
Di dalam kamar, Mika sudah sadar dan sedang bercerita pada Ibunda Pandji apa yang baru saja terjadi padanya. Dia sudah baik-baik saja berkat Ibunda Pandji, sihir gelap Bian yang baru saja masuk tubuh Mika sudah dinetralkan.
Gia yang tidak mengerti pembicaraan hanya diam menyimak dan menahan ngeri, dalam bayangannya Biantara bisa merubah wujud menjadi monster mengerikan pada bulan purnama seperti dalam cerita werewolf.
Kedatangan Pandji menggendong perempuan lain mengagetkan mereka bertiga. Ibundanya langsung berdiri dan menyambut Pandji, membantu putranya untuk membaringkan Elok di atas ranjang Mika.
"Ada apalagi ini, Mas Pandji?" tanya Ibunda Pandji dengan raut panik.
"Bisakah Ibunda menolong Elok? Dia dalam pengaruh mantra Biantara, sedikit parah …," ujar Pandji singkat.
Ibunda pandji langsung paham dengan keadaan Elok, "Mika, Gia dan Ratna di luar saja!"
Tanpa menunggu mereka bergerak meninggalkan kamar Mika dengan menyimpan rasa penasaran di dalam kepala.
Ibunda Pandji mengusap wajah Elok dan menekan titik yang berada dua jari di atas buah dada kiri Elok, "Ini bukan hanya pengaruh mantra mas, ada sesuatu yang mengendalikan Elok dari dalam."
__ADS_1
Pandji memejamkan mata dan berkonsentrasi, setelah membaca mantra dia mengusap telapak kaki Elok. Bayangan makhluk hitam bertaring dengan mata serupa lobang hitam mendekam dalam tubuh Elok.
Rupanya Bian memberikan satu penjaga untuk menguasai tubuh dan pikiran gadis yang diinginkannya!
“Ibunda akan membantu mengeluarkannya, dia akan kembali masuk ke tubuh Elok jika kamu tidak menyelesaikannya sampai tuntas.”
“Baik, Ibunda. Pandji akan mengurus iblis itu begitu dia keluar dari tubuh Elok.”
Pandji fokus melihat Ibundanya yang sedang menghisap energi gelap dengan telapak tangan kanannya yang menempel tepat di atas dada kiri Elok.
Sigil pada telapak tangan Ibunda Pandji menyala keemasan, perlahan menyebar ke seluruh tubuh Elok dan mengumpul di area perut. Selanjutnya warna emas itu sudah bercampur dengan warna hitam dan terserap masuk kedalam telapak tangan Ibunda Pandji seperti debu masuk ke dalam selang penghisap.
Awan gelap yang berubah bentuk menjadi bayangan makhluk buruk rupa itu mulai menghilang, pergi ke alam lain. Pandji yang telah bersiap, mengejar makhluk hitam itu dengan cara melintasi dimensi.
Memikirkan kedua pedangnya, secara ajaib benda itu muncul di depannya seperti sulap. Pandji memegang keduanya dan menghadang iblis yang menyeringai memamerkan taringnya.
__ADS_1
Pandji tidak lagi melihat bayangan hitam, tapi makhluk itu memiliki wujud nyata dalam dimensinya. Tinggi menjulang dengan tangan lebih panjang sehingga nampak tak seimbang. Kuku tajam keluar perlahan, memanjang dan melengkung seperti bulan sabit.
"Kau sungguh hamba Tuhan yang tidak ada manis-manisnya!" seru Pandji dengan ekspresi jijik.
Makhluk hitam besar itu menyeringai, mendongak lalu melolong panjang. Tubuhnya melengkung dalam sampai tangannya menyentuh pijakannya, siap menerkam.
"Jadi kau ini apa? Iblis atau sejenis gorila?" ejek Pandji seraya mengambil posisi kuda-kuda kuat dan menyilangkan kedua pedangnya.
Monster itu melompat dan menerkam dengan ganas, tapi langsung menghindar dan berkelit saat Pandji membabatkan pedangnya. Tebasan Pandji hanya mengenai tempat kosong dan itu membuat Pandji bergerak lincah memburu musuhnya.
Mana sihirnya menguap, membentuk energi panas yang langsung membuat pedang bergagang hitam emas itu memijar. “Bakar penghuni neraka itu, Asih!”
Pandji melompat dan membuat tusukan dengan tangan kirinya yang memegang pedang hitam, ketika makhluk itu salah langkah saat menghindar, sabetan pedang Pandji pada lehernya telak tak terhindarkan. Asih Jati langsung membakar kepala yang terlepas dari tubuh dan mengubahnya jadi abu.
Makhluk hitam besar yang kehilangan kepala masih bergerak serabutan, tak lama jatuh meleleh dan menghilang begitu saja.
__ADS_1
Pandji menghela nafas lega, dia segera kembali melintas dimensi untuk melihat kondisi teman kecilnya.
***