SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 52


__ADS_3

Mika menyerahkan dua belati hitam dengan bilah yang sangat tajam dan ujung meruncing kecil.


Pendar warna merahnya memudar begitu Pandji memegang keduanya. Mengamati cukup lama, Pandji mengagumi dan berdecak, "Ini barang bagus dan keren, Mika! Darimana kamu mencurinya?"


"Pandji …!" seru Mika membelalakkan mata dengan ekspresi sengit.


"Oke … oke, nggak perlu marah. Jelaskan saja tentang belati ini! Menarik, bertuah besar dan ya … cocok untuk dipakai perempuan."


Mata Pandji mengamati bagian gagang belati, menggenggam dan menghadapkan bilah tajamnya kebawah. Lingkaran sihir kecil terlihat pada ujung gagang yang menghadap atas.


"Itu hadiah ulang tahun dari Mama dua tahun lalu," jawab Mika malas.


"Wow … aku penasaran darimana Tante Lucia mendapatkan ini!" Pandji menekuk tangannya, melakukan gerakan tusukan ringan lalu tergelak.


"Bisakah kamu berhenti penasaran dengan hal ini itu yang sekiranya tidak penting?"


"Ini kan penting … dan penasaran mengalahkan segalanya!" Dua belati itu dihujamkan Pandji di tempat hampa lalu memberikannya pada Mika.


"Ya … ya, Mama mendapatkan itu dari koleksi kakek," kata Mika seraya menerima dua belati dan menyimpannya di pinggang kiri dan kanan.


"Hm … aku pernah dengar dari Oma kalau kakekmu adalah kolektor benda antik dan juga mistik. Baiklah, aku sudah tidak penasaran lagi dengan belatimu."


Mika melipat tangan di depan dada, bersedekap tak percaya, "Lalu apa lagi?"

__ADS_1


"Aku penasaran kamu mau pergi kemana dengan kostum begitu di tengah malam begini?"


"Ingat adik Biantara yang menggodaku di resto waktu kita makan? Dia menantang dan ingin bertemu denganku sekarang," keluh Mika muram.


"Bagaimana laki-laki beradab dan berdarah bangsawan mengajak duel perempuan? Itu terdengar tidak masuk akal, Mika! Jangan mengada-ada cerita atau aku laporkan kamu pada Ayahanda!"


Mika berkacak pinggang, "Aku tidak cukup bodoh melakukan hal itu jika Neta teman baikku tidak mendadak kesurupan dan kehilangan dirinya.


Kamu tau apa yang kulihat di mata Neta? Makhluk bermoncong buruk rupa yang melolong dengan mulut Neta."


"Astaga … jadi makhluk itu sudah memulai aksinya dengan inang siapa saja?"


"Jika aku tak bertindak pada iblis yang sekarang berada pada tubuh adik Biantara itu, bukan mustahil besok dia akan mengendalikan semua temanku dan juga diriku sebagai target utamanya." Mika menurunkan tangannya dan berjalan menuju pintu depan rumah.


"Kamu tidak bisa pergi ke rumah Biantara sekarang, Mika! Ini jebakan," seru Pandji menarik tangan Mika dengan keras hingga gadis cantik itu mengaduh karena berbalik menabrak Pandji.


"Aku serius, perhatikan suasana di luar rumah dan rasakan aura gelap pekat itu berkumpul di selatan, Mika. Rumah Biantara … aku tidak mengizinkan kamu keluyuran sendirian. Kamu lupa apa yang baru saja terjadi denganku?"


Mika menatap ke arah lain meski tubuhnya masih berhadapan dengan Pandji, "Bekas luka di punggungmu kenapa tidak hilang?"


Dua guratan diagonal yang melintang dari bahu kiri hingga pinggang kanan Pandji yang dimaksud Mika memang jelas terlihat seperti bekas luka cakaran binatang buas yang sudah mengering.


Pandji melepas tangan Mika, "Aku tak peduli … yang penting aku selamat, anggap saja sebagai kenang-kenangan. Harga yang harus kubayar karena terlalu penasaran, keras kepala dan tidak mau mendengarkan!"

__ADS_1


"Harusnya aku ada di sana saat makhluk buas itu melukaimu kan?" tanya Mika dengan raut bersalah.


"Tidak!" jawab Pandji tegas.


"Kamu itu memang keras kepala, kamu selalu berpikir aku tidak bisa apa-apa, aku tidak punya kemampuan dan aku adalah wanita tak berguna!" kata Mika kesal.


"Bukan begitu, Mika!" Pandji memasang wajah tak tega, dengan rumit dia melanjutkan, "Aku takut kamu akan terluka, itu alasannya aku tidak bisa mengajakmu ke tempat berbahaya!"


"Nonsense!" (Omong kosong!)


"I'm not joking!" (Aku tidak sedang bercanda!)


"Coba aku sekarang juga!" tantang Mika tanpa berkedip menatap mata Pandji. "Just try me!"


Mata Pandji berkedip tak percaya. Ekspresinya seperti orang pusing dan isi kepalanya mulai liar melihat wajah Mika yang dekat dengannya.


Mika? Apa dia minta dicium?


"Eh … maksudnya gimana? Apanya yang dicoba?" tanya Pandji seraya menaikkan satu alisnya.


"Bawa pedangmu! Kita latih tanding di halaman belakang sekarang!" Mika melepas pandangan dan berjalan menuju pintu yang mengarah ke tempat yang dimaksud.


Pandji mengusap dagunya dan menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Oh … kirain?!


***


__ADS_2