
Malam belum larut, tapi keributan di ringroad timur kota Yogya tidak ada yang mengetahuinya. Kendaraan lalu lalang dengan normal, seperti tidak ada yang melihat kalau sedang ada pertarungan hidup dan mati dua anak manusia melawan bangsa iblis.
Keterbatasan mata normal manusia mencerna situasi genting yang ada di sekitarnya.
Sudut bibir Pandji berkedut merasakan aura pembunuh yang sangat pekat keluar dari tubuh Gentala.
Awan hitam tebal berkumpul di bawah langit saat Gentala merapal mantra, menutup bulan yang bercahaya redup dan menurunkan suhu udara dalam radius seratus meter. Udara mulai penuh dengan mana sihir gelap yang meruap dari tubuh Gentala.
Angin berhembus sangat dingin membekukan tulang, samar terlihat dalam tubuh Gentala makhluk pembawa api neraka sedang menyeringai. Menampilkan sepasang taring panjang menembus moncong.
Gentala menghilang terbungkus selaput pelindung milik makhluk berkaki empat berwarna merah seperti singa berbulu api. Ekor panjang menyala seperti cambuk yang mengibas ke kiri dan ke kanan.
Pandji menyeringai, "Aku tidak paham kenapa kau mau diubah oleh iblis serupa binatang berpenyakit kulit, Gentala?!"
Raungan marah Gentala berupa lolongan panjang dari moncong yang mendongak menatap angkasa.
"Oh ... kau juga sebenarnya tak begitu menyukai penampilanmu ya? Aku yakin Mika tidak akan tertarik dengan tampangmu yang sama sekali berubah jadi tidak tampan itu!"
Ekor hewan merah itu menyabet ke arah Pandji dengan kecepatan sulit diikuti mata.
Pandji berkelit dan melompat menghindar menyelamatkan wajahnya, benda panas berupa ekor itu bisa saja menghanguskan dagingnya.
__ADS_1
Sabetan dari ekor Gentala menghantam tanah, menciptakan lubang dan memporak porandakan tempat Pandji berpijak, api membakar apa saja yang ada di sekitarnya.
“Mika juga tidak suka pria kejam, Gentala!” kata Pandji usil. Dia menebas beberapa kali pada ekor yang kembali melecut ke arahnya laksana kilat.
Sapuan ekor Gentala memecah udara seperti bilah tajam sebuah pedang. Pandji memotong gerakan Gentala dengan mengayunkan pedang birunya.
BRET!!!
Ujung ekor Gentala hilang terkena sabetan pedang Pandji. Moncong besar itu melolong histeris meratapi ekor yang terlambat diselamatkan.
Gentala terus meraung meluapkan kemarahan, mengibaskan ekor serampangan hingga debu beterbangan menutup pandangan.
Pandji melesat maju, kembali menebas dengan sasaran perut dan dada. Gentala yang membaca arah serangan Pandji melompat mundur, meliuk cepat dan menyabet kaki Pandji dengan ekor apinya.
Jantung Pandji serasa berhenti berdetak karena harus mengimbangi energi kejut yang masuk dalam tubuhnya.
Melirik ke arah Mika yang terlihat payah saat menghunjamkan dua belatinya, Pandji bangkit dengan seringai miring. Dia memusatkan konsentrasi dan memompa adrenalin hingga ke puncak, membuang semua perasaan gamang.
Pedang merah Pandji dilepas ke udara, berputar cepat menaikkan suhu udara sekitar yang dingin mematikan. Dengan hanya memegang Damar Jati, Pandji melakukan serangan kombinasi antara sihir dan kecepatan berpedang.
Pertarungan menjadi sangat sengit, area sekitar sudah memperlihatkan dampak kerusakan. Tanah berlubang dan benda-benda kecil beterbangan seolah gravitasi tempat mereka berdiri telah tiada.
__ADS_1
"Jebak mereka dalam heksagram, Mika! Berlindunglah di sana dan tunggu aku menyelesaikan urusan dengan Gentala!" seru Pandji pada Mika yang mulai terdesak.
Baju Mika sudah koyak di beberapa bagian, darah menetes dari luka terbuka bekas cakaran yang ada di bahu dan lengan.
Pandji menggertakkan gigi, dia mulai merapal mantra. Sensasi aneh masuk ke seluruh tubuh saat pemuda itu mengkombinasi aura kegelapan dan aliran mana sihir miliknya.
Sihir hitam, ya … Pandji mengelola aura gelap di sekitarnya dan memadukan dengan sihir hitam yang dikuasainya.
Tangan Pandji yang bebas mengibas beberapa kali, memadatkan udara di sekeliling dan mendorong dengan sekuat tenaga.
Gentala terseret mundur beberapa meter, saat akan maju untuk balas menyerang, badai petir hitam menyambar tubuhnya.
Gentala jatuh terduduk dalam posisi menerkam. Darah mengalir dari mulut, menetes melewati taring yang mencuat ke bawah rahang.
Pandji mengatur nafas yang mulai berantakan karena harus melepas mana yang cukup besar saat menciptakan tujuh petir hitam yang menyambar tepat tubuh Gentala.
Tangannya sedikit bergetar saat mengeratkan jari pada gagang pedang birunya, "Giliranmu, Damar!"
Gentala melesat menerkam, tubuh binatangnya meliuk menghindar sangat cepat saat Pandji menusuk. Pandji menyambut terkaman Gentala dengan penuh perhitungan. Dia telah mengisi energi tambahan pada telapak tangan kirinya yang tidak memegang pedang.
Saat benturan terjadi, serangan tapak Pandji tepat mengenai dada Gentala, lalu dengan cekatan Pandji mengangkat pedang birunya dan menebas leher Gentala.
__ADS_1
"Last hit?!" Pandji menaikkan sebelah alis, melihat sinis pada cairan hitam yang meleleh membanjiri tubuh tanpa kepala milik Gentala.
***