
Sosok tubuh muncul di hadapan Pandji, sangat tidak asing. Aura gelapnya jauh lebih pekat dari saat terakhir Pandji bertemu, bekas luka melintang di wajahnya menjadi ciri khas.
"Selamat malam, bocah tengil …." sapa pemuda yang mendadak berdiri di depan Pandji dan teman-temannya.
Tirta dengan raut panik langsung menyuarakan pikirannya, "Dimana keluargaku?"
Satu-satunya elemen kehidupan yang dirasakan Pandji ada di tempat itu adalah milik teman-temannya, sementara di dalam rumah … Pandji tidak bisa memastikannya karena aura kegelapan yang sangat mendominasi. "Tirta … tenanglah dulu!"
Asap tipis keluar dari bawah pintu, menebar aroma busuk yang menyakiti indera penciuman manusia.
Tirta menatap stagnan, kegelapan yang sangat pekat merembes keluar dari dalam rumahnya. Hatinya mencelos membayangkan apa yang tidak diinginkan telah terjadi pada kedua orang tuanya.
Tangan Tirta mengulur pada handle pintu dan berusaha membukanya dengan paksa, menggedor keras dan meneriakkan dua nama yang lekat dalam pikirannya.
"Ayah … Ibunda!"
Senyap, tidak ada suara apapun dari dalam rumah selain bunyi geraman aneh seperti binatang yang sedang menunggu mangsa.
Tirta mundur sedikit dan mencabut pedang dari sarungnya, "Minggir semua!"
BRAK!!!
Tirta mengayunkan pedang pada pintu yang terkunci, lalu serpihan kayu dengan berbagai bentuk menghambur ke sekitar. "Ayah … Ibu!"
Tidak ada jawaban, malam sepi pecah oleh suara gelak tawa dari pemuda dengan luka melintang di wajah. "Lucu sekali temanmu, Pandji!"
"Kau berhutang mahal padaku, Bian! Apa yang kau ambil dariku harus kau bayar dua kali lipat dengan nyawamu!" kata Pandji dingin. Gerahamnya mengeluarkan suara gemeretak menahan amarah yang meluap seketika.
"Kau mengambil keluargaku, Pandji! Aku hanya menuntut balas kematian Gentala. Apa sekarang kau ikut merasakan sakitnya kehilangan yang dialami teman jangkungmu?" ejek Bian dengan seringai sinis.
"Kau!" Tirta mengambil posisi akan menyerang meskipun masih belum jelas apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Itu belum seberapa, Pandji … karena kau harus tega menghabisi orang tua yang menunggu anaknya di dalam rumah jika tidak ingin jadi bencana untuk keluarga temanmu yang lain!" Suara Biantara keluar bersama tawa kemenangan.
WUSS!!!
Angin keras keluar dari dalam rumah, menabrak pintu yang telah rusak berkeping dan menerbangkan sisa serpihan yang ada di lantai ke udara.
Aswanta dan Mahesa menghindar mundur seketika, sedangkan Pandji membekukan udara di sekitarnya. Tirta terhuyung, rasa penasaran membuatnya cepat masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu ruang tamu rumahnya.
Tirta terhenyak, kedua orang tuanya menatap dengan pandangan liar mengancam. Liurnya sedikit meleleh saat mendongakkan kepala dan melolong panjang. "Ayah? Ibu?"
Aswanta dan Mahesa ikut masuk ke dalam rumah dan tidak bisa menutupi raut tercengang.
"Orang tuamu … tidak selamat, Tirta!" ucap Mahesa lirih.
"Guru … benarkah?" tanya Tirta dengan suara bergetar.
Aswanta menatap nanar pada kedua orang tua temannya lalu berkata pelan pada Tirta, "Sepertinya Mahesa benar, tapi ...!"
Tirta meraung marah, pedang panjangnya mengayun menciptakan udara tajam yang memporak-porandakan isi ruang tamu. Tirta keluar dengan pedang terhunus pada Biantara, "Aku tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama … kau iblis brengsek tidak berperikemanusiaan!"
Pandji tidak menanggapi dengan ucapan, dia menarik dua pedang dan menggenggamnya erat. "Mundur, Tirta!"
Tirta mengayunkan pedangnya dengan tenaga penuh ke arah leher Biantara, membabat tempat kosong beberapa kali dengan penuh emosi.
"Tirta! Mundur sekarang!" bentak Pandji menghadang.
Biantara menyeringai sebelum melolong panjang, mengeluarkan kabut hitam dari mulut hingga membentuk gumpalan awan.
Dengan satu kibasan tangan, awan hitam di atas kepala Bian pecah menjadi gumpalan lebih kecil.
Tak lama, semua gumpalan itu mewujud menjadi sosok serigala besar yang berdiri tegak dengan kedua kaki. Berbaris rapi di depan Bian sebagai barikade hidup yang siap berperang.
__ADS_1
Tirta menatap benci pada kawanan makhluk yang mulai berisik dengan lolongan panjang, pedangnya mengayun brutal pada maroz yang paling dekat dengannya.
"Mas Pandji … aku tidak mungkin menghabisi kedua orang tuaku meskipun mereka sebenarnya sudah tidak mungkin diselamatkan, aku mohon bebaskan jiwa mereka! Biar aku yang menghadapi Biantara dan anak buahnya!"
Pandji melihat sekilas pada Tirta sebelum pergi masuk ke dalam rumah yang sudah berantakan seperti baru terhempas badai.
Ayah Tirta bukan orang biasa, selain kekuatan dari maroz yang mengambil alih tubuhnya, beliau adalah orang yang punya bakat berpedang seperti anaknya.
Namun, elemen kehidupan yang ada pada tubuh paruh baya itu sudah sangat tipis dan nyaris hilang. Begitu juga ibunya. Pandji sangsi apakah dia bisa menyelamatkan kedua orang tua sahabatnya.
Mahesa melindungi Aswanta dengan perisai kuningnya, mereka berdua sedang bertarung sengit melawan kedua orang tua Tirta.
Luka robek di lengan Aswanta menganga setelah Ayah Tirta berhasil menghancurkan pelindung Mahesa dan menyabetkan belati panjang pada kedua pemuda yang menghadangnya untuk keluar ruangan.
Pandji memotong serangan pria paruh baya yang mengejar Mahesa dengan belati penuh darah.
TRANG!!! TRANG!!!
Benturan energi besar kedua senjata menciptakan angin yang meruntuhkan langit-langit ruang tamu rumah Tirta.
"Ups … maafkan aku Tirta, aku harap kamu punya uang untuk renovasi rumah setelah semua ini selesai," teriak Pandji dengan ekspresi menyesal.
"Selamatkan saja orang tuaku, Mas Pandji! Aku tidak peduli jika rumahku harus ambruk sekalipun!" Suara Tirta dari luar rumah terdengar keras di telinga Pandji dan Aswanta.
"Apa kau perlu bantuan, Sobat?" tanya Aswanta meringis menahan sakitnya.
Pandji menggeleng ringan, tangannya mengambil sesuatu dari kantong baju dan menjentikkan benda kecil ke arah Aswanta, "Telan itu sekarang, itu ramuan dari ibunda."
"Kapsul?" gumam Aswanta menaikkan satu alisnya pada Pandji lalu mengamati benda kecil yang baru ditangkapnya.
"Bukankah itu suatu kemajuan? Apa kau berharap aku membawa botol ramuan kemana-mana seperti bakul jamu gendong keliling?" tanya Pandji gemas.
__ADS_1
"Aku suka gayamu, Sobat!" seru Aswanta seraya melempar kapsul ke udara lalu menangkap menggunakan mulutnya yang terbuka, mengatur nafas dan menelannya perlahan.
***