SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 41


__ADS_3

Malam lebih sunyi pada dini hari, Pandji melihat sekilas ke arah jam yang menunjukkan pukul dua. Aliran mana pelindung yang sangat kuat tiba-tiba menguap di seantero rumah.


Pandji tertegun ketika mendengar ledakan dan mengguncang mana sihir yang baru dipasang Ayahnya.


BLAR!!!


Bunyi-bunyi seperti letusan senapan api sangat dekat terdengar oleh telinga Pandji. Bukan hanya sekali, tapi ledakan serupa terus susul-menyusul dan bersahutan seperti sedang ada perayaan tahun baru. Pesta kembang api.


Seluruh kubah pelindung menyala keemasan dan bergetar seperti hendak runtuh.


Makhluk-makhluk buruk rupa itu apa sudah mulai hilang kewarasan dan mulai buta? Berusaha masuk dengan menabrakkan diri pada dinding pelindung?


"Mas Pandji tetap akan keluar?" tanya Damar Jati datar. Perubahan raut yang mengisyaratkan kata 'jangan' tapi tak tersampaikan karena posisinya yang hanya abdi bagi Tuan.


"Sepertinya tidak, Damar. Ada hal penting yang ingin aku lihat di selatan rumah, aura gelap ini berasal dari sana, begitu juga dengan makhluk hitam yang sengaja menabrak kubah pelindung kita," jawab Pandji geram.


"Ya, makhluk hitam itu dikendalikan untuk melihat keadaan dan mengecek pertahanan rumah ini, Mas!"


"Kau sangat memahami mereka, Damar. Dari mana mereka berasal?"


"Dari dunia lain, mereka dipindahkan dan ditempatkan di sini sebagai pasukan yang akan mengambil alih peradaban manusia.”

__ADS_1


“Lalu apa yang akan mereka lakukan jika mereka tak mampu menembus kubah? Bukankah itu akan sia-sia saja?"


"Mereka akan terus mencoba sampai nanti subuh dan akan diulangi setiap malam sampai mereka bisa merusak kubah untuk membuat jalan masuk."


"Tapi kenapa, Damar? Apa kita adalah ancaman?"


"Selain menginginkan tubuh Mas Pandji, mereka juga menginginkan buku 'MATI' itu."


"Hah? Yang benar saja, Damar! Jangan membuat asumsi yang tidak masuk akal!"


Damar mengedikkan kepala ke arah buku yang masih tergeletak di atas meja tapi sudah dalam keadaan tertutup, "Mereka mencium keberadaan buku kuno itu sekarang."


"Apa isi kitab itu, Damar?" tanya Pandji tak sabar dan antusias menunggu Damar Jati menjelaskan.


Pandji merutuki sihir yang menjaga buku itu, benar-benar merepotkan!


Buku sihir itu pasti berisi sesuatu yang sangat berharga, mungkin patut disebut buku setan karena dibuat, ditutup dan hanya bisa dibaca pada hari berjayanya setan, pun oleh anak yang dilahirkan pada hari yang sama.


Tapi aku bukan anak setan kan?


"Bagaimana jika kita ke selatan sekarang, Damar? Aku bisa mati penasaran jika tidak menyelidiki secara langsung!"

__ADS_1


"Sebaiknya Mas Pandji bergerak setelah mulai membaca kitab itu agar tau apa yang sedang dihadapi."


"Kesuwen, masih semingguan lagi. Apa buku itu bisa dibaca di hari lain setelah itu?"


Damar menggeleng menyesal, "Sayangnya kitab sihir hitam hanya terbuka pada hari yang telah ditentukan, Mas!"


Pandji hanya bisa memaki dalam hati. Menatap Damar skeptis lalu mengeluh lagi.


Artinya aku hanya bisa membaca dalam satu hari saja selama satu bulan lebih, jika tak selesai dan ingin membacanya lagi harus menunggu bulan berikutnya.


Opo-opoan ngene iki, Dab?


Bukan lagi suara petasan yang terdengar, tapi lolongan ganjil seperti serigala memanggil kawanan sesekali terdengar memilukan.


Pandji yang keras kepala mengambil kedua pedang hitam dan menempatkan di punggung, bersiap dengan wajah kesal karena pendengarannya sangat terganggu.


Damar dan Asih tanpa diperintah langsung menghilang masuk ke dalam rumahnya, yaitu dua pusaka yang sudah siap di belakang pemuda yang mulai dikuasai amarah.


Memanggil tunggangannya yang juga berwarna hitam, Pandji menyeringai dan mengusap leher barionnya. Dengan gembira barion Pandji menggosok moncongnya ke tangan pemilik.


Pandji melompat ke punggung hewan gaib peliharaannya dan bergumam lirih, “Aku sedang bosan, Blacky … bagaimana kalau kita jalan-jalan ke selatan cari angin sebentar?"

__ADS_1


Setelah mengaum keras, makhluk serupa macan kumbang bertanduk itu melompat dan melintasi dimensi. Bergerak lambat ke arah selatan dengan moncong yang sesekali mendongak seperti sedang membaui sesuatu.


***


__ADS_2