SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 61


__ADS_3

Pandji membuka gulungan perkamen kuno berwarna coklat, mengernyit dan membolak balik perkamen yang memang hanya satu lembar itu dengan wajah bodoh.


"Kosong?" Pandji mendongakkan wajah dan memandang Romo Guru dengan penuh tanya.


"Tidak ada apapun di sana?" tanya Romo Guru tak yakin. Wajahnya yang serius berubah menjadi jenaka.


Mengapa aku merasa kena prank pria angkuh yang ngaku-ngaku leluhurku ini?


Pandji menggeleng dalam diam. Namun, sorot matanya menuntut jawaban dan telinganya mulai tak sabar menunggu penjelasan.


"Ada simbol bulat di bawah kanan?" Romo Guru mengangkat kedua alis, memberi kode perintah untuk Pandji melihat kembali pada perekamannya.


Pandji menunduk dan meneliti dengan seksama tiap inchi lembaran selebar buku dengan panjang tidak lebih dari setengah meter.


Menemukan lingkaran kecil yang samar tercetak di pojok kanan bagian bawah gulungan, Pandji mengangguk dan tersenyum senang. "Apa perkamen sebesar ini hanya berisi satu simbol, Romo?"


"Ikuti Romo membaca mantranya lalu teteskan darahmu pada simbol itu." Pandji menurut, mendengarkan dengan seksama lalu melafalkan mantra itu sepenuh hati.


Melukai jari telunjuknya dan mengoleskan darah yang sedikit keluar tepat di tengah bulatan kecil. Selanjutnya Pandji hanya menunggu keajaiban seperti dalam film yang ditontonnya.


Darah yang hanya setetes pada simbol bulat seketika menyala merah dan menyebar ke seluruh lembar perkamen, memunculkan simbol-simbol lain yang beberapa sudah dilihat Pandji dalam koleksi buku sihir perpustakaan rumahnya.


Selain simbol yang biasa dipakai untuk membuat sigil, ada gambar heksagram yang memuat tujuh bintang segi enam di dalamnya. Pandji menebak itu adalah gambar Bintang Daud bertumpuk.

__ADS_1


Satu hal yang membuat Pandji menggerutu adalah ada tabel seperti aksara Jawa tapi lebih lama dari yang dia kenal sekarang, yaitu aksara carakan atau umum disebut hanacaraka.


"Ini aksara apa, Romo Guru?”


“Itu aksara Jawa kuno, umumnya dinamai aksara kawi. Aksara itu leluhurnya carakan yang ada sekarang."


Maksudnya aku harus bisa belajar membaca aksara ini? Leluhurku benar-benar budiman tapi kurang kerjaan.


Pelajaran membaca, menggambar dan menghitung dimulai dengan khidmat, Pandji tak mampu bergeser duduk sedikitpun.


Pandji juga tidak ada keberanian untuk menolak pengajaran yang menurutnya membosankan dan sia-sia. Sampai pada titik Romo Guru mengajarkan cara membuat sigil pelindung, Pandji baru menyimak dengan lebih serius.


Penjelasan mengenai semua simbol yang baru dilihatnya, cara membuat heksagram bertumpuk dan cara membaca aksara Kawi ternyata tak membutuhkan waktu lama.


Romo Guru tersenyum bangga, “Tidak sulit kan? Tugasku memang hanya mengingatkan pelajaran itu!”


Pandji mengangguk sopan dan ikut tersenyum. “Apa sudah selesai pengajarannya, Romo? Kalau sudah … saya ingin jalan-jalan."


"Baiklah, ayo Romo temani!"


Pandji turun dari bale-bale dan berdiri celingukan, hanya dalam satu kedipan mata dia sudah kehilangan jejak pria angkuh yang tadinya duduk di kursi yang bahkan masih bergoyang.


Bermaksud mencari, Pandji melangkahkan kaki ke samping rumah. Namun, belum juga tiga kali melangkah, tubuhnya tersambar naga hitam yang melesat membawanya entah kemana.

__ADS_1


Menemani jalan-jalan? Ini jalan pulang … aku benar-benar ditipu leluhurku sendiri?!


Telinga pandji berdengung seperti kemasukan air, kesadarannya menipis dan hilang bersama lesatan kilat sang naga.


Suasana yang tadinya sepi senyap kini berisi suara teriakan-teriakan dari jauh. Telinga pandji mendengar suara lolongan binatang yang tak asing akhir-akhir ini. Gelombang aura gelap yang tadi tidak ada mulai terasa kuat.


Pandji membuka mata dan mendapati kelas telah sepi. Melirik jam tangannya, Pandji merasa heran, seharusnya jam istirahat sudah selesai lima menit yang lalu, tapi kenapa tidak ada satu siswa pun yang kembali ke kelas?


Pandji menguap dan mengusap liur yang hampir menetes, melongok ke arah jendela untuk melihat luar kelas, mencari dari mana suara riuh siswa siswi berada.


Satu penjaga sekolah yang berkeliling berteriak di depan pintu kelas, "Kamu … pergi ke aula sekarang!"


"Ada apa, Pak?"


"Beberapa anak kesurupan dan membuat onar, melolong dan menyerang siswa lain dengan brutal. Ayo ke aula … di sana lebih aman daripada di dalam kelas! Mereka yang kerasukan tak terkendali dan berkeliaran di seluruh area sekolah!"


"Baik, Pak. Saya ke aula sekarang, bapak bisa keliling ke kelas lain barangkali ada siswa yang belum diamankan seperti saya tadi."


Pandji merapikan buku dan tasnya, lalu keluar dengan menggerutu dalam hati.


Bisa-bisanya aku ditinggal sendiri di dalam kelas, dasar teman tidak tau diri!


Pandji keluar kelas dan berjalan ke arah berbeda, bukan ke arah aula tempat anak-anak lain menyelamatkan diri, tapi Pandji pergi ke arah aura gelap yang memanggilnya pada siang hari.

__ADS_1


***


__ADS_2