SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 142


__ADS_3

Mas Gun memiliki rapalan mantra untuk membuka portal kecil dan menyeberangkan iblis dari dimensinya ke dunia manusia. Untuk melakukan pekerjaan besar itu Mas Gun harus mengumpulkan extra mana sihir di dalam dirinya.


Beberapa hari lalu dia dan teman paranormalnya menghabiskan seluruh tenaga untuk membuat jalur cepat membuka portal, akibatnya tekanan dalam tubuh karena penggunaan tenaga yang melewati batas sedikit merusak harmoni tubuhnya.


Jika sudah begitu keadaannya, menyesal sudah tidak berguna. Menghadapi Ayah Pandji sekarang disadari Mas Gun sebagai tindakan mengantar nyawa, tapi lari pun jelas tidak mungkin. Pertama, pria muda di depannya pasti bisa menyusulnya. Kedua, Mas Gun tidak tega meninggalkan Dirga dalam kuasa Nergal.


Pelariannya pasti akan membuat Nergal murka. Pangeran iblis itu tidak punya rasa belas kasih padanya dan menghilangkan nyawa Dirga bagi Nergal semudah mencabut satu rambut dari batok kepala. Mas Gun sungguh dalam dilema.


Membaca pikiran Mas Gun membuat Ayah Pandji merasa iba. Dia juga seorang ayah, dan tidak ada seorang ayah yang akan begitu tega mengorbankan putranya. Kalau bisa memilih, Mas Gun ingin melakukan pertukaran nyawanya untuk keselamatan Dirga.


"Ada apa, Pak Tua? Semangat bertarung mu menurun tajam, apa kau tidak ingin membalas kematian Andara dan semua teman paranormal yang sudah lebih dulu ke alam baka?" Ayah Pandji menaikkan satu alis sambil menyilangkan trisula di depan dada.


"Aku sangat ingin melakukannya, tapi membunuh kau dan anak dengan dua pedang itu bukan perkara mudah bagiku. Aku mengaku kalah dan aku ingin membuat perjanjian denganmu!" Mas Gun menurunkan ego hingga ke dasar.

__ADS_1


"Aku tidak berminat bekerja sama dengan manusia pengabdi iblis," tukas Ayah Pandji cepat.


Mas Gun menatap ke arah pertarungan Pandji dan Dirga sesaat lalu berbicara dengan intonasi tegas. "Aku bersedia menjadi budak keluargamu seumur hidup asalkan pemuda yang sedang bertarung dengan Nergal itu tidak melukai tubuh putraku. Jangan biarkan anakmu membunuh pemuda tak bersalah, Dirga tidak tahu menahu soal kegelapan dunia ini, dia pemuda yang lurus!"


"Umurmu hanya tinggal sejengkal, Pak Tua! Mana mungkin kau bisa bekerja padaku dengan tenaga renta itu? Lagi pula aku tidak mungkin membahayakan keluargaku dengan memelihara musuh dalam selimut seperti dirimu. Aku sama sekali tidak percaya dengan omong kosongmu!"


Ayah Pandji mendengus kesal. Mas Gun memang menyayangi Dirga, tapi tidak ada ketulusan saat mengatakan ingin mengabdi padanya, masih penuh dengan pikiran picik dan culas.


Wajah Mas Gun memerah, belum pernah dia dihina oleh orang yang jauh lebih muda darinya. Penolakan Ayah Pandji membuat seluruh tubuhnya bergetar lalu selarik gelombang berwarna hijau pekat keluar dari ujung keris Mas Gun, meliuk seperti ular dan menyambar Ayah Pandji seperti kilat.


Ayah Pandji tidak menghindar, tapi membiarkan dirinya tersapu gelombang kejut yang cukup besar. Dinding pelindung tubuhnya seketika hancur, dan efek getarannya dengan hebat masuk ke dalam aliran darah. Pria muda tersebut tetap berdiri tegak dengan seulas senyum tipis meskipun dadanya bergemuruh panas.


"Kau …!" teriak Mas Gun geram. Kubah lanjaran pelindung badan Ayah Pandji memang runtuh, tapi kekuatan yang dilepaskan Mas Gun tidak melukai kulit apalagi sampai menimbulkan luka dalam pada musuhnya. Mas Gun merasa sia-sia menggunakan jurus terakhirnya.

__ADS_1


"Kau kehabisan tenaga dan waktu, Pak Tua!" Ayah Pandji menyeringai serius.


Tidak menggubris ucapan Ayah Pandji, Mas Gun melakukan perlawanan dengan brutal. Tenaga dalamnya dipompa ke batas maksimal dan perpaduan serangan tangan kosong dan kerisnya menderu dahsyat.


Beberapa kali Mas Gun mampu menyentuh tubuh Ayah Pandji, tapi hanya membuat luka ringan yang masih bisa ditahan. Ayah Pandji masih bergerak lincah sementara Mas Gun mulai melemah hingga akhirnya perbedaan kekuatan begitu nyata terlihat.


Ayah Pandji baru saja akan membuat tebasan panjang melintang untuk mengakhiri pertarungan saat keris Mas Gun menancap lebih dulu ke dalam perutnya. Mas Gun mengakhiri hidupnya sendiri sebelum trisula Ayah Pandji menyentuh tubuhnya.


Darah segar keluar dari perut dan mulut Mas Gun, tubuhnya sempoyongan dan tak lama jatuh dalam posisi berlutut. "Selamatkan Dirga! Berjanjilah pada orang yang sedang sekarat ini, Alaric putra Dinara … keponakan kesayangan ayah! Saudaraku … jangan biarkan Pandji mengambil nyawa putraku! Aku sudah …."


Kalimat Mas Gun menggantung bersamaan dengan ambruknya tubuh ke tanah, nyawanya lepas setelah menitipkan putranya yang tidak tau apa-apa pada keluarga jauhnya.


Ayah Pandji tercekat sejenak lalu mengusap peluh yang membasahi wajah. Pria muda itu mendekati jasad Mas Gun dan mencabut keris yang masih menancap di perut, menggenggamnya erat lalu menatap sendu pada raga tanpa jiwa di depannya.

__ADS_1


"Aku tidak berjanji, tapi akan aku usahakan putramu bisa selamat!" jawab Ayah Pandji dalam gumaman datar.


***


__ADS_2