SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 40


__ADS_3

Pemuda tampan yang sulit menyimpan rasa penasaran itu kembali ke kamar, mengambil satu buku yang disembunyikan dalam rak bukunya selama satu tahun lebih.


Buku dengan sampul baru bertuliskan mata pelajaran sekolah itu disiapkan di meja, dia mengunci pintu lalu duduk dengan dengan ekspresi serius.


Membuka halaman pertama, jantung Pandji berdegup kencang karena angin dingin menerpa wajahnya seketika. Aliran mana sangat tipis terasa mengambang di ruangan itu, membentuk piramida dengan warna biru kehijauan dan mengurung Pandji di dalamnya.


Diam-diam benaknya memikirkan kisah-kisah buku kuno dalam legenda. Buku yang dilindungi oleh mantra tua yang tak pernah termakan usia.


Rasanya seperti sedang nonton film horor kolosal, aku sebagai protagonis yang sedang menguak misteri dari dalam buku.


Semoga tidak ada medusa (wanita dengan rambut ular) yang muncul mendadak di sini mengingat suasana ini membawaku ke abad dimana perempuan itu hidup dan membuat kisah.


Aku jelas tidak ingin berubah jadi batu dengan hanya membaca halaman pertama buku ini!


Dengan hati-hati Pandji memperhatikan halaman pertama yang tidak ada isinya, hanya menampakkan kertas yang sudah pudar warnanya.


Pandji tidak percaya, setelah menunggu sekian lama dia masih juga tidak bisa membaca buku itu. Apa ada yang salah? Atau ada syarat khusus yang harus dipenuhinya untuk sekedar tau isinya?


Membuka halaman kedua dan seterusnya membuat Pandji makin frustasi karena tidak menemukan apapun di lembaran usang berwarna kecoklatan yang masih dipegangnya.


Lalu apa fungsi kubah pelindung di kamarku jika buku ini tidak ada apa-apanya? Bukankah buku ini dilindungi agar tidak dibaca makhluk dengan jenis apapun yang ada di sekitarku?


Kepala Pandji menoleh, matanya menatap ke arah pedang kembar yang tergantung serampangan di dinding kamar.


Menautkan kedua alisnya, Pandji bicara dengan nada rendah. "Damar … Asih! Apa yang sedang kalian lakukan di dalam sana?"

__ADS_1


Damar dan Asih muncul dari ruang hampa dan menjura penuh sopan di samping Pandji.


“Sendiko, Mas Pandji … kami tidak melakukan apapun. Hanya berjaga dari buku kuno di meja itu yang belum diketahui isinya,” tutur Damar Jati pelan.


Pandji menghembus nafas tenang, “Tapi ini hanya sebuah buku, Damar. Apa yang kau khawatirkan?”


“Buku itu memiliki mana sihir yang sangat menekan, bukan mustahil di dalamnya ada mantra yang bisa membuat celaka saat dibaca, Mas! Kami hanya mengantisipasi hal di luar dugaan seperti itu!" jawab Damar dengan yakin.


"Ayolah Damar, kenapa kau begitu takut? Buku ini milik leluhurku, tidak mungkin akan membawa petaka pada keturunannya kan?!"


Damar Jati melirik istrinya sekilas dan berbicara dengan nada tenang, "Buku itu dulu pemiliknya adalah seorang perempuan, Mas!


Dia menciptakan sihir hitam paling mematikan untuk balas dendam. Di akhir hidupnya, Beliau menitipkan buku itu kepada leluhur Mas Pandji yang menjadi tunangannya.


Tapi terlebih dulu memantrai buku itu dengan berbagai sihir ciptaannya, konon buku sihir 'MATI' hanya bisa dibaca oleh perempuan.


Pandji berjengit karena terkejut, "Jadi sebenarnya buku ini bukan milik leluhurku?"


"Beliau hanya diminta untuk mengamankannya, itu bukan buku sihir biasa. Itu adalah kitab pusaka yang menggegerkan pulau Jawa pada zamannya.


Buku itu jadi rebutan bangsawan Jawa dari trah ksatria pelindung raja. Buku yang sudah dianggap hilang karena tidak ada yang mampu menemukannya."


“Kenapa buku itu sekarang ada padaku? Bukankah sebelum aku datang ke perpustakaan, Ayahanda sudah jadi penguasa semua bacaan bermutu di sana? Apa artinya buku itu ingin aku yang menemukan dan membacanya?" cerca Pandji dengan memainkan logikanya.


Damar Jati menjawab gelisah, "Ya … mungkin seperti pusaka yang mencari tuan seperti saya, kitab itu juga mencari orang yang mampu membacanya!"

__ADS_1


"Jelaskan padaku mengenai buku ini lebih lanjut, Damar! Kau hidup dalam beberapa generasi, kau pasti tau sejarah buku ini!"


"Secara tidak langsung Mas Pandji mengatakan kalau saya sudah tua," keluh Damar dengan mimik lucu.


"Ya, seharusnya aku memanggilmu dengan kakek buyut kan?!” ledek Pandji. Dia tertawa kecil untuk mengurangi ketegangan.


Damar ikut tertawa was-was sebelum menjawab, "Buku MATI hanya bisa dibaca pada hari di mana buku itu mulai dibuat dan diselesaikan, yaitu pada hari kejayaan setan, hari dimana saat Mas Pandji dilahirkan!"


Pandji mengangkat kedua alisnya dan menatap Damar skeptis, dia melangkah ke lemari buku tempat kalender berada.


Setelah meneliti setiap tanggal dan weton, akhirnya Pandji nyeletuk, “Artinya aku baru bisa membacanya delapan hari lagi."


"Benar sekali, Mas!"


"Baiklah aku akan menunggu saat itu tiba, terima kasih penjelasannya, Damar!”


Pandji yang terlanjur memanggil Damar dan Istri memiliki ide konyol untuk mengisi malam yang masih panjang.


"Bagaimana jika kita berpetualang, Damar? Aku ingin mencari batu mustika langka."


"Untuk apa, Mas?" tanya Damar Jati penasaran.


Pandji menatap roh pusaka tampan dengan senyum tipis. Berbisik pelan pada Damar, "Cincin tunangan, tapi jangan sampai ayahanda tau soal ini ya?!"


"Sendiko, Mas Pandji."

__ADS_1


***


__ADS_2