
Begitu kondisinya membaik, Aswanta keluar ruangan menyusul Mahesa yang sudah bergabung dengan Tirta melawan maroz yang terus mendesaknya.
Tiga pemuda langsung terkepung di halaman yang sudah tidak beraturan karena efek pertarungan. Jumlah maroz yang tumbuh dari gumpalan kabut hitam yang dikeluarkan Biantara tak kunjung mereda. Satu ditebas satu tercipta.
"Guru … jika aku harus berakhir di sini, bisakah aku tidak berubah jadi abu seperti mereka? Aku ingin dikubur dengan layak!" ucap Tirta miris.
"Tidak ada yang akan menguburkan jasadmu, berangkatlah ke pemakaman sendiri jika kau mati hari ini," geram Aswanta seraya membabatkan pedang pendeknya ke arah cakar yang hampir menyentuh dadanya.
"Aku yatim piatu, Guru. Apa tidak sebaiknya aku ikut orang tuaku?"
"Orang tuamu mungkin masih bisa diselamatkan, kalaupun tidak … aku rasa Pandji bisa mengadopsimu jadi anak jika kau mau … biasanya teman baik bisa jadi ayah yang baik," jawab Aswanta sekenanya. "Siapa yang tau kau dapat warisan salah satu gadis cantiknya!"
"Kau sangat memotivasi hidupku, Guru!" timpal Tirta konyol. Pedang ombaknya menyabet sekaligus dua serigala yang menerkam dari arah samping.
Tanpa ada rasa takut, Tirta maju ke arah kawanan dan menyerang dengan membabi buta. Alunan pedangnya menguasai area seperti air yang siap menenggelamkan siapa saja.
"Tetap di dekatku, Tirta!" pekik Mahesa dengan ekspresi kesal. Dia juga akhirnya ikut merangsek ke depan karena harus melindungi temannya dengan perisai pelindung miliknya.
Aswanta ikut bergabung dan menghabisi sebanyak mungkin makhluk yang lahir dari pecahan kabut hitam yang terus keluar dari mulut Biantara.
Di dalam ruang tamu rumah Tirta, Pandji berkelit beberapa kali menghindari sabetan belati panjang Ayah Tirta. Dia sama sekali belum menyerang karena takut melukai tubuh dua orang terkasih temannya yang sedang bertarung di luar.
Aku tidak mungkin terus melompat menghindar seperti tupai, semakin lama aku di sini semakin berbahaya untuk teman-temanku, tapi ...!
__ADS_1
Pandji memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan saat dirasa aura kehidupan di depannya sudah hilang, Ayah Tirta menyusul istrinya yang kalah lebih dulu oleh kuasa maroz berkekuatan besar dalam tubuhnya.
Sebelum tubuh mereka membusuk dan berubah menjadi mayat hidup, setidaknya Pandji ingin menyelamatkan jasad orang tua Tirta agar bisa dikuburkan dengan layak.
Kekecewaan Pandji terlukis jelas di wajah dinginnya, maksud hati mengulur sedikit waktu agar mendapatkan momentum tepat membuat pingsan kedua orang tua Tirta justru berakhir fatal. Dua orang itu kehilangan kehidupan di saat kritis.
Dengan ekspresi terluka, Pandji mengalirkan sejumlah mana pada dua pedang kembarnya. Pusaka penganten memijar sesuai elemen api dan es yang ada di dalamnya.
"Asih … aku tidak ingin kau membakar dua orang tua temanku, aku mau jasadnya tetap utuh dan bukan jadi abu!" gumam Pandji tertekan.
KLANG!!! KLANG!!!
Pandji menyerang dengan gusar, sakit hatinya pada dua makhluk yang berada dalam tubuh di depannya diluapkan dengan pukulan telak di berbagai tempat vital.
Ibu Tirta meraung saat Pandji mengalirkan mana yang sangat besar ke dalam tubuhnya, makhluk yang merasuki tubuhnya tertekan dan memisahkan diri meninggalkan jasad yang langsung jatuh berdebam di lantai.
Pandji tidak membiarkan maroz yang baru keluar dari tubuh Ibu Tirta pergi, pedang birunya membelah iblis hitam tersebut menjadi dua dan membiarkannya hilang tersapu angin dari pedang yang sedang menangkis serangan Ayah Tirta.
Pandji memutar pedang dan menyentak kuat belati yang sedang beradu hingga jatuh, sedikit menusuk dada Ayah Tirta dengan pedang biru hingga ada jejak beku di baju yang ada pada ujung pedang. Sejumlah mana besar mengalir dari Damar Jati ke tubuh Ayah Tirta, memaksa maroz yang ada di dalam berusaha keluar.
Ayah Tirta seperti mempunyai dua kepala, satu kepala bermoncong menyembul meraung, bersiap memisahkan diri. Pandji tidak memberi ampun saat kepala itu muncul di sebelah kepala Ayah Tirta, pedangnya menusuk moncongnya hingga tembus ke belakang, meninggalkan dengking pendek dan suara tubuh jatuh di atas lantai.
"Maafkan aku Tirta," desis Pandji penuh penyesalan. "Aku teman yang tidak berguna!"
__ADS_1
Pandji tergesa keluar, suara tiga temannya yang mengaduh kesulitan karena makhluk hitam yang tidak ada habisnya terdengar menyesakkan dada.
Pemuda tampan yang berdiri di belakang teman-temannya mengamati keadaan, matanya terpaku pada Biantara yang sibuk membuat pasukan dari asap hitam yang keluar dari mulutnya.
Setelah menemukan ide, Pandji merapal mantra hingga awan hitam berkumpul di angkasa. Dalam satu kali kibasan, badai petir menerjang seperti hujan deras yang turun mendadak dari langit.
"Petir Merah Ganendra," teriak Pandji menyebutkan ilmu sihir warisan leluhurnya.
Tiga pemuda yang sedang sibuk bertarung mendongak sekilas karena ada kilat merah yang sangat menyilaukan membelah langit. Mereka bergegas menyingkir dari area yang penuh dengan iblis baru lahir dari mulut Biantara.
Fokus Biantara yang sedang membentuk pasukan iblis terpecah. Namun, kesadarannya sudah terlambat. Dia membuka mata hanya untuk mendapati seluruh pasukannya tersambar petir merah dan hancur menjadi asap hitam.
Mata Biantara melotot pada Pandji yang menebas lehernya dengan dua pedang bergantian. Kepalanya menggelinding menatap tubuh yang terjengkang karena tendangan bocah tengil pada bagian perutnya.
Belum sempat mengumpat, seluruh fisik Biantara mengering karena cairan hitamnya meleleh meresap dan menghilang ditelan bumi. Tak lama, suara ledakan kecil terdengar, tubuh Biantara sudah dicacah menjadi bagian paling kecil oleh pedang Tirta. Begitu pula dengan kepalanya.
Tirta baru berhenti setelah tidak ada yang tersisa dari Biantara selain bau busuk menyengat di udara sekitarnya.
Suasana kembali hening, senyap dalam duka Tirta yang akhirnya meneteskan air mata melihat jasad kaku kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Maafkan aku, Tirta! Kalau saja kau tidak bergabung menjadi pejuang muda Ganendra … mungkin kedua orang tuamu masih bernyawa," ucap Pandji dengan ekspresi terluka. Matanya berkilat berbahaya, penuh marah dan dendam .
Tirta hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa suara. Tidak ada senyum konyol yang biasanya bercokol, yang ada hanya wajah pucat dan basah oleh air mata.
__ADS_1
***