SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 101


__ADS_3

Pandji mendongak, menatap bulan di atas kepala sebentar lalu menghadap ke arah barat tempat pendar cahaya merah tampak timbul tenggelam.


"Kamu mau melihat ke sana? Bagaimana jika itu jebakan? Mengapa mereka tidak datang saja kemari jika memang berniat bertarung?" cerca Mika yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Pandji.


Pemuda kurang tidur itu menggeleng ringan, "Bisa dibilang itu pancingan agar aku keluar mengecek keadaan."


"Hm … aku sudah khawatir kamu akan penasaran," ucap Mika pelan.


"Itu aura Badrika, mana sihirnya sangat terasa meskipun bercampur dengan milik pasukannya. Dan pendar merah itu aku yakin milik perempuan yang tidak sengaja bertemu denganku di bandara. Aku tidak lupa dengan energinya," terang Pandji.


"Lalu apa yang kamu rencanakan?"


"Mengajari mereka untuk bersabar," jawab Pandji ringan.


"Maksudmu?" Mika menatap tajam, kali ini dia yang penasaran dengan pemikiran Pandji.


"Badrika selalu muncul di setiap pertarunganku, tapi tidak pernah turun tangan untuk membantu pasukannya, menurutmu apa yang sedang dia lakukan? Hanya menonton pertunjukan?" Pandji mengedikkan bahu seolah tidak tahu apa-apa.


"Mengawasi, mempelajari, menyusun strategi?" tanya Mika tertarik.


Pandji menoleh cepat ke arah perempuan cantik yang sedang mendongak menatapnya, "I love you, babe. Tebakanmu tepat!"


Mika merona, bersemu tak terlihat, tersamarkan bulan redup yang kini makin tampak gelap. Dia tahu pasti itu hanya pujian, bukan ungkapan cinta pria pada wanita. Tapi tetap saja Mika senang bukan kepalang.


"Badrika paham kamu tidak bisa menahan rasa penasaran, jadi dia memanfaatkan tabiat burukmu untuk mendapatkan kesempatan," ujar Mika.


"Bagaimana jika kita yang mengamati mereka sekarang? Aku rasa bersikap pura-pura bodoh tidak ada salahnya!"

__ADS_1


Pandji melentingkan tubuh lalu melompat tinggi ke atas atap pendopo dan duduk santai sambil menunggu sinar bulan benar-benar menghilang. "Bisa bawakan aku kopi krim, Mika?"


Mika hampir mengumpat, kelakuan Pandji memang kadang tidak bisa diprediksi dan masih saja selalu seenaknya. Dia mengalah, melangkah pergi ke dapur yang sudah sepi dan membuat minuman kesukaan Pandji.


Tiga pemuda memantulkan diri seperti bola dan dalam sekejap sudah berada di sekitar Pandji, berdiri di atas atap menatap ke arah barat lalu sesekali mendongak melihat angkasa.


"Kenapa kalian tidak pergi tidur?" tanya Pandji muram.


"Kau lucu sekali, Sobat! Bagaimana kami bisa tidur dalam situasi seperti ini? Jika kau ingin tau … rasanya kegelapan di tubuhku itu menekan dada, membuat sesak nafas seperti dihimpit batu tak kasat mata," ujar Aswanta yang langsung disetujui oleh Mahesa dan juga Tirta.


Pandji menyeringai, "Aku hanya ingin mengamati mereka, bukan bertempur!"


"Aku juga ingin jadi pengamat, Guru!" seru Tirta menatap Aswanta dengan wajah bodoh.


"Aku tidak tau lagi harus bilang apa padamu, jangan panggil aku guru dan jangan bertingkah konyol!" sahut Aswanta seraya menggertakkan gigi gerahamnya.


Aswanta langsung menoleh ke arah Pandji setelah mengamati langit beberapa saat, "Benarkah malam ini, Sobat?"


"Bukankah harusnya besok malam ya gerhananya? Tapi aku tidak merasa itu seperti gerhana bulan. Ehm … jadi bulan hitam itu dimakan oleh apa, Mas Pandji? Mungkinkah dimakan kawanan serigala?" tanya Tirta dengan seringai aneh.


“Amati dengan baik! Aku ke dalam sebentar … aku butuh melihat penanggalan kuno milik kakek,” ujar Pandji seraya melompat turun dari atap.


Pemuda tampan itu tergesa masuk ke dalam kamar dan mengambil perkamen kuno berisi penanggalan jawa yang diberikan oleh Romo Guru.


"Tidak ada yang salah, itu memang bukan gerhana bulan normal. Seseorang telah memanipulasi cuaca dan kondisi cahaya bulan agar menyerupai gerhana." Pandji bergumam dan mengangguk sendiri seolah mengerti. "Jadi ini yang Badrika lakukan … bermain menciptakan fenomena alam?!"


"Nyolong laku itu sudah kerjaannya para iblis, Mas!" kata Ayah Pandji muncul di depan pintu kamarnya yang terbuka.

__ADS_1


"Apa artinya semua ini, Ayah? Ehm … ayah jadi pergi bersama ibunda?"


Ayah Pandji mengangguk tenang, "Mereka akan memulainya sebentar lagi, begitu Mas Pandji tidak muncul karena tidak terpancing dengan aksi yang mereka kerjakan … serangan ke rumah ini akan segera mereka lakukan!"


"Pandji masih tidak mengerti pola pikir Badrika, gerhana bulan baru besok, Ayah! Bukankah Pandji harus menyerahkan diri pada Badrika besok untuk menebus keselamatan Tante Risa dan separuh murid Hargo Baratan? Juga untuk membacakan buku mati, untuk membuka portal dimensi lalu menyeberangkan seluruh makhluk gaib ke dunia kita. Badrika jelas melanggar perjanjian!"


"Emang ada iblis tepat janji, Mas?" Ayah Pandji tertawa masam pada putranya yang menatap stagnan. "Sebaiknya Mas Pandji bersiap, infokan juga pada Mika dan yang lain!"


"Pandji mengerti, Ayah!" kata Pandji menggulung dan meletakkan perkamen di atas meja belajarnya.


Kalau dipikir-pikir, Pandji bahkan lupa kapan terakhir belajar dan pergi sekolah. Untung saja kejadian luar biasa di tempatnya menempuh pendidikan membuat pihak sekolah memaklumi ketidakhadiran Pandji. Pemuda itu mendengus dengan seringai sinting.


Rasanya aku mulai rindu pada Elok, pada panggilan guru konseling juga ngorok di dalam kelas.


"Apa ayah akan lama?"


"Secepatnya ayah akan kembali jika semua telah aman," jawab Ayah Pandji penuh misteri.


"Apa tidak terlalu berbahaya dan beresiko berada di rumah Paman Candika dalam kondisi seperti sekarang?"


"Misi penyelamatan selalu penuh dengan resiko, Mas Pandji."


"Segeralah kembali, Ayah!" ucap Pandji pelan. Dia mendekati Ibundanya dan memeluk sebentar, "Berjanjilah kalau Ibunda akan baik-baik saja!"


"Mas Pandji terlalu menyepelekan suami Ibunda," ujar Ibunda Pandji jenaka.


Pandji menyeringai kesal, dari dulu dia selalu merasa ayahnya itu terlalu banyak menarik perhatian ibundanya. Pandji masih saja cemburu seperti balita.

__ADS_1


***


__ADS_2