
Pakde Noto mengangguk sopan pada Pandji begitu tiba di pendopo, mempersilahkan gadis cantik di belakangnya untuk maju. “Saya diutus ayahanda Mas Pandji untuk mengantar putri Raden Hadiyata yang bernama Nirmala Dewi untuk bisa ikut sarapan di sini!"
Pandji mengangguk samar tanpa berbicara, matanya hanya sekilas menatap kecantikan yang tidak jauh berbeda dari Ratna maupun Mika. Hanya saja, Nirmala memiliki tubuh yang lebih matang yang mungkin langsung bisa membuat kaum pria mudah terlena dan tunduk padanya.
Aroma bunga mawar segar tercium dari tubuh gadis yang tersenyum menawan dan mengangguk percaya diri padanya, pembawaannya tidak sungkan saat bergabung dengan yang lain untuk melangsungkan jamuan makan pagi yang baru saja akan dimulai.
Perkenalan singkatnya sangat mencuri perhatian, semua mata pemuda yang ada di pendopo terpaku dengan bahasa tubuhnya. Hidangan enak yang tersedia bahkan tidak mampu mengalihkan pikiran Pandji terhadap Nirmala.
Setelah itu, Pandji mengamati piring berisi salad sayur yang disodorkan Nirmala padanya dengan ekspresi datar, entah mengapa dia lebih suka dilayani oleh Mika atau Atika saat di rumahnya, atau oleh Elok dan Ratna di waktu berbeda.
Senyum manis Nirmala saat menyodorkan piring itu tersungging amat manis, "Ini kesukaan Mas Pandji kan?"
Dibawah tatapan empat gadis yang biasa bersamanya, Pandji hanya mengangguk dengan segaris senyum terpaksa. Mendadak Pandji merasa tidak aman, menurutnya kecantikan Nirmala tidak biasa, jenis kecantikan yang mengandung bahaya. Ada sesuatu tidak tulus yang terpancar dari auranya, dan hal seperti itu membuat Pandji merasa tidak suka.
__ADS_1
Nirmala pasti datang bukan atas kemauannya! Pasti ada orang kuat di belakangnya yang membuat dia mau merendahkan dirinya yang sudah dewasa untuk mendekatiku.
"Ada lagi yang mau Nirmala ambilkan untuk Mas Pandji?" Perempuan cantik itu bertanya dengan lembut, suara halusnya sempat diyakini Pandji memiliki kemampuan untuk menyihir dan menundukkan kaum lelaki.
Tapi Pandji tidak bisa bersikap dingin pada tamu keluarganya, bagaimanapun etika mengajarkannya untuk bersikap baik dan ramah pada orang yang sudah datang ke rumahnya. "Tidak, ini cukup, terima kasih."
Apa yang diungkapkan Aswanta tidak salah, Pandji sekarang berdiri di dunia yang telah berubah. Pandji menciptakan satu cerita yang membuat banyak orang berpikir tentang hitam dan putih dunia. Pertarungannya dengan Nergal meninggalkan kenangan yang ditakuti warga meski Nergal sudah tidak ada. Namun, ancaman Nergal yang akan kembali memporak porandakan dunia manusia membuat banyak orang menjadi bersikap waspada.
Sikap yang ditunjukkan dengan gaya berbeda-beda. Sayangnya kaum bangsawan yang memulai belajar menjadi ksatria untuk membela dan menjadi pelindung keluarga jauh lebih sedikit daripada mereka yang menggunakan cara-cara politik untuk mengamankan nyawanya.
Bagi yang kaya, menyewa jasa ksatria juga lebih mudah dan efektif untuk mengamankan nyawa daripada harus turun tangan sendiri saat bencana seperti di Jombang tiba di Yogya.
Bangsawan sendiri tidak melihat ketampanan atau tabiat dalam situasi sulit, mereka hanya memikirkan kekuatan seperti Pandji dan timnya sebagai pelindung, setelah itu baru memikirkan gelar dan kekayaan, selanjutnya disusul oleh paras dan kelakuan sebagai aspek terakhir.
__ADS_1
Jika Aswanta mengatakan dia menjadi lebih diinginkan para gadis saat sekarang daripada sebelumnya, tidak dipungkiri hal yang sama terjadi pada Tirta dan Mahesa. Hal yang menjadi sulit bagi Pandji karena empat gadis yang dekat dengannya akhirnya merasa tidak nyaman dengannya.
Nirmala tersenyum bijak, menunggu Pandji memerintahkan dirinya untuk melayani sepenuhnya saat acara makan berlangsung. Sesekali melirik semua teman perempuan Pandji yang hanya diam selama dia ada di sana.
"Kakak tidak makan?" tanya Pandji sopan. Dia juga perlu berbasa basi sebagai tuan rumah meskipun sebenarnya tidak terlalu peduli. Pandji menatap mata Nirmala, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tulus saat menunggu jawaban.
Nirmala memerah, jantungnya berdetak kencang meski merasa tampak bodoh dan merasa sedikit terlalu tua untuk Pandji. Dia bukan tidak berdandan muda, tapi paras dan tubuhnya lebih cocok untuk menggoda ayahanda Pandji daripada pemuda yang baru beranjak dewasa tersebut. Tapi, siapa yang bisa menolak keinginan ayahnya? Dia sadar betul bahwa kedatangannya adalah bagian dari misi keluarga Hadiyata.
"Mas Pandji ingin makan ditemani Nirmala?"
Pandji tertegun, perbedaan terasa mencolok antara dirinya dengan Nirmala. Dia bertanya tulus tanpa maksud mengundang, tapi Nirmala malah berbalik membuat tawaran. "Ini acara syukuran, bukankah tidak baik menolak hidangan yang sudah disediakan tuan rumah?"
Nirmala ingin mengelus dada, Pandji sama sekali tidak merespon kalimatnya yang manja menggoda sesuai harapan. Pemuda itu menjawab datar dan melihat hanya sekilas dengan ekspresi malas. Nirmala seketika khawatir kalau pesonanya mulai menurun di mata pria, lebih khawatir lagi dia akan gagal dalam misi mendekati Pandji dan mendapatkan murka ayahnya.
__ADS_1
***