
Pandji mengeluh saat dibangunkan untuk sarapan, tidurnya kurang lama dan dia merasa lelah. Matanya berat saat dibuka meski sudah digosok dengan tangan beberapa kali.
Subuh tadi saat meditasinya gagal, Pandji justru mendapati ada kotak kayu berukir di depannya. Dari energi yang merembes keluar, dia tau kalau itu sebuah pusaka … dan entah mengapa yang diingat Pandji adalah sahabatnya, Aswanta.
Karena mata masih mengantuk, Pandji duduk di meja makan dengan malas. Gia, adiknya yang paling perhatian langsung menyapa, menawari makanan. "Mas Pandji mau sayur apa?"
Pandji menguap, "Bening bayam."
"Lauknya dadar jagung?"
"Hm … sama kentang mastopan," jawab Pandji enggan.
Gia terkikik geli, "Kentang mustofa, Mas Pandji …!"
"Iya itu …," Pandji hanya diam mendengarkan Gia yang banyak bicara selama makan.
Bercerita tentang salah satu temannya yang mendadak kejang-kejang saat sedang pelajaran di kelas.
Kedua orang tua Pandji menyimak seksama berita dari putrinya. Menanyakan beberapa hal penting menyangkut keluarga dan respon pihak sekolah dengan adanya insiden tersebut.
__ADS_1
"Pak Karsa itu kan mengajar di kesatrian milik Paman Candi, Ibunda. Jadi Beliau yang menangani teman Gia sampai sembuh!" jelas Gia yang belum merasa aneh dengan ceritanya.
"Gia yakin kalau anak itu sudah sembuh beneran?" tanya Ibunda Pandji. Tangannya sibuk menambahkan sayur pada piring putrinya yang mulai kosong.
"Gia nggak tau, Ibunda. Cuma … di kelas anaknya jadi pendiem, melamun, matanya sering melihat ke atas!" lanjut Gia dengan ekspresi ngeri. "Oh ya, bisakah hari ini Gia libur makan sayur, Ibunda?"
Pandji menyeringai, tabiat adiknya berkebalikan dengannya. Menghindari makanan nabati. "Kamu itu bukan karnivora!"
"Mas Pandji juga bukan herbivora," balas Gia merengut.
"Tapi kamu kan nggak punya alergi kayak Mas Pandji," kata Raksa ikut memaksa adiknya agar memakan apa saja yang ada di meja seperti dirinya. "Contoh nih ...!" sambung Raksa seraya mengambil sayur dan juga beberapa lauk hingga piringnya penuh lagi.
"Raksa … itu berlebihan namanya!" Ibunda Selia hanya menggeleng melihat gaya makan putra keduanya yang selalu semangat seperti orang kelaparan.
Aswanta dan Mika hanya diam, sesekali ikut mengulum senyum.
"Mas Pandji ada acara di luar hari ini?" tanya Ayah Pandji dengan raut sedikit muram.
"Pandji sama Aswanta mau ketemu Pakde Noto di kesatrian, Ayah. Apa ada sesuatu yang harus Pandji kerjakan di rumah?"
__ADS_1
"Paman Candika ingin bertemu denganmu, mungkin setelah ini dia datang."
"Baiklah … apa Tante Risa sudah baik-baik saja?" Pandji mengelap mulut setelah menghabiskan makan dan minumnya.
Ayah Pandji menjawab datar, "Secara fisik sehat, tapi masih terguncang dengan kejadian kemarin itu. Kadang masih menangisi kepergian Ayunda."
"Serangan di sekolah Pandji kemarin itu didalangi Badrika sendiri, Ayah! Pandji tidak menyangka mereka muncul di siang hari," keluh Pandji tak kalah muram.
"Ayah rasa Badrika sedang mempelajari sesuatu, kejadian di sekolah Gia dan Raksa juga hanya memancingmu keluar, agar Mas Pandji menghabiskan tenaga disana. Juga memecah fokus dan mengukur sejauh mana kekuatan Mas Pandji saat ini."
Setelah makan, Ayahnya mengajak Pandji, Mika dan Aswanta ke pendopo depan untuk melanjutkan obrolan sambil menunggu kedatangan Paman Candika.
“Pandji khawatir dengan pemandangan gelap yang menggantung di sana, Ayah!" tunjuk Pandji ke atas, ke arah birunya langit pagi.
Menghembuskan nafas berat, Ayahanda Pandji berbicara pelan, "Portal itu akan terbuka bersama dengan terbukanya buku sihir yang Mas Pandji simpan. Para iblis akan mengerahkan kekuatan besar untuk merebut buku itu darimu. Rumah ini kemungkinan akan jadi pusat medan tempur."
“Keluarga kita dalam bahaya besar, Ayah. Apa bisa kita mengungsikan seluruh orang ke tempat aman?” Pandji mengusap wajah mengantuknya yang semakin tampak lelah.
Kepala Ayah Pandji menggeleng berat, "Rumah ini adalah tempat teraman."
__ADS_1
Pandji memijat kepalanya yang berdenyut sakit, melihat ke arah Mika yang diam dengan ekspresi pusing. Lalu menatap Aswanta yang pucat seolah sudah kehilangan sebagian nyawanya.
***