
Pakde Noto sedang sibuk mengajar murid baru di kesatrian Putra Ganendra, kemenangan Pandji menjuarai kompetisi bela diri tempo hari membawa berkah padanya. Membuat pria paruh baya itu kelebihan jam kerja dan harus membuang tenaga extra untuk pendidikan bagi mereka yang baru bergabung.
Wajah lelahnya langsung sumringah saat Pandji tiba, "Mas Pandji … monggo langsung ke pendopo!"
"Pandji mau lihat anak-anak latihan dulu Pakde," tolak Pandji halus.
Pandji berjalan di sebelah Pakde Noto diikuti oleh Mika, Aswanta dan dua pemuda asing yang baru saja menjadi teman, Tirta dan Mahesa.
Suara kayu dan logam beradu terdengar dari tempat latihan pedang. Sedangkan ledakan-ledakan kecil berasal dari murid-murid yang belajar ilmu sihir.
Pandji yang beberapa waktu harus cuti mengajar karena kehabisan waktu mengurus migrasi hewan gaib dari dimensi lain ke dunia nyata, merasa sedikit bersalah.
"Bisa saya meminjam dua pasang pedang kayu, Pakde? Saya kangen belajar sama anak-anak," pinta Pandji.
Pakde Noto meminta asistennya untuk mengambilkan pedang yang dimaksud Pandji.
Pandji melemparkan dua pedang kayu ke arah Tirta dan dua diberikan kepada Mahesa. "Kalian belajar bersama Aswanta dulu ya?!"
"Murid siap, Maha Guru!" Tirta membungkuk pada pemuda tampan yang langsung menggertakkan gerahamnya.
"Ayo … kita ke tempat latihan!" ajak Aswanta pada kedua teman barunya. Hatinya senang melihat ekspresi jengkel Pandji karena Tirta menyanjung dengan berlebihan.
"Baik, Guru!" sahut Tirta seraya menjura sopan pada Aswanta.
__ADS_1
Melihat hal itu, sudut bibit Pandji berkedut. Tidak disangka pemuda konyol itu begitu memuja dirinya dan Aswanta.
Aswanta menatap Tirta stagnan, "Sekali lagi kau panggil aku guru …," ancam Aswanta dengan nada sadis. Pedang kayunya diumpamakan menggorok lehernya sendiri.
Tirta mengangguk takut, dia dan Mahesa mengikuti Aswanta, berbaur dengan yang lain di dalam arena latihan pedang. Sementara Pandji pergi ke arah murid-murid belajar sihir.
Pandji tersenyum lebar mendapati muridnya belajar dengan sungguh-sungguh meskipun dibimbing oleh putra Pakde Noto.
Pemuda tampan itu masuk ke dalam lokasi dan langsung merapal mantra. Posisinya yang berada di tengah kelompok latihan menjadi pusat perhatian semua mata.
"Aku senang kalian tetap aktif belajar … aku juga serius ingin mencoba sejauh mana kalian bisa bertahan," seru Pandji dengan suara dingin.
Udara memanas seketika, semua murid sihir merapal mantra ... bersiap siaga terhadap sesuatu. Tak lama suara menggelegar terdengar memekak telinga, satu petir besar turun dari angkasa.
Hujan petir di area berlatih sihir tak terelakkan, petir merah panas menyambar setiap murid yang berada satu arena dengan Pandji.
Hasilnya … sebagian muridnya pingsan, sebagian lagi masih berdiri dengan wajah pucat seperti tidak punya darah.
Pandji masih merentangkan tangan, mendinginkan suasana dan memberikan perintah tegas. "Stabilkan pernafasan kalian!"
Serentak, murid yang tidak jatuh pingsan mengambil duduk bersila dan memulai latihan pernafasan.
"Hm … not bad!" gumam Pandji senang. Petir merah dari Romo Guru yang dipraktekkan Pandji dengan setengah tenaga dalamnya masih terlalu kuat untuk ditahan murid-muridnya.
__ADS_1
Pakde Noto yang menemani Pandji membeliakkan mata, "Petir Merah Ksatria Ganendra?"
"Ada apa, Pakde?" tanya Pandji dengan wajah stagnan. Senyumnya menghilang mendengar jurus sihirnya disebutkan lengkap Pakde Noto.
"Saya pikir itu hanya legenda, karena dalam sejarah Ganendra hanya beberapa orang saja yang mampu menguasainya. Jurus itu membutuhkan tubuh khusus untuk bisa menyatu." Pakde Noto tidak berhenti mengamati Pandji dari atas sampai bawah.
"Oh …," jawab Pandji tak acuh.
"Darimana Mas Pandji mendapatkan ilmu itu?" tanya Pakde Noto penasaran.
"Orang yang ngaku-ngaku leluhur, Pakde! Romo Guru panggilannya!"
"Hah?" Pakde Noto mengusap liurnya yang hampir jatuh. "Beliau … belum pernah datang secara khusus untuk menemui keturunannya. Konon orangnya sangat angkuh."
"Kok Pakde tau?"
"Sebagai abdi dalem trah Ganendra, Pakde juga mendapatkan cerita turun temurun dari tiap generasi. Hanya saja Romo Guru itu yang paling luar biasa diantara semua Ksatria Ganendra," jelas Pakde Noto.
Pandji hanya menjawab dengan nada monoton, "Oh gitu ya?!"
Melihat ekspresi biasa-biasa saja di wajah Pandji, Pakde Noto merasa tertekan dan hanya bisa bergumam lirih seraya menggelengkan kepala ringan. "Cuma itu tanggapannya? Keturunan Ganendra memang … sedikit nyeleneh!"
***
__ADS_1