SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 152


__ADS_3

Jamuan makan di hari Minggu pagi dua pekan berikutnya terasa membahagiakan bagi Pandji. Tubuhnya dalam kondisi terbaik dan Mika juga sudah pulang dari rumah sakit dalam keadaan yang jauh lebih sehat.


Meja makan besar keluarga Abisatya penuh oleh orang tua, bukan hanya diisi oleh keluarga Pandji, tapi juga oleh keluarga Mika, Elok, Ratna, petinggi aliansi dan juga Paman Candika.


Teman-teman satu tim Pandji, Elok, Ratna, termasuk Atika ikut meluangkan waktu untuk makan bersama di acara syukuran sederhana keselamatan anggota keluarga Abisatya. Mereka tidak tergabung bersama orang tua, tapi berkumpul di pendopo belakang rumah agar bisa lebih bebas tanpa harus bersikap penuh tata Krama.


"Aku tidak menyangka ujian sekolah ternyata tidak begitu sulit, meski kurang belajar tapi aku bisa mengerjakannya dengan mudah!" Aswanta tertawa bangga, menepuk ringan pundak Pandji yang duduk di sebelahnya.


Elok menatap dengan ekspresi tidak percaya salah satu sahabat Pandji yang juga teman sekolahnya itu. "Kalian cap cip cup ngitung kancing baju ya ujian nasional kemarin?"


Pandji menyeringai bersamaan dengan ledakan tawa dari Aswanta. Menunjuk kepalanya sendiri sembari menjawab sombong, "Tidak perlu memakai ini! Aku dan Pandji mendapatkan jaminan lulus karena kami pahlawan! Mungkin jika kertas ujian kami kosong pun … tetap akan diluluskan! Bukankah benar begitu, sobat?"


"Uhuk!" Pandji tersedak jus jeruk karena suara Aswanta yang sangat hiperbola. "Diluluskan nenekmu! Kamu kira itu sekolah yayasan keluarga Abisatya?"


Aswanta tidak menggubris kalimat Pandji. "Kita lihat saja nanti pas pengumuman, kalian baru akan percaya apa yang aku katakan itu sama sekali bukan kebohongan!"

__ADS_1


"Kamu percaya diri sekali dengan keberuntungan yang belum kelihatan!" timpal Mahesa datar.


"Eh siapa bilang! Prameswari yang angkuh saja mulai mempertimbangkan aku sekarang, dia menghubungiku kemarin, dia ingin aku datang ke rumahnya untuk berkenalan dengan keluarganya. See…!"


Pandji menguap lebar, wajahnya malas saat menanggapi, "Oh ya? Kenapa aku sulit percaya soal satu itu?!"


"Sobat, rasanya kau harus belajar berpikir logis. Kau saja mendadak jadi incaran anggota aliansi yang memiliki anak gadis, berkah itu ternyata juga menular padaku! Sudah ada beberapa cewek yang sebelumnya tidak mau denganku sekarang justru mulai mendekatiku!" Aswanta bercerita dengan penuh semangat dan bahagia.


Pandji mendengarnya dengan setengah hati dibandingkan timnya yang menyimak lebih serius.


Spontan mata Mika, Ratna, Elok dan juga Atika menatap Aswanta seperti jaksa pengadilan yang sedang membacakan tuntutan berat untuk terdakwa.


"Apa maksudmu, As?" tanya Mika dan Elok dingin, hampir bersamaan. Sementara Ratna dan atika mengulas senyum tipis dengan dua alis terangkat tinggi.


"Jelaskan pada mereka, As!" Mahesa dan Tirta terbahak bersama menyadari wajah Aswanta pucat saat melirik Mika. Pemuda itu jelas tidak ingin menyinggung wanita yang selalu ada di depan Pandji dengan sengaja. Dia tidak ingin tergores belati Mika walaupun cuma sedikit.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung kalian. Aku hanya melihat realita yang sedang terjadi, sejak Pandji menang turnamen hingga kejadian di Jombang tempo hari, banyak hal telah berubah!" Aswanta tersenyum kikuk tanpa menjelaskan lebih lanjut. Kalau saja pandangan mata bisa menimbulkan luka, mungkin empat gadis cantik yang melotot padanya sudah membakar seluruh tubuhnya.


Suara berat seseorang yang sedang berdehem menarik perhatian seluruh teman-teman Pandji, serentak mereka menatap ke satu arah datangnya bunyi tersebut. Semua teman Pandji dengan jenis kelamin yang sama, yang mengaku sebagai pemuda normal sontak membuka mata lebar. Sementara empat gadis diam membisu dengan mata menyipit namun menyorot lebih tajam.


"Bukankah dia cantik sekali meski terlihat terlalu dewasa?!" Aswanta memindai dari atas ke bawah perempuan yang berjalan di belakang Pakde Noto.


"Dada yang indah, pinggang ramping, kulit putih, bibir semerah ceri dan rambut berkilau itu, apa tidak berlebihan jika aku ikut membayangkan dia takluk di bawah kakiku, Guru?" Tirta bertanya lirih, suara ludah tertelan tak sengaja nya terdengar sampai telinga Pandji.


"Yeah, menurut ku sedikit kurang cocok untuk mendampingi Pandji," tutur Aswanta penuh penilaian. Matanya masih sulit berkedip melihat gemulai langkah wanita yang semakin mendekat tersebut.


"Kali ini aku setuju denganmu, As! Mereka akan terlihat seperti bibi dan ponakan saat berjalan bersama dibandingkan terlihat seperti pasangan! Tapi kecantikannya … mengagumkan!" Mahesa menimpali dengan berbisik.


Pandji berdehem ringan untuk menghentikan mulut usil teman-temannya yang justru lebih banyak bicara dibandingkan dengan para gadis.


***

__ADS_1


__ADS_2