
Iblis jangkung yang berdiri di depan Pandji tidak datang sendiri. Satu anggota sepuluh iblis darah yang memanggilnya ikut bergabung kembali dengan dua iblis kembar bertubuh gempal dan bertanduk. Pandji kembali harus menghadapi empat iblis dan entah berapa banyak lagi yang akan datang jika dia tidak segera pergi menyusul Mika.
Melihat iblis kembar datang, iblis jangkung menyeringai lebar, merasa di atas angin. Dengan tatapan menghina dan tangan menghunus pedang, iblis jangkung berbicara sinis pada Pandji. "Masago, si iblis pedang setan siap mencingcangmu!"
Mendengar pimpinan prajurit iblis penjaga penjara sudah memperkenalkan diri dan akan beraksi sendiri, dua iblis kembar serentak tidak setuju.
"Masago! Biarkan kami yang turun tangan, percayakan bocah ingusan itu pada kami!" Dua pedang iblis kembar juga dihunus ke arah Pandji, suaranya menderu seperti badai di musim hujan.
"Aku tidak keberatan jika kalian ingin maju bersamaan," sahut Pandji monoton. Dia tidak ingin membuang waktu lebih banyak untuk meladeni para penjaga satu persatu.
"Arogan sekali kau bocah ingusan! Seharusnya kau masih memakai popok di duniamu, datang kesini tidak akan membawa keberuntungan untukmu!" Iblis kembar tidak menunggu persetujuan Masago, mereka berdua langsung menghambur ke arah Pandji dan melancarkan serangan-serangan mematikan.
Iblis pimpinan yang bernama Masago kembali menyeringai, dia jelas tidak sependapat dengan iblis kembar yang menganggap Pandji sebagai bocah ingusan. Sebagai iblis tua yang sudah hidup beberapa abad dalam lingkungan istana, dia sedikit mengenali aura kegelapan yang sangat besar merembes keluar dari dua pedang sihir yang sedang digunakan Pandji, dan itu membuktikan pemiliknya bukan orang biasa.
__ADS_1
Masago mengamati setiap pergerakan dari dua iblis kembar yang mendadak kesulitan menghadapi Pandji. Jangankan menorehkan luka, menyentuh baju pemuda itu saja belum. Masago jadi memiliki kekhawatiran tersendiri meskipun dia enggan mengakui.
"Ada apa pimpinan? Anda terlihat risau!" tanya anggota sepuluh iblis darah yang tadi menjemputnya. Bola matanya bergantian menatap ke arah Masago dan juga ke arah pertarungan.
"Apakah menurutmu pemuda ini ada hubungannya dengan putra angkat iblis yang melarikan diri dan menghilang beberapa abad lalu?" Bukannya menjawab, Masago justru balik bertanya untuk memastikan firasatnya.
"Maksud anda Damar?" Anggota sepuluh iblis darah bertanya tanpa menahan rasa terkejutnya.
"Ada aura gelap yang begitu mirip Damar, juga mirip dengan Mpu tua yang mendiami dunia paling bawah. Aku sedikit menaruh curiga," terang Masago dalam keraguan. Firasat buruknya selama beberapa hari terakhir sepertinya berhubungan dengan kedatangan pemuda yang sedang serius bertarung dengan dua iblis kembar.
Namun, melihat situasi yang sedang terjadi, Masago mengeluh dalam hati. Dia menilai pemuda ingusan yang sedang menghadapi dua iblis kembar itu terlalu mudah untuk menghindar ataupun menangkis.
Sudah umum dalam dunia ksatria kalau satu orang sakti bisa saja membuat ulah dan menimbulkan kerusakan lebih besar daripada peperangan yang melibatkan jumlah lebih banyak, dan dia sedang risau kalau anak muda berwajah malas ini salah satunya.
__ADS_1
Masago menyesal tidak mengingatkan dua iblis kembar yang sekarang sudah sangat terdesak. Bahkan salah satu bawahannya itu sudah kehilangan satu tangan sebelum dia sempat bergerak untuk membantu.
“Pimpinan … pemuda itu sungguh berbahaya, dia sama sekali tidak menahan diri dan bergerak terlalu cepat. Aku tidak bisa mengikuti arah pedangnya!” kata anggota sepuluh iblis darah panik.
“Mungkin kau perlu ke istana dan menghubungi panglima sekarang! Aku tidak yakin apakah aku juga bisa menahannya,” seru Masago seraya mengangkat pedang dan melompat masuk ke dalam pertarungan.
CRASS!!!
Satu iblis darah yang tersisa melotot mendapati pandangannya berputar di antara kaki Masago, menggelinding sebentar lalu meledak menjadi serpihan abu. Iblis darah yang terakhir lenyap tanpa menyadari kalau kepalanya lepas dari tubuh karena Pandji melemparkan pedang birunya saat dia baru saja akan bergerak menuju istana.
Masago mengumpat kasar melihat kejadian cepat yang juga tidak bisa dihentikannya. Pemuda yang dikira ingusan ini benar-benar menggetarkan nyalinya.
Wajah dingin tanpa ekspresi dan mata kejam yang menuntut kematian, bagi Masago jelas bukan tipe manusia yang mudah dihadapi. Masago mulai menilai kalau pemuda tersebut pasti jenis manusia yang tidak punya hati melihat kekejamannya menghabisi bawahannya.
__ADS_1
"Aku rasa iblis darah itu benar, pemuda ini sangat berbahaya!" gumam Masago lirih. Matanya tak berkedip melihat Pandji sudah menangkap kembali pedang birunya yang berputar di udara seperti gasing. Pedang yang baru saja menghapus legenda sepuluh iblis darah dalam kiprahnya sebagai ksatria elite istana.
***