
Pandji masih saja terus mengeluh dalam hati, Ibundanya membantu merapikan pakaian yang akan dikenakannya untuk sarapan. Ya … hanya sarapan saja begini repot dan penuh aturan!
"Bagaimana cara membatalkan … maksud Pandji menolak ide Yangyut untuk berkenalan dengan Putri Solo itu, Ibunda?"
"Mas Pandji nggak ingin berkenalan dulu?"
"Tidak perlu, Ibunda."
"Serius?" tanya Ibundanya dengan penuh kelembutan.
Tentu saja Pandji serius, dibandingkan dengan harus mengurusi anak gadis orang dia lebih suka menjadi makhluk bebas tanpa beban pikiran.
"Sepertinya Pandji agak mual, Ibunda!"
Mendengar omong kosong putra sulungnya, Ibunda Pandji hanya tertawa. "Jangan banyak alasan, Mas! Ayo kita temui mereka sekarang lalu sarapan bersama!"
"Tapi Pandji butuh ke kamar mandi … bukan, tiba-tiba Pandji agak sesak nafas!" ujar Pandji mengada-ada dan membuat ekspresi sedang tersiksa.
__ADS_1
Ibunda Pandji tergelak melihat kekonyolan Pandji, "Pura-pura asmanya nanti saja di depan Ayahanda!"
Mana mungkin aku bisa mengelabuhi pria yang bisa membaca pikiran orang? Yang ada Ayah akan menjitak kepalaku di depan calon mertua!
Dengan ekspresi kurang senang Pandji berbicara lirih, "Sepertinya Pandji nggak jadi sakit, hanya sedikit pusing kurang tidur!"
Ayah Pandji sedang menemani mengobrol di ruang tamu saat Pandji dan Ibunya datang bergabung. Pandji yang masih mengantuk memasang wajah malas, menahan diri untuk tidak menguap sembarangan.
Bagaimanapun dia adalah bangsawan bergelar Raden dan membawa nama Abisatya, jadi bersikap sopan penuh tata krama masih dia bawa saat berhadapan dengan tamu keluarganya. Dia tidak akan menjadi begitu konyol mempermalukan kedua orang tuanya.
Pandji berusaha untuk tidak melihat ke arah gadis muda yang juga sedang menundukkan kepala. Dia hanya merasa kasihan melihat badan calon tunangannya tegak kaku seperti patung yang duduk di tempat yang tidak pas.
“Ayo kita langsung sarapan saja … nanti dilanjutkan lagi setelah kenyang!” ajak Eyang buyut kepada temannya yang membawa anak dan cucunya. Tiga perempuan cantik pada generasi berbeda. Mereka berjalan elegan menuju ruang makan mengikuti Eyang.
Neneknya cantik, emaknya cantik … ini calon tunangan juga cantik!
Pandji hampir terbatuk ketika calon tunangannya itu mengambilkan makan untuknya, lauk yang dipilih pun sesuai dengan selera Pandji. Tidak ada ayam, daging atau olahan dari makhluk bernyawa … hal itu membuat Pandji menatap intens pada pipi mulus yang sedang merona olehnya.
__ADS_1
Sepertinya Yangyut ingin membuatku terkesan dengan membocorkan rahasia makanku padanya, belum lagi sikap melayani. Mereka pasti sudah merencanakan semua ini di belakangku!
“Mas Pandji memang tidak bisa makan selain menu vegetarian?” tanya Ibunda Sekar Ayu dengan penuh kelembutan.
Pandji mengangguk, menelan semua makanan yang ada di mulutnya baru menjawab, “Saya punya banyak alergi, Ibu!”
"Meskipun masih muda, Ratna sudah pandai memasak. Dia juga sudah belajar banyak mengenai pekerjaan wanita di rumah, dari melayani suami sampai peran menjadi anggota keluarga," lanjut wanita yang mungkin bakal jadi mertua Pandji kelak.
Menahan rasa tersedak, Pandji mengambil minumnya dan tersenyum bodoh. Dia bahkan tidak memikirkan sejauh itu tentang gadis cantik yang lebih banyak menunduk malu.
Pandji tidak berencana menikah muda meskipun dia suka melihat perempuan cantik, dia juga belum mengerti bagaimana menjadi pria yang bertanggung jawab.
Pikiran Pandji terpecah, bimbang antara menerima perkenalan itu dengan serius atau memilih kebebasannya lebih lama.
Bukankah Adiratna Sekar Ayu terlalu sempurna kecantikannya? Aku jadi bingung jika ingin menolaknya.
***
__ADS_1