SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 108


__ADS_3

Melihat Pandji mencabut kedua pedang dan bersiap paling depan, Aswanta kembali membakar semangat ksatria muda yang akan berjuang dalam pertempuran sebenarnya.


"Tidak akan ada kematian yang menjemput kita dengan sia-sia! Setiap goresan luka dan nyawa yang kita relakan … akan mengantarkan mereka kembali ke neraka!


Ini bukan dunia iblis, ini dunia manusia yang harus kita pertahankan dengan segenap nyawa. Jadilah pejuang sejati wahai ksatria muda!"


"Siap!" Semua pemuda mengangkat senjata dan berbicara dengan satu kata semangat.


"Pandji akan menghidupkan heksagram sihir di beberapa titik area rumah ini. Heksagram akan menyala! Kalian semua sebaiknya bertarung tidak jauh dari lingkaran itu … selain bisa melindungi kalian, rune sihirnya akan langsung melebur iblis dan mengirim mereka ke alam baka!"


"Siap!" jawab pasukan Aswanta serentak.


"Apa itu terdengar berlebihan, Sobat?" tanya Aswanta mendekati Pandji dan berbisik pelan.


Pandji hanya menyeringai tanpa menanggapi lebih jauh. "Kembalilah ke posisimu, Aswanta! Ingatkan selalu mereka untuk saling melindungi, aku tidak ingin ada pemakaman massal setelah malam ini!"


Tepat di belakang Pandji, Mika dan Raksa mulai mengaliri pusaka mereka dengan mana. Disusul oleh Gia dan Oma, lalu diikuti oleh semua yang berdiri memandang satu titik di depan mereka.


BLAR!!!


Udara di dalam kubah bergetar keras, lalu berubah menjadi hembusan kencang saat pelindung lanjaran berlubang. Bukan berlubang, tapi menganga sebentar lalu ambruk menghilang karena tekanan kuat yang menghempasnya.


Bola api besar yang nyaris jatuh langsung disambut Mika dengan mengerahkan sejumlah besar mana untuk menghancurkannya.

__ADS_1


Mika mendengus dingin, dia mengambil posisi berhadapan dengan wanita bercadar yang memberinya tatapan penuh ejekan.


"Jadi kau sungguh ada? Manusia yang memakai energi pusaka dalam tubuhnya … kau sungguh unik dan menarik," ucap Andara dari balik cadarnya.


"Aku tidak berminat berkenalan dengan Anda," tukas Mika datar.


Dengan ekspresi menghina yang tidak bisa dilihat Mika, Andara tertawa sengau. "Kau tidak ada bedanya denganku!"


"Aku tidak menyimpan iblis dalam tubuhku," seru Mika sarkas.


"Kau boleh mengelak sesukamu, tapi tetap saja energimu itu berasal dari tempat yang gelap. Yang membedakan kita, pemilik energi itu mau jadi makhluk bodoh yang mengabdi pada manusia. Sama bodohnya denganmu yang mau jadi penjaga bocah ingusan seperti dia," ucap Andara sinis, kepalanya mengedik ke arah Pandji dengan kebencian tak terkira.


Mika menggertakkan gigi, matanya nyalang menatap wanita yang menyembunyikan seringai menjijikkan di balik kain penutup wajahnya. "Jadi kau merasa lebih baik karena bersekutu dengan iblis?"


"Aku berusaha memberi pilihan, bergabunglah dengan pangeran! Aku yakin dirimu akan menjadi kesayangan. Dia menginginkanmu, Mikaila!" Andara tertawa renyah sebelum kembali berkata, "Aku tidak menyangka iblis pusaka sepertimu memakai nama malaikat!"


"Kau akan sangat tertarik saat pangeran menempati tubuh tuanmu, Pandji. Bukankah kau mencintainya gadis kecil?" ejek Andara telak.


"Aku yakin kau datang bukan untuk mengajakku berdiskusi," elak Mika kalem. Dua belatinya memancarkan sinar lebih terang, menandakan energi besar sudah ada di ujung bilahnya.


Andara merapal mantra dan menghujani Mika dengan bola-bola api yang keluar dari kedua tangannya. "Aku sungguh tidak ingin melukai wajah cantik kesukaan pangeran, tapi jika kau berkeras … aku terpaksa bermain kasar."


Pendar merah kecil keluar dari telapak tangan Andara, dia mengkombinasi bola api dengan jarum beracun yang terbang dengan kecepatan yang sulit diikuti mata.

__ADS_1


TRING!!! TRING!!! TRING!!!


Benturan jarum logam dengan belati milik Mika terdengar menggelitik telinga. Mika menangkis dengan membelokkan kembali jarum-jarum bertenaga besar itu ke arah maroz yang berada di sekitar mereka.


Lolongan panjang memenuhi pertarungan antara Mika dan Andara, jarum beracun yang dilemparkan Andara belum satupun yang mengenai lawannya. Tapi justru membunuh pasukannya dengan cepat.


Mika berkelit dari bola api yang membakar ujung rambutnya. Hawa panas menjalar ke arah kepala, otaknya seperti dididihkan paksa oleh api neraka yang dibawa iblis wanita di depannya.


“Wow … rupanya kau tidak selemah yang kukira,” ujar Andara takjub. Dia kembali membentuk bola api dan menyerang Mika dengan hujan jarum yang sekarang juga dialiri api.


Gadis cantik yang diserang habis-habisan melompat lincah untuk menghindar ataupun menangkis, Mika sengaja menghabiskan mana Andara sebelum melancarkan serangan balasan.


"Apa kau iri padaku sekarang?" tanya Mika dengan seringai menghina.


Terbakar emosi, Andara memompa sisa mana ke dua bola api yang dilepaskan bersamaan ke arah Mika.


Seperti mempunyai mata, dua bola api mengejar Mika yang berlari ke arah kerumunan maroz yang sedang berjejal menyerang Aswanta dan kawan-kawannya.


Melihat bahaya datang, Mahesa menghabiskan sejumlah mana untuk membuat perisai pelindung bagi ksatria pejuang yang bertarung di sekitarnya.


Aura kuning melingkar cepat membuat batas antara makhluk gaib dan manusia, sebelum bola api sampai pada tujuan.


DUAR!!! BLAR!!!

__ADS_1


Dua ledakan besar terjadi setelah bola api Andara menabrak pasukannya sendiri, mengubah maroz menjadi kepingan hitam yang menghilang tanpa ada yang mempedulikan.


***


__ADS_2