
Badrika, wanita bercadar dan seluruh pasukannya berada di depan pintu gerbang kediaman keluarga Abisatya seperti orang yang sedang berdemo.
Pagar besi berwarna hitam bergerak seperti hendak roboh karena dorongan dan desakan mantan murid Hargo Baratan yang tubuhnya telah melepuh.
Semua yang ada di barisan depan adalah iblis yang sudah memiliki tubuh manusia. Karena memang hanya yang sudah bersemayam dan menyatu dengan raga yang bisa masuk ke dalam kubah lanjaran.
Sedangkan maroz dan iblis dalam rupa lain yang belum memiliki tubuh hanya bisa menunggu sampai kubah pelindung hancur untuk bisa menyerang Pandji dan semua yang berada di dalam rumah.
Badrika dan wanita bercadar ada di belakang bersama para pasukan yang menjelma seperti bayangan hitam. Melancarkan serangan jarak jauh untuk meruntuhkan kubah berlapis. Setiap satu sambaran petir yang dilakukan Badrika menyalakan kubah dalam sekejap mata.
"Kubah sialan ini membuat rumit keadaan, rasanya aku ingin menginjak leher yang membuatnya!" gerutu Badrika geram.
"Anda tidak akan semudah itu bisa melakukannya, Pangeran! Aku mengenal orang yang memiliki pelindung ini," sahut wanita bercadar dingin. "Sudah dari sejak muda dia memiliki kekuatan."
"Jadi dia orangnya? Aku akan membalaskan dendam bunda dengan senang hati, aku mendapatkan tujuanku … bunda bisa tertawa bahagia melihat kematian lawan dan menerima hak kejayaan yang aku janjikan!"
Wanita bercadar tersenyum masam di balik kain yang menutup wajahnya, masa lalunya terkenang dengan pahit. Andai saja waktu bisa terulang, dia sama sekali tidak ingin punya urusan dengan keluarga Dinara yang notabene adalah teman ayahnya.
Tapi pilihan untuk membalas dendam sudah berakar, sudah diputuskan bertahun lalu saat dia mulai gencar mencari informasi keluarga Dinara kemana-mana.
Hingga dia akhirnya tahu bahwa Pakde Karman, paranormal yang pernah kondang di Jombang adalah saudara dari perempuan yang hampir menjadi mertuanya itu.
__ADS_1
Alih-alih meminta bantuan sekaligus menawarkan kerja sama pada laki-laki yang sedang meneruskan kejayaan ayahnya, dia justru diiming-imingi dengan sesuatu di luar nalar manusianya.
Putra Pakde Karman yang bernama Mas Gun dalam kiprah paranormalnya, dengan senang hati menerima tawaran kerja sama darinya dengan syarat dia mau diambil menjadi istri pujan.
Istri yang akan dikorbankan karena tubuhnya dijadikan percobaan pertama ilmu sihir yang mengkolaborasikan jiwa iblis hitam di dalam raga manusia.
Pria ambisius yang lebih cocok menjadi bapaknya itu memanfaatkan amarahnya. Memanfaatkan emosi untuk membalas kematian ayah dan kakaknya.
Akhirnya pinangan dukun tua diterimanya dengan lapang dada. Jadilah Andara putri Alan menikah dengan Mas Gun putra Pakde Karman. Dua dendam menyatu dalam ikatan hitam.
Setelah sihir hitam suaminya sempurna dan berhasil membuka portal mini untuk menyeberangkan pangeran iblis dan pasukan kecilnya ke dunia manusia, Andara melanglang kota mencari keberadaan keluarga Al dan Dinara.
Begitu sampai Yogya, sihir hitamnya sangat diminati Candika. Umpan manis yang langsung dimakan oleh pemilik kesatrian untuk membesarkan nama perguruan bela diri miliknya. Hargo Baratan.
Waktu berlalu terlalu cepat, Andara tidak bisa memberikan putra pada Mas Gun. Setengah tubuhnya yang berubah jadi iblis tidak memungkinkan dirinya untuk hamil dan melahirkan anak.
Jadi, sekali lagi Andara berusaha memperdaya Candika untuk menyerahkan Badrika padanya dengan alasan kedigdayaan. Andara menginginkan anak, Andara sangat tertarik dan sungguh menyayangi pemuda tersebut.
Dia lalu mengangkat Badrika sebagai putranya dan menganggap dirinya adalah bunda yang jauh lebih layak dibandingkan istri Candika yang notabene adalah orang biasa.
Namun, Andara tidak punya kuasa menolak pangeran iblis yang meminta menempati tubuh Badrika sementara waktu. Dia dan suaminya dijanjikan akan mendapatkan banyak keuntungan dan dipastikan duduk sebagai penguasa tertinggi ilmu kedigdayaan di Nusantara.
__ADS_1
Kejayaan dan kekayaan kini tergambar jelas di depan mata Andara, dia hanya harus sedikit bersabar … menunggu sebentar hingga peperangan di kediaman Abisatya selesai dan dimenangkannya.
Maka dari itu semangatnya tetap bergelora. Meski sisa mana dalam tubuh Andara hanya tinggal setengah setelah membuka portal kecil untuk menurunkan pasukan iblis ke dunia, dia tetap tegak dan siap bertarung dengan keluarga Dinara.
Andara menyeringai sinis, "Aku sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam sana, Pangeran! Aroma manis darah membuatku haus."
"Selain tubuh Jupiter milik pemuda unik itu, aku juga menginginkan wanita dengan raga berisi energi pusaka bertuah, Bunda!"
"Sesuai keinginan Anda, Pangeran! Aku hanya butuh darah Dinara dan putra congkaknya, jika mungkin aku ingin semua keluarganya habis … itu lebih baik. Aku akan sangat berterima kasih padamu," ujar Andara dengan seringai sinis.
Badrika menggertakkan gigi, sumpah serapahnya keluar karena dia harus berusaha lebih keras menguras tenaga dalam untuk meruntuhkan kubah lanjaran.
"Apa yang kau lihat, bocah sialan?" teriaknya lantang pada Pandji yang menatapnya dengan ekspresi menjengkelkan dari dalam pagar.
"Kau menunggu apa, Badrika?" ejek Pandji dengan wajah stagnan.
Kubah lanjaran ayah Pandji yang berlapis barrier sihir miliknya bukan hal mudah untuk diruntuhkan Badrika. Setidaknya sampai pasukan manusia juga barisan mayat lebur jadi abu dan masuk dalam kendali Pandji.
BLAR!!! DUAR!!!
Petir Badrika kembali menyambar, menyalakan kubah lanjaran sesaat dan menggerakkannya seperti atap yang terkena lindu . Disusul oleh satu bola api besar, hantaman dari Andara untuk mempercepat menghilangkan pelindung utama keluarga musuhnya.
__ADS_1
***