SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 65


__ADS_3

Pulang sekolah, Pandji mendapati Mika sedang duduk sambil membaca di perpustakaan. Tidak ada wajah pucat ataupun kesan sakit pada gadis yang kemarin hampir meregang nyawa karena dua pedang pendek Biantara.


"Kamu nggak ke rumah sakit?" tanya Pandji heran, dia duduk di depan Mika dan mengamati dengan jeli.


Mika menaikkan sebelah alisnya, "Apa aku butuh perawatan? Aku bahkan bisa membaca dengan santai di perpustakaan."


"Hm … kamu memang terlihat sehat, tapi nggak ada salahnya periksa. Apa sudah tidak terasa sakit? Punggungmu …." Pandji menatap lurus wajah yang masih menunduk karena sibuk membaca.


"Ibunda bilang aku hanya butuh istirahat … lihat ini aku menemukan bacaan bagus, ini persis yang kulihat di dalam tubuh Neta. Serigala ini bernama maroz, hanya saja dalam buku kuno ini mereka diceritakan memangsa manusia."


Mika menunjuk sebuah gambar serigala besar yang berdiri dengan dua kaki belakang, bertaring dan berkuku panjang seperti belati. Serigala dengan rupa terburuk.


Pandji memperhatikan tulisan yang ditunjuk Mika berikutnya. "Apa keterangannya?"


"Maroz berasal dari dunia lain, dulu sekali … mereka pernah datang ke dunia kita. Namun, ada ksatria yang mampu mengembalikan mereka dan menutup gerbang dimensi."


"Damar juga mengatakan hal itu, ada seseorang yang mengundang mereka datang. Orang yang punya kekuatan membuka gerbang untuk keluar masuk makhluk gaib itu," terang Pandji.


"Jadi dimana letak gerbang itu?" tanya Mika antusias.

__ADS_1


Pandji menggeleng ringan, "Itu yang perlu kita cari tau! Aku justru berpikir mereka tidak datang melalui gerbang yang sudah ditutup oleh ksatria tersebut, tapi ada portal sihir baru yang diciptakan untuk kedatangan maroz."


"Orang yang sangat berbahaya, aku penasaran sekali dengannya!"


"Simpan rasa penasaranmu dan jangan gegabah! Ohya aku akan pergi ke Solo melihat Ratna, firasatku tidak enak saat memikirkannya." Pandji berdiri meninggalkan Mika yang masih membolak balik lembaran buku kuno di depannya.


"Aku ikut!" seru Mika, menumpuk buku sembarangan dan menyusul Pandji ke halaman depan. "Kamu nggak pamit?"


"Sebelum ke perpustakaan aku sudah pamit pada Ibunda dan Ayahanda, mereka setuju aku ke tempat Ratna untuk memeriksa sesuatu," jawab Pandji ringan. "Harusnya kamu di rumah, kamu baru saja sembuh!"


“Itu tidak mungkin, aku akan bersamamu. Siapa yang tau kalau aku akan berguna?”


Pandji menoleh dan melihat Mika dengan mimik serius, “Apa maksud kata-katamu, Mika?”


"Astaga Mika … apa yang ada di kepalamu?" bentak Pandji marah. Sedikitpun dia tidak pernah berpikir akan mengorbankan orang lain untuk keselamatan pribadi. Terlebih itu adalah Mika.


Mika tersenyum lebar, "Sudahlah ayo kita berangkat sekarang!"


Pandji menggerutu dalam hati, tapi dia tak lagi bicara banyak selama perjalanan. Matanya tajam melihat jalan yang makin lama makin terasa aneh.

__ADS_1


Mika yang sadar dengan keanehan itu langsung menatap Pandji tegang, "Pandji … kita sudah berputar dua kali di tempat ini. Kamu sengaja atau …."


"Aku tidak sengaja, tapi kita memang terjebak di kota ini. Ada array sihir hitam melingkar yang membuat kita hanya bisa memutari kota Yogya." Pandji tertawa getir, miris dengan kondisi yang disadarinya sangat terlambat.


"Maksudnya apa, Pandji? Jangan membuatku menebak hal yang tidak benar, siapa yang menjebak kita?"


"Seseorang ingin kita tidak meninggalkan kota … maksudnya, aku harus tetap tinggal di sini dan dilarang keras melarikan diri!” terang Pandji dengan ekspresi rumit.


"Siapa?"


"Sang Pemimpin mungkin …," jawab Pandji kesal.


"Badrika?"


Pandji hanya mengedikkan bahu. Dia tampak resah saat mengambil jalan balik arah dan kembali pulang ke rumah.


Energi besar yang menghadang jalan keluar kota tidak ada dalam perhitungannya, menembusnya dengan paksa membutuhkan mana yang cukup besar.


Sangat berbahaya jika setelah berhasil melewati array sihir ... maroz, chimera atau bahkan Badrika yang harus dihadapinya dalam keadaan kehabisan mana.

__ADS_1


Aku tidak akan jadi konyol dan keras kepala dengan memaksa menyebrangi batas!


***


__ADS_2