SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 48


__ADS_3

Bagian belakang rumah Paman Candika yang tak pernah dilihat Pandji saat dulu sering datang bermain ternyata cukup besar.


Ada satu rumah terpisah dengan bagian induk yang cukup asri karena memiliki taman bunga. Kesan perempuan sangat kental pada bangunan yang terpisah dengan rumah induk, sangat terawat dan indah dengan warna girly.


Pandji dan kedua orang tuanya di ajak Paman Candi dan Tante Risa untuk mendatangi bangunan dengan pintu yang masih tertutup rapat.


Makin dekat aura aneh yang dirasa Pandji makin menekan, lebih hitam dari milik paman Candi dan lebih menyesakkan dada daripada aura Biantara.


Pintu dengan warna merah muda di depannya membuat Pandji waspada, hatinya bergejolak dan emosinya naik begitu saja tanpa sebab yang jelas.


BRAK!!!


Serpihan kayu terbang ke udara dengan jumlah ribuan, hempasan angin keras seperti badai lokal keluar dari ruangan itu bersamaan dengan gadis belia hitam manis seumuran Raksa.


Makhluk mungil itu adalah anak kedua dari Paman Candi dan Tante Risa. Arum Kusuma.


Pandji mengerutkan dahi dan menatap hampa pada gadis manis berusia lima belas tahun yang berdiri tak jauh di depannya.

__ADS_1


Sementara kedua orang tua Pandji hanya menaikkan alis sedikit dan tercekat miris pada anak perempuan sahabatnya yang terlihat mencengangkan.


"Ada apa ini, Paman?" tanya Pandji datar. Matanya tak lepas dari gadis kecil yang juga hanya menatapnya dari sejak keluar rumahnya.


Menghancurkan pintu jelas bukan cara putri bangsawan keluar rumah!


Tante Risa yang tak menyangka putrinya keluar dengan cara brutal hanya mengelus dada dan memegang erat lengan suaminya, "Arum … sayang!"


"Mas Pandji masih kenal sama adik Badrika?" Bukannya menjawab pertanyaan Pandji, Paman Candika justru balik bertanya.


"Tentu saja, Paman. Itu Arum kan? Tapi apa yang terjadi padanya?"


"Pandji masih tak mengerti, Paman!" ucap Pandji perlahan. Dia agak bergidik melihat senyum Arum yang tertuju padanya. Lebih tepat jika disebut seringai mengerikan.


"Arum tak pernah seperti ini saat siang, biasanya hanya kumat seminggu sekali. Itupun pada malam hari, tepat jam dua belas. Dia kambuh setiap malam jumat, Mas Pandji!"


Suara Paman Candi lebih lirih daripada sebelumnya. Menatap tak berdaya pada putrinya yang mendadak tergelak tanpa alasan.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayahanda. Tak terkira senangnya Arum karena dibawakan ksatria muda, darahnya sudah tercium dari sejak tadi. Arum sudah tidak tahan ingin mencicipi manisnya!"


Arum dengan mata membeliak, mengendus udara sambil mendongak lalu melolong seperti serigala.


Semua mata mengamati dengan tak percaya, "Arum … dengarkan dulu! Ayahanda mengundang mereka untuk menyembuhkanmu, Nak!"


“Arum sama sekali tidak sakit, Ayahanda tau pasti soal itu!" seru Arum menatap sadis kedua orang tuanya.


“Mas … mohon maaf ketidaksopanan putri saya, seperti yang sudah saya jelaskan tadi waktu di rumah sakit. Beginilah keadaannya, tapi ini sungguh di luar dugaan,” ujar Paman Candika pada Ayahanda Pandji yang hanya menanggapi dengan mengangguk.


Arum yang sedang senang berjalan memutari Pandji, hidungnya kembang kempis mencium aroma Pandji. Mulutnya membuka dan terkekeh sambil bergumam, “Pancen bagus tenanan awakmu, nggak salah nek aku kesengsem.”


Pandji menyimpan rasa terkejutnya, aura yang dirasakan dalam mimpinya persis ada di sekitarnya. Membayangi dan membungkusnya dengan perlahan.


Bau harum tubuh wanita cantik dalam mimpinya tercium kuat menguar dari tubuh Arum. Pandji mulai bisa melihat dua jiwa dalam satu raga.


Arum yang tertindas dan tersiksa di dalam tubuhnya sendiri, tak lagi punya kekuatan untuk merebut kembali jasadnya.

__ADS_1


***


__ADS_2