SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 130


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dan bertanya dua kali di warung pinggir jalan, Mika mengemudikan mobil memasuki desa yang disebutkan Oma Dina.


Jalan desa dan sungai yang diceritakan Oma di masa mudanya sudah mengalami banyak perubahan. Jalan tanah dan sungai kecil sudah berganti dengan aspal halus dan sungai yang lebih lebar, terlihat indah dengan deretan pagar buatan warga setempat. Belum lagi area persawahan yang sudah berubah jadi perumahan modern.


Wajar saja, situasi yang diceritakan oma sudah berlalu hampir empat puluh tahun.


Mika memperlambat mobil di jalan utama menuju rumah Pakde Karman, mengamati rumah-rumah penduduk untuk menemukan mushola sebagai patokan.


"Bukankah seharusnya ada mushola?" tanya Mika mengingatkan.


"Mungkin sekarang sudah jadi Masjid, menepi … aku akan bertanya sebentar!" Pandji turun dari mobil, menghampiri sosok bapak tua yang baru keluar dari tempat ibadah itu.


Dari dalam mobil, Mika dan yang lain memperhatikan Pandji yang mengangguk dan mengucapkan terima kasih sesaat setelah bapak yang ditanya menunjuk ke satu arah.


Pandji kembali ke mobil dan memperhatikan jalan. "Nanti berhenti di depan, Mika! Rumah pagar hitam, sekitar tiga puluh meter dari sini."


Rumah dengan halaman sangat luas di balik pagar besi berkarat itu dulunya mungkin milik orang kaya. Bangunannya masih tampak megah meskipun terlihat lawas dan kusam.


Cat mengelupas di beberapa bagian dan ada atap yang hampir ambruk. Banyak semak liar di sekitar halaman juga lumut kering yang memenuhi kolam ikan besar di samping rumah dengan patung buaya di tengahnya.


Daun kering berserakan di teras dan menyebar luas ke pagar yang dililit beberapa tanaman merambat.


Dalam satu kali lihat, orang pasti langsung menilai bahwa rumah itu angker dan sudah tidak dihuni manusia sejak lama.


"Jadi ini dulu rumahnya Pakde Karman?" tanya Mika khawatir sekaligus kagum.


"Hm, aku rasa iya. Semua ciri persis dengan yang disebutkan oma, terutama kolam dengan patung buaya!" Pandji turun dari mobil dan menatap ke arah rumah. Semilir angin dingin menerpa wajahnya, menyibak rambut yang jatuh di dahi.

__ADS_1


"Pandji …!" panggil Mika dari balik kemudi. Tanpa mematikan mesin mobil, Mika turun menyusul Pandji yang masih berdiri anteng.


"Bahkan setelah kejayaannya runtuh, aura hitam tetap menyelubungi rumah ini. Tidak mungkin ada orang yang mampu bertahan tinggal di rumah dengan tingkat wingit seperti ini," kata Pandji dengan suara pelan.


"Kita pergi sekarang? Ada sesuatu yang hidup di dalam … sesuatu yang membuatku tidak nyaman," ujar Mika tak kalah lirih.


"Makhluk sisa-sisa kerajaan iblis dulu," sahut Pandji tak acuh.


"Siluman buaya?" tebak Mika.


"Hm … dan yang lainnya."


"Aku mencium bau pusaka!" Mika menatap Pandji sekilas, lalu meneruskan matanya ke arah rumah tua yang hilang pamornya sejak ditinggal mati pemiliknya.


"Kita tidak sedang berburu pusaka, Mika! Kita akan melakukan itu setelah semua masalah dengan Nergal selesai!"


"Yeah, sepertinya begitu … termasuk juga trisula milik ayahanda. Benar-benar bukan orang biasa!" ujar Pandji. "Gudang pusakanya masih hidup hingga sekarang!"


"Aku akan membantu menariknya untukmu jika waktunya tiba," lirih Mika.


"Ayo ke lokasi selanjutnya saja, bisa masuk angin berdiri lama-lama di sini!"


Di dalam mobil, Aswanta sudah gatal untuk bertanya pada sahabatnya.


"Wow … rumah yang menarik, Sobat! Saudaramu ini dulunya pasti yang punya kesaktian, bukan orang sembarangan!" Aswanta berbicara dengan gaya sok tahu.


"Sangat mengerikan, Guru! Banyak hal tidak baik di dalam sana. Itu bukan hanya patung mainan, itu sebuah perlambang kerajaan siluman! Dan kolam buaya itu memang pemandian makhluk halus." Tirta menerangkan pandangan batinnya.

__ADS_1


"Apa dulunya pemilik rumah ini memelihara perewangan untuk pesugihan?" tanya Mahesa penasaran. "Rumah ini pasti sangat mewah pada zamannya!"


"Bukan … ini rumah paranormal kondang. Bukan pesugihan tapi sejenis ngelmu untuk sebuah kejayaan." Pandji menghembuskan nafas berat, "Kita pergi sekarang, Mika! Mereka tidak disini!"


Aswanta menyahut datar, "Aku setuju, dadaku sesak menatap patung buaya itu!"


"Bagaimana bisa sesama buaya memiliki aura yang berbeda, Guru?" gumam Tirta konyol.


Mika menjalankan mobil dengan mata masih mencuri pandang ke arah rumah. "Sayang sekali, kenapa tidak dijual murah saja ya? Lumayan buat investasi masa depan setelah semua aura jahat dibersihkan!"


Pandji tertawa kering, "Siapa juga yang mau tinggal di sana?"


"Dijual lagi, bisnis!" jawab Mika tegas.


"Tanahnya sudah dirajah, ada darah yang tidak bisa diangkat dari dalam tanah. Meskipun sudah dibersihkan, tetap akan meninggalkan hawa tidak enak untuk ditinggali manusia biasa!" terang Pandji singkat. "Tapi kalau kamu mau, aku bisa membelinya untukmu!"


"Untukku?" tanya Mika skeptis.


Pandji mengejek sarkas, "Buat hadiah pernikahanmu hehehe …."


Kalau saja tidak mengenal etika keluarga Pandji yang harus lebih menghormati kaum laki-laki, mungkin Mika sudah menjitak kepala pemuda yang menyeringai menjengkelkan padanya.


"Sialan!" umpat Mika kesal, dia ditertawakan Pandji dan timnya.


Demi menutupi malu, Mika mempercepat laju mobil agar segera sampai pada lokasi yang memiliki perubahan suhu udara ekstrim.


***

__ADS_1


__ADS_2