
Kekuatan heksagram sihir yang bisa melemahkan energi iblis hingga setengahnya menjadikan heksagram sebagai benteng satu-satunya yang dipakai aliansi untuk mengamankan diri.
Faktanya, sudah banyak iblis yang mati dan lebur di dalam heksagram, meski tidak sedikit yang masih terus berusaha bertarung dengan sistem keroyokan di dalam heksagram karena mereka menang besar dari segi jumlah.
Bertempur beberapa waktu membuat mereka yang disebut aliansi putih yang notabene hanya manusia biasa mulai merasakan lelah dan kehabisan mana.
Tidak sedikit yang nafasnya mulai memburu dan tersengal hingga harus beristirahat sebentar untuk mengatur tenaga sebelum kembali masuk ke medan pertempuran.
Darah ksatria muda juga mulai tumpah membasahi tanah, luka ringan hingga berat tidak bisa dihindarkan, terjadi tanpa rencana meski satu sama lain sudah berusaha saling melindungi.
Pandji masih belum bisa melepaskan diri dari pertarungan sengitnya. Nergal dan satu panglima yang tersisa menghujani Pandji dengan sabetan-sabetan mematikan.
Mereka bertiga bertukar serangan dan saling menghindar untuk menyelamatkan anggota badan yang terancam tertebas ayunan pedang.
"Apa kau juga sudah mulai lelah, bocah?!" ejek Nergal dengan seringai menjengkelkan.
__ADS_1
Sudut bibir Pandji berkedut, bibirnya mengulas segaris senyum sinis sebelum dua pedangnya bergerak secepat kilat. "Jangan memancing dengan omongan tidak berguna, Nergal!"
Selama beberapa tarikan nafas, pertarungan ketiganya semakin cepat dan gesit. Pandji melompat mundur sebentar untuk bernafas dan maju lagi dengan ayunan dua pedang yang mengungkung Nergal dalam cahaya biru dan merah.
Sampai akhirnya satu sisi telapak tangan Nergal mendarat tepat di dada Pandji, memukul keras hingga Pandji mundur beberapa langkah. Pandji terbatuk pelan sambil menyeringai dingin karena sesak yang ditimbulkan, sementara Nergal memasang ekspresi lebih buruk.
Tangan Nergal mengusap pipinya yang sekarang memiliki garis tipis mengeluarkan darah. "Pandji … aku masih memberi waktu kepadamu untuk berpikir mengenai penawaranku tadi!"
Pandji meludahkan sejumput darah yang menggenang di mulutnya karena pukulan tapak Nergal. "Menurutku tidak ada untungnya bekerja sama dengan iblis! Itu yang baru saja aku pikirkan!"
"Kau bermaksud menakutiku?" Pandji menebas tempat kosong karena Nergal menghindar tepat waktu. "Trik seperti itu sama sekali tidak bisa mempengaruhi pikiranku!"
Nergal mendengus kesal, kembali memburu Pandji yang masih meludah kecil membersihkan sisa darah dalam mulutnya.
"Aku tidak butuh tubuh manusia untuk berkuasa, tapi aku bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan siapapun padamu. Kita bisa melakukan pertukaran yang setara!" ucap Nergal kembali membujuk Pandji.
__ADS_1
"Seperti yang sudah aku katakan barusan, belum ada sejarah yang mencatat kalau manusia akan diuntungkan saat melakukan perjanjian dengan iblis, tawaranmu terdengar konyol di telingaku, Nergal!" Pandji mengatur mana sihir lebih besar untuk melancarkan serangan balasan.
Perubahan arah serangan yang tiba-tiba membuat Nergal salah langkah. Dia terpaksa mengorbankan panglimanya untuk menyelamatkan kepalanya dari ayunan pedang merah Pandji. "Kau benar-benar pemuda keras kepala!"
Pandji tidak mendengarkan Nergal yang sedang menyumpahinya. Setelah beradu pedang dan Nergal menghindar karena tidak mau menangkis, Pandji merubah serangannya secepat mungkin ke arah perut panglima Nergal yang sedikit lengah.
Nergal bukan tanpa alasan menghindari berulang kali beradu pedang dengan pusaka penganten milik Pandji. Kekuatan pedangnya tidak cukup bagus untuk menghadapi benturan, dan Nergal menolak keras jika sampai pedang pusakanya patah.
Dia sudah membayangkan dengan bekerja sama dengan Pandji setidaknya dia bisa memiliki satu dari tujuh pusaka sakti buatan empu yang dipenjarakan ayahnya. Empu yang masih terus disiksa karena tidak mau membuat senjata yang setara dengan tujuh pusaka sihir ciptaannya bagi kaum iblis.
"Arrrgghhh! Yang Mulia …!" Suara serak iblis yang memburai isi perutnya membuat Nergal tercekat. Meski dia sudah memprediksi kalau panglimanya tidak akan selamat dari tebasan Pandji, tapi cairan hitam yang meleleh dari perut panglimanya yang kemudian berubah jadi abu sedikit menciutkan nyali iblisnya.
Pemuda yang terlihat masih sangat polos itu ternyata punya sisi kejam melebihi iblis. Diam-diam Nergal mulai iri dengan putra mahkota iblis yang mungkin akan mendapatkan tubuh istimewa lawannya kali ini.
***
__ADS_1