidak melupakan adab berbicara dengan halus kepada orang tua.


Elemen kehidupan milik nenek tua terlihat unik di mata Pandji, bukan kuning murni seperti umumnya, tapi agak kemerahan. Seseorang yang memiliki darah penyihir murni.


" … " Pandji mengangguk membenarkan, firasatnya juga mengatakan demikian meski dia belum merasakan aura gelap yang beberapa waktu lalu menggantung di bawah langit Yogya.


"Asalnya dari mana, Cah bagus?" tanya nenek dengan kerutan makin banyak di dahi sesaat setelah menatap Pandji cukup lama.


"Saya dari Yogya, Mbah!" jawab Pandji seraya mengulurkan beberapa lembar uang kertas.


"Cah bagus, kembaliannya! Ini terlalu banyak … banyak sekali buat Mbah!" Suara nenek sedikit keras saat memanggil Pandji yang membayar dengan uang berlebihan.


" … " Pandji hanya tersenyum saat menanggapi, menghampiri Aswanta yang sudah kembali dari membeli koran dan pergi bersama teman-temannya ke warung kopi.

__ADS_1


"Hati-hati, Cah bagus! Selatan itu tempatnya bahaya!" ucap nenek itu lirih. Suara mistis yang hanya didengar oleh Pandji.


“Sebenarnya kau butuh apa, Pandji?” tanya Mahesa bersuara pelan. “Untuk apa kita ke warung kopi yang isinya cuma bapak-bapak dan pekerja pasar?"


"Apalagi kalau bukan untuk informasi," jawab Mika kalem. "Bukan begitu, Mas Pandji?"


"Bukan," jawab Pandji santai. Tidak memperdulikan Mika yang menatapnya dengan menahan segala emosi.


“Lalu untuk apa?” tanya Mika penasaran.


"Mendengarkan orang bergosip!"


"Apa bedanya dengan mencari informasi?"


"Kita tidak perlu bertanya apa-apa pada orang yang ada di sana!"


"Malu bertanya sesat di jalan, Sobat!" ujar Aswanta yang sedari tadi menyimak obrolan.


"Banyak bertanya itu memalukan, Guru! Kita jadi kelihatan bodoh nanti," celetuk Tirta mengusap pipi tirusnya.


"Banyak bertanya membuat orang curiga pada kita!" jawab Pandji menutup percakapan karena langkah mereka sudah sampai di pintu warung kopi yang sedang ramai. "Jaga kelakuan kalian, kita sedang di wilayah orang!"


***

__ADS_1


__ADS_2