SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 112


__ADS_3

Pandji membuat tebasan lebar terakhir sebelum meninggalkan Aswanta dan timnya yang sudah kembali menguasai keadaan, tidak lagi terdesak dan punya harapan membalik kondisi pertarungan.


Jeritan Gia membuat Pandji dilanda panik berlebihan, pikirannya kacau seketika. Membayangkan dia tidak bisa melindungi adiknya hingga menyebabkan Gia tidak ada … dia tidak akan pernah memaafkan dirinya, tidak mungkin bisa menanggung beban seperti itu seumur hidup.


Langkahnya terhenti melihat Mika siap terlempar jatuh setelah terkena tendangan telak di perut dari Badrika. Pandji melompat cepat dan membuang dua pedangnya ke udara, membuat satu gerakan tepat untuk menangkap tubuh Mika yang mengarah padanya seperti bola.


Mika memejamkan mata saat tubuhnya melayang, dia berharap tidak jatuh seperti Raksa yang menabrak dan memecahkan beberapa pot bunga.


Gadis itu merasa heran, matanya membuka perlahan karena bukan tabrakan keras pada dinding yang dirasa. Tapi tangan yang melingkari pinggang dan punggung yang menabrak dada seseorang.


Pandji memeluk Mika erat dan termundur satu langkah karena tekanan dari tubuh yang ditangkapnya.


Mika memicingkan mata karena hujan yang mengguyur wajahnya sedikit menghalangi pandangannya yang berputar pusing. Dia tersadar sepenuhnya ketika suara Pandji menghampiri pendengarannya yang berdengung, "Are you oke, Babe?"


Mika menyikut dada Pandji pelan, minta dilepaskan karena tidak tahan dengan hawa Pandji yang terlalu dekat dengannya. Meski merasa tak pantas membayangkan sesuatu yang lebih dari sekedar pelukan penyelamatan, Mika tetap merona dengan pikiran konyolnya.


"Lama sekali kamu ini, semua orang hampir mati gara-gara menahan bedebah itu! Kalau saja boleh melukai tubuhnya, aku sudah mengoyak wajahnya tadi," gerutu Mika menutupi rasa canggungnya.

__ADS_1


"Kamu boleh memotong telinganya, kayaknya bagian itu jauh dari nyawanya!" kata Pandji menurunkan Mika perlahan.


"Itu sama sekali nggak lucu," timpal Mika jengkel.


"Pergilah mengatur nafas dan tenaga sebentar!"


"Hm …." Mika memperbaiki posisi berdiri dan bergegas melarikan dirinya karena Badrika sudah melancarkan serangan cepat ke arah Pandji.


Pandji berkelit menghindari tebasan pusaka bulan yang diarahkan ke wajahnya.


Badrika menatap dingin pada sosok yang berhasil selamat dari senjatanya dan sedang menatapnya balik dengan wajah bosan.


“Cuih … aku benar-benar benci melihatmu, kau bertarung seperti banci!" umpat Badrika penuh cemoohan.


Pandji menggelengkan kepalanya ringan, "Baiklah, aku akan mengakhiri ini dengan cepat!"


"Aku tahu kau tidak akan melukai tubuh ini bocah," ejek Badrika tertawa. "Bukankah itu satu keuntungan untukku!"

__ADS_1


"Tidak juga, jika hanya memotong tangan atau kaki Badrika … aku rasa Paman Candika dan tante Risa tidak akan keberatan. Mereka hanya ingin anaknya hidup, soal cacat fisik aku tidak pernah menjanjikan itu. Lagian pedang ini terlalu tajam untuk dihentikan dadakan saat menebas," ucap Pandji menangkap dua pedangnya dari ruang hampa.


Pertarungan sengit kembali dimulai, kali ini Pandji tidak lagi berhati-hati seperti sebelumnya. Apapun yang mungkin akan terjadi pada tubuh Badrika dia tidak menjadikan hal itu sebagai masalah.


Memperpanjang durasi melawan Badrika hanya akan membahayakan teman-temannya. Jadi, jika pedangnya sampai mengakhiri jasad temannya sendiri … itu resiko yang harus diambilnya. Dia hanya perlu memberikan sedikit penjelasan tambahan pada orang tua Badrika.


TRANG!!!


Ujung pusaka bulan sabit Badrika menembus lengan Pandji meski sudah ditangkis oleh pedangnya. Sebagai balasan, kaki Pandji menyapu tubuh Badrika hingga pemuda itu terbanting keras di tanah.


Pandji melompat di atas tubuh Badrika dan membuat tikaman cepat ke arah leher. Badrika menggeser kepala secepat kilat, menghindari pedang Pandji yang akhirnya meleset dan menusuk bahunya hingga tembus ke belakang.


Badrika meraung keras diikuti satu jeritan menyayat suara perempuan, disusul oleh tangisan pilu dan suara serak yang berbicara dengan nada sendu saat memohon pengampunan untuk nyawa Badrika.


Pandji menatap stagnan pada wajah perempuan yang berdiri tidak jauh darinya dengan dua tangan menyatu di depan dada seperti sedang meminta maaf.


Selanjutnya, wanita itu bersimpuh dan menangis tersedu di samping suaminya yang sedang berdiri mengawasi keadaan.

__ADS_1


***


__ADS_2