
Melihat langit seperti malam tahun baru, Pandji mengambil baju dan segera memakainya, kembali memasang pedang di punggung dan keluar kamar.
"Pergilah ke Ibunda, katakan untuk menjaga rumah ini, aku akan keluar mengurangi masalah." Dengan gusar Pandji memerintahkan Mika seraya mendorong punggungnya.
"Dimana Ayahanda, Pandji? Aku tak melihat beliau sejak tadi."
"Pergi ke rumah Paman Candika, aku rasa di sana juga mungkin sedang terjadi masalah hingga Ayahanda tak bisa segera pulang."
Mika baru berjalan beberapa langkah ketika Ibunda Pandji muncul di dekat kamarnya bersama kedua adiknya, Raksa dan Giandra.
"Mas Pandji … apa lagi ini?" tanya Ibunda Selia dengan ekspresi kalut.
"Pandji akan berusaha mengatasinya, Ibunda! Sebaiknya jangan ada yang keluar rumah, kubah rangket lapisan kedua akan menahan mereka sementara."
"Jangan mas, tunggu ayahmu datang!" cegah Ibunda Pandji khawatir.
"Kita akan mati konyol jika hanya bertahan, Ibunda! Lagian Pandji anak pertama, anak laki-laki dalam keluarga. Sudah sewajarnya Pandji menjadi tameng utama setelah Ayahanda," kata Pandji datar. Dia tidak ingin dimanja, Pandji merasa punya tanggung jawab untuk berjaga di luar.
"Aku juga anak laki-laki, sudah sewajarnya jadi pelindung untuk wanita di keluarga ini," seru Raksa tak mau kalah. Dia membawa tombak di punggungnya. Tombak yang diberikan Ayahnya sesaat sebelum berangkat ke rumah Paman Candika.
Pandji membelalakkan mata tak percaya, sudut bibirnya berkedut, "Tombak itu? Bagaimana Ayahanda bisa meminjamkan padamu, Raksa?"
Raksa hanya menyeringai licik, "Ksatria Ganendra."
"Apa? Ksatria Ganendra katamu? Siapa?" tanya Pandji sarkastik.
"I am," jawab Raksa cuek.
__ADS_1
Pandji memaki dalam hati, merutuki ketidak beruntungannya.
Sungguh tidak adil … aku yang menginginkan pusaka itu sejak lama, tapi Raksa yang boleh menggunakannya! Naga sialan itu pasti yang memilih Raksa daripada aku yang jadi tuannya.
"Aku ikut keluar, aku tidak akan membiarkan siapapun berani menghancurkan keluarga ini," lirih Mika tertahan. Dia berjalan dan berdiri di belakang Pandji lalu berbisik mengancam, "Awas saja jika berani menolak!"
Pandji bernafas berat, "Pandji menurut pengaturan, Ibunda. Jujur saja Pandji tidak ingin membahayakan mereka! Pandji lebih suka menyelesaikannya sendiri!"
Ibunda Pandji tersenyum lembut, "Mas Pandji … bertiga lebih baik daripada sendiri, anggap saja mereka bantuan."
"Gia ikut ya, Ibunda?"
"No!" jawab Ibundanya cepat.
"Tapi Gia sudah melatih Alpha dan tiga temannya, mereka pasti akan menjaga Gia."
BLAR!!!
Suara ledakan besar terdengar di luar, getaran kubah pelindung terakhir yang menahan serangan menimbulkan rasa sakit di kulit. Mana sihir berseliweran di atas rumah, bayangan hitam berkelebat tanpa henti.
"Pandji berangkat, Ibunda!" Langkah lebar Pandji diikuti oleh mika dan Raksa di belakangnya.
Ibunda Pandji mengangguk pelan, mengajak Gia masuk untuk memanggil orang seisi rumah agar berkumpul jadi satu di ruang tamu.
“Kemana kita, Mas?” tanya Raksa bingung melihat keadaan luar rumah yang semrawut dengan banyaknya bayangan binatang buas dan lolongan panjang mereka.
“Sebaiknya jangan terlalu jauh keluar kubah, Raksa. Jika terdesak kamu bisa langsung masuk. Jaga diri dan tetap ada di sekitarku!” pesan Pandji yang mendapat anggukan dari Raksa.
__ADS_1
Mika sudah menarik belatinya dan bersiap, wajahnya dingin tanpa rasa takut. "Sekarang?"
Pandji mengangguk dengan ekspresi tak tega, "Jangan terluka, apalagi mati, Mika!"
Tak lagi melihat Pandji, Mika sudah menghambur ke arah kawanan makhluk seperti serigala yang sudah menunggu mereka di depan kubah. Belatinya mengayun dan menyabet garang dengan kecepatan tak terlihat mata.
Gelap malam menyamarkan bilah tajamnya, hanya sesekali mengeluarkan pendar merah jika mengenai lawannya.
Satu demi satu musuh tumbang dalam kondisi terbakar, berubah jadi abu lalu menghilang dalam ketiadaan.
Cairan hitam berbau busuk meleleh dan menghilang bersama dengan kepala makhluk yang terpotong oleh belati tajam Mika.
Mata Mika yang berubah merah menyorot dan menyala dalam gelap, tidak ada satu gerakan bayangan yang terlewat oleh pandangannya.
Dalam jarak yang tidak bisa dibilang dekat, dia melemparkan belati pada satu serigala besar yang sedang menerkam Pandji dari belakang.
DUAR!!!
Kepala makhluk bermoncong runcing itu meledak begitu belati Mika menancap di batok kepalanya. Mengubahnya menjadi debu hitam yang hilang tertelan malam.
Mika berlari dan melompat menangkap belati yang hampir menyentuh tanah, langsung membuat tusukan ke salah satu hewan buas yang sedang menerkamnya.
Suara malam yang sunyi mendadak riuh diisi oleh raungan dan geraman kawanan mahluk dari dunia lain yang jumlahnya tidak sedikit.
"Hemat tenagamu, Mika!" seru Pandji yang melihat Mika bertarung seperti orang kesurupan.
***
__ADS_1