SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 86


__ADS_3

Meninggalkan arena latihan sihir, Pandji masuk ke dalam ruang pusaka yang ada di belakang pendopo. Melihat-lihat koleksi milik kesatrian yang biasa dipinjamkan untuk murid berbakat, atau diberikan kepada yang berprestasi.


Isi ruang pusaka kesatrian Putra Ganendra sebagian besar terdiri dari senjata biasa, sebagian lainnya adalah senjata elit dengan kualitas lebih bagus. Di bagian lebih dalam ada beberapa senjata dengan kualitas paling baik dan memancarkan aura aneh hingga biasa disebut pusaka.


Pusaka sendiri terdiri dari berbagai macam, ada yang berbentuk senjata, batu mustika, baju pelindung atau benda mistis yang berasal dari alam lain.


Karena bahan yang dipakai untuk membuat pusaka sangat istimewa, akibatnya benda-benda itu juga memiliki kemampuan luar biasa, bahkan sebuah pusaka bisa memiliki sifat aneh dan gaib.


Senjata biasa ataupun elit dipakai oleh mereka yang disebut ksatria berbakat, tapi untuk yang sudah masuk ke barisan ksatria … mereka menggunakan pusaka sebagai pelengkap ilmu bela diri.


"Apa ada senjata yang cocok untuk dua teman baruku, Pakde?"


Pakde Noto memperhatikan Tirta dan Mahesa secara seksama, mengukur aura kedua teman Pandji dan membuat kecocokan dengan pusaka yang akan mereka gunakan.


"Ada pedang panjang untuk Tirta dan tombak kuning untuk Mahesa, sepertinya senjata itu yang paling pas dengan mereka," jelas Pakde Noto singkat. "Mau diambilkan sekarang?"


"Terima kasih, Pakde!" Pandji menyuruh Mahesa dan Tirta mengikuti salah satu orang yang bertugas menjaga ruang senjata.


"Pakde … Pandji ingin tanya sesuatu, apa ada pusaka baru datang? Pandji merasa ada aura sangat besar keluar dari sana, sangat garang … seperti aura naga."


Pakde Noto tersedak ludah dan batuk perlahan, "Uhuk … itu baru datang beberapa hari yang lalu, Ayahanda Mas Pandji bilang pusaka itu dari Jawa Timur. Oma Mas Pandji yang mengirimnya."

__ADS_1


Oma datang melintasi dimensi? Tidak mampir dan menyapa cucu tampannya ini?


"Oh ya … Ayah tidak mengatakan apa-apa pada pandji, Pakde. Tapi, Pandji penasaran. Bolehkah Pandji melihat pusaka itu?"


Merasa tidak bisa menolak permintaan Pandji, Pakde Noto mengajak pemuda yang selalu penasaran itu menuju ruangan yang lebih khusus.


Pakde Noto mengeluarkan peti sepanjang satu meter dan membukanya perlahan, menyingkirkan kain putih yang membebat bilah tajamnya dan memberikan pusaka besar itu pada majikannya.


Pandji menerima pusaka yang energinya langsung berinteraksi dengan tubuhnya. Suara naga mendesis marah terdengar dekat sekali di telinga Pandji.


"Wow … kau seekor naga jantan yang sangat pemarah," ucap Pandji menyeringai jenaka. "Kau akan sulit mendapatkan pasangan jika memelihara tabiat buruk itu!" sambung Pandji penuh dengan nasehat konyol.


Pusaka dengan bilah tajam di kedua sisi dan ujung meruncing lancip itu bergetar, roh pusaka yang ada di dalamnya seperti enggan bersentuhan dengan energi Pandji.


"Apa ini milik kesatrian kita, Pakde?"


Dengan berat hati Pakde Noto menjawab, "Bukan … itu milik pribadi Ayahanda Mas Pandji! Beliau hanya titip sementara."


"Bukankah ini trisula yang antik dan sangat mistis?" tanya Pandji dengan senyum miring.


"Trisula naga kembar, Mas Pandji. Kata Ayahanda Mas Pandji, trisula ini dulunya milik Oma Dinara," terang Pakde Noto tak lagi menyimpan rahasia.

__ADS_1


Pandji terkekeh senang, kepalanya berisi rencana untuk meminjam trisula itu dari Ayahnya. "Ini keren, Pakde!"


Menahan aura besar yang berbenturan dengannya, juga energi yang sulit diatur, Pandji mulai membaca mantra pemanggil roh pusaka.


"Sepertinya naga di dalamnya tidak berkenan dengan Mas Pandji …," tutur Pakde Noto hati-hati.


Pandji menahan geram pada naga betina yang terus mendesis padanya, menolak tunduk dan bersikap melawan mantra pemanggil yang ditujukan padanya. "Kenapa tidak ada naga yang menyukaiku, Pakde? Apa aku kurang tampan?"


Pakde Noto tak sanggup menahan tawa, dia tergelak dengan sopan. "Roh pusaka yang cocok dengan Mas Pandji sangat terbatas jumlahnya. Dia harus memiliki elemen yang sama dengan Mas Pandji agar terjadi keseimbangan.


Kalau dipaksakan cocok, naga dalam trisula ini bisa mati. Begitu juga dengan naga yang ada pada pusaka tombak yang dipakai Mas Raksa."


"Jadi hanya sepasang pengantin dari abad entah kapan itu yang paling sesuai denganku?"


Pakde Noto mengangguk ringan, "Pusaka penganten Mas Pandji sudah melebihi pusaka jenis apapun yang tersimpan di kesatrian ini.


Lagipula kita memang tidak bisa menentukan hewan spiritual yang kita sukai, mereka yang akan memilih kita sebagai partner. Begitu juga dengan pusaka dan roh yang tinggal di dalamnya!"


Menghela nafas kecewa, Pandji mengembalikan trisula Ayahnya pada Pakde Noto. Raut kecewa tampak pada wajah Pandji.


Mengenai hewan spiritual aku sudah memiliki barion, memiliki pusaka dengan roh naga sepertinya tidak akan terwujud sampai kiamat … jadi ya balik maning ke Damar Asih!

__ADS_1


***


__ADS_2