
Langit biru tanpa awan berangsur-angsur menjadi kemerahan, menandakan senja telah tiba.
Pandji menyeka keringat yang membasahi kening dan masuk ke dalam rumah induk. Latihan singkat bersama Mika hanya untuk melemaskan sarafnya yang tegang.
Hari terberat yang pernah dilewati Pandji baru saja berakhir satu jam yang lalu. Beban mentalnya meningkat seiring duka sembilan nyawa mantan murid Paman Candika yang meregang nyawa di halaman rumahnya.
"Kamu ingin mandi? Aku akan membantu menyiapkan kebutuhanmu," tanya Mika peduli. "Perbanmu juga perlu diganti!"
Pandji menyeringai aneh, "Biar Atika saja yang melakukannya, istirahatlah!"
"Aku heran … kenapa kamu lebih suka dilayani Atika sih?" tanya Mika dengan mimik tidak suka. Dia tidak menyangka niat baiknya ditolak cepat oleh pemuda yang lengannya mulai meneteskan darah lagi.
Bukan Pandji lebih suka dilayani Atika, memang itu sudah menjadi tugas perempuan muda yang kebetulan bekerja sebagai abdi dalem keluarganya.
"Aku tidak mau dimarahi Ibunda, beliau akan menjewer telingaku kalau sampai tahu kalau kamu jadi Atika! Tante Lucia juga pasti tidak akan suka jika kamu melakukan pekerjaan abdi dalem," ujar Pandji datar.
"Kamu tetap saja nggak akan mengerti …!" kata Mika menahan kesal dan pergi meninggalkan Pandji yang menatap punggungnya skeptik.
Wanita sungguh sulit dipahami, lagian cuma nyiapin air mandi saja kenapa harus rebutan? Jadi bagian mana yang aku tidak mengerti?
Pandji mengedikkan bahu tidak peduli, dia pergi membersihkan diri seperlunya tanpa merepotkan orang lain. Duduk bertelanjang dada sambil melihat Raksa memainkan stik playstation melawan Gia.
__ADS_1
"Diajeng … ini kenapa perban Mas Pandji belum diganti?" tanya eyang buyut panik melihat rembesan merah di balutan lengan cucunya.
"Ini nggak apa-apa, Yangyut! Ibunda sedang lelah, nanti saja gantinya!" ucap Pandji cuek dengan keadaannya.
Luka yang baru saja dijahit kembali robek karena kecerobohannya sendiri, latihan tidak penting hanya untuk mencari ketenangan.
"Tidak bisa, perban basah kena air dan ada darah juga … bisa infeksi!" Wanita sepuh itu tergopoh mencari Ibunda Pandji yang baru saja masuk ke kamar. "Diajeng, urus dulu Mas Pandji … perbannya perlu diganti!"
Ibunda Pandji tersenyum teduh, "Iya, Eyang!"
Pandji masih duduk di ruang keluarga dan bersiap mengambil alih posisi Gia bermain game. "Biar Mas Pandji aja, Gia! Kamu bukan tandingan Raksa!"
"Tidak ada main game, Mas! Lukamu harus dibersihkan sekarang," kata eyang buyut Pandji memotong niat cucunya menggantikan Gia.
"Kalau tadi Mas Pandji tidur sepulang dari acara pemakaman, lukanya nggak mungkin terbuka seperti ini lagi, Eyang!" Ibunda Selia menanggapi dengan nada menyalahkan Pandji.
"Lah yang keras kepala itu anakmu, Diajeng! Kenapa kamu nggak menegurnya? Kalau angel dibilangi, biar saja tempat latihan di belakang itu eyang gusur lagi jadi taman bunga!" sahut eyang dengan mata melirik Pandji.
"Jangan, Eyang! Pandji kalau malam butuh olahraga, kalau diubah jadi taman bunga artinya yangyut nggak sayang sama cucu!" ucap Pandji menyeringai jenaka. "Pandji minta maaf! Besok Pandji istirahat total di rumah. Apa yangyut senang?"
"Lihaten itu badanmu, terlalu banyak luka di tubuh! Bikin pemandangan nggak enak di mata saja!"
__ADS_1
"Kalau pakai baju kan nggak kelihatan, Eyang!" bela Pandji menertawakan kegusaran yangyutnya.
"Diajeng … apa kamu nggak pernah kasih tahu Mas Pandji, besok kalau nikahan itu pake dodotan? Lah kalau banyak bekas luka begini ya nggak bagus jadinya!"
Ibunda Selia mengulum senyum, "Mas Pandji terluka karena ada sesuatu yang harus diselesaikannya, Eyang! Nggak masalah ada sedikit bekas luka di punggung sama lengannya!"
"Kamu ini kok nggak peka, lah itu di bahu bekas apa? Kalau kangmasmu itu punya bekas luka begini ya nggak mungkin kamu cinta mati sama dia," debat wanita sepuh itu keras.
Pemuda yang sedang diganti perban lengannya itu nyeletuk ringan, "Pandji pakai jas aja besok kalau nikahan, international style!"
"Coba aja kalau berani!" ancam eyang buyut Pandji melotot. "Mas Pandji harus tahu kita ini siapa, wong jowo yang harus ngerti etika, adat, tata krama, trah …."
Ibunda Pandji tertawa kecil. Wejangan yang dulu sering didengarnya kembali terulang dengan lebih tajam dan memaksa. "Dengarkan itu, Mas!"
"Iya, Ibunda!" Pandji menguap mendengarkan ceramah panjang dari dua orang yang entah mengapa jadi meributkan kostum pengantin dan goresan tak seberapa yang ada di tubuhnya. "Jadi kapan Pandji mau dinikahkan?" tanya pemuda mengantuk itu konyol.
"Sebentar … bagaimana kalau hari Minggu kita ke Solo, Diajeng?"
"Melamar Adiratna?" tanya Ibunda Pandji menahan tawa.
"Pandji cuma bercanda, Ibunda! Eyang!" sungut Pandji sambil melihat perban yang menutupi lengan atasnya.
__ADS_1
Masa iya Ratna nggak jadi naksir karena aku punya bekas luka? Bukannya yang dilihat itu muka dulu ya?
***