
Mika mengeluh mual dan pusing, dia meminta Pandji mengantarnya ke kamar agar bisa istirahat lebih cepat.
Pandji menolak dengan menggeleng kepala, "Aku akan memanggil Gia dan Ratna, mereka yang akan menemanimu istirahat!"
"Tapi …," tolak Mika tanpa memberikan alasan yang jelas. Wajahnya merona merah dan tubuhnya bereaksi dengan tidak biasa hanya karena melihat Pandji.
Mika mulai kesulitan mengatur kecepatan detak jantungnya, dia mulai sadar ada yang salah saat dia bersitatap dengan Biantara. Yang tak dimengertinya adalah dia tidak tertarik pada Bian, tapi dia sangat menginginkan Pandji mendekapnya.
Pikirannya kacau dan liar, bagaimanapun Mika berusaha menolak mantra sihir Biantara dengan kekuatannya ... dia justru makin kehabisan tenaga dan kehilangan kewarasannya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Pandji resah melihat cepatnya perubahan Mika.
"I want you …," bisik Mika dengan muka merah, dia spontan menutup mulutnya dengan tangan. "Tolong aku!"
Pandji membuka kedua tangannya saat Mika mendadak maju memeluknya, belum sempat Mika melakukan hal yang diinginkan dari bibir Pandji dia sudah jatuh pingsan.
Dengan mantra sihirnya, Pandji menekan tengkuk Mika, meniup ubun-ubun kakaknya dan membuatnya kehilangan kesadaran.
Pandji berteriak pada adiknya yang kebetulan lewat, "Raksa … bantu angkat kak Mika ke kamar, bilang Ibunda untuk membantu menyadarkannya!"
Raksa yang melihat Mika lemas dalam pelukan Pandji langsung mengambil alih, dibantu Ayahnya mereka membawa Mika masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Pandji menggertakkan gigi dan mencari Biantara, dia sudah tidak sabar menunggu hari pertandingan tiba. Pandji ingin menghajar Bian saat itu juga karena sudah memperdaya Mika dengan mantra kotornya.
Melihat Bian ada di sudut lain sedang memegang minumannya, Pandji berniat mendatanginya. Dia membawa jus jeruk dan berjalan santai mendekati pria aneh yang sudah menantangnya lewat kakak cantiknya.
Pandji harus menahan diri karena ada Elok yang berdiri di sebelah Bian seperti patung hidup. Dengan ramah Pandji menyapa Elok, "Aku ingin bicara dengan Biantara, bisakah kamu menunggu di tempat lain?
Gia ada di dekat tempat makan jika kamu butuh teman, kamu kan udah kenal sama dia."
Elok tetap bergeming pada tempatnya, tidak ada tanda-tanda dia mau menuruti permintaan Pandji. Sungguh bukan Elok yang Pandji kenal.
Melihat itu sudut bibir Pandji terangkat, dia menatap geram pada Bian dengan ekspresi menghina. "Katakan pada Elok kalau ini urusan pria, dia hanya menurutimu bukan?"
Elok hanya mengangguk setelah memperbaiki posisinya yang hampir jatuh karena didorong Bian, dia melangkah lamban dengan tatapan mata kosong.
Pandji menautkan kedua alis melihat cara Bian memperlakukan teman kecilnya, dia mengutuk dalam hati.
Aku tidak menyangka akan separah itu akibatnya pada Elok!
Bian tertawa melihat kegusaran Pandji, "Kaget ya Elok lebih menurut padaku?"
"Itu bukan cara pria bangsawan beretika untuk mendapatkan wanita idamannya," sindir Pandji datar.
__ADS_1
"Orang tuanya sudah setuju, mereka menyerahkan teman kecilmu itu padaku! Jadi kau mau apa?"
Kali ini Pandji yang tersenyum, "Aku hanya ingin mengingatkan bahwa kau tamu di rumahku, alangkah baiknya kau menjunjung tinggi kesopanan pada Mika sebagai tuan rumah dengan tidak melakukan hal menjijikkan padanya.
Kau sengaja memancing emosiku agar segera bisa membalaskan dendam adikmu yang me*sum itu ha?"
Bian menyeringai berbahaya, angin dingin menyapu tubuh Pandji, mengibarkan rambut hitam dan bajunya sesaat. "Akan kurobek mulut pedasmu itu!"
Gelas kosong yang ada di tangan Biantara melayang ke arah Pandji, dan dengan kecepatan tak terlihat mata sudah pecah menjadi ribuan beling dan luruh ke tanah.
Pandji hanya mengangkat alisnya melihat gelas yang hampir menyentuhnya seperti menabrak dinding tembus pandang. Dia membekukan udara di sekitarnya untuk melindungi diri bersamaan dengan Bian melempar gelas tersebut.
"Bian …!" Paman Candika mendekat dan menegur muridnya, "Jangan membuat ulah di sini!"
"Jangan ikut campur, Guru!" ujar Bian tak acuh.
Pandji yang merasakan luapan mana sihir di sekitarnya pun bersiap.
Tak perlu menunggu lusa, lebih cepat lebih baik, kamu jual aku beli, Bian!
***
__ADS_1