SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 150


__ADS_3

Pandji belum membuka mata setelah 48 jam terkapar di atas ranjang batu ruang penyembuhan. Raganya bernafas teratur seperti sedang tidur, tapi tidak ada kesadaran sedikitpun terlihat di sana.


Sang Ibunda menelan ludah kasar, apa yang dialami putranya bisa jadi persis sama seperti yang terjadi pada suaminya semasa muda. Tapi kebimbangan tetap saja menggerogoti hatinya. Dalam diam, perempuan bangsawan itu bermunajat, mencari jalan untuk menyusul ke tempat putranya berkelana.


Sementara itu, perjalanan spiritual Pandji ke alam lain bersama Romo Guru membawa kekuatan baru bagi rohaninya. Hanya saja jasmaninya masih terlalu muda untuk membuat ilmu tua milik leluhurnya yang diwariskan padanya tersebut bisa menyatu dengan sempurna.


Pertama kali Pandji mendengar legenda pusaka sihir miliknya itu dari pembicaraan singkat dengan ayahnya. Beliau sedikit bercerita tentang pusaka yang pernah menemaninya di kala muda. Ayah Pandji menyerahkan pusaka penganten ke tangannya dengan pesan untuk membantu Damar Jati menyelesaikan misinya.


Semua mulai tercerahkan sekarang, saat Pandji kembali duduk di bale-bale di depan kolam katak bersama Romo Guru dalam suasana kuning senja. Suasana yang paling tidak disukai Pandji karena tidak ada pergantian waktu. Senja benar-benar terasa abadi di tempat Pandji kini.


"Tujuh pusaka sihir merupakan legenda yang membuat pertumpahan darah berabad-abad lalu, semua bertarung dan rela mati demi memperebutkan pusaka tersebut." Romo Guru menunjukkan perkamen bergambar pusaka karya Sang Empu yang baru Pandji ketahui bernama Sapta Jati. Julukan yang merujuk pada tujuh pusakanya yang kesemuanya bernama belakang Jati.


"Apakah begitu dahsyat kekuatan dari pusaka-pusaka sihir tersebut, Romo?"


"Kau sudah memegang salah satunya, yang lain juga memiliki aura kematian dan kekuatan magis yang hampir sama dengan Damar Jati."

__ADS_1


"Dan semua adalah sihir hitam?" tanya Pandji skeptis.


"Mpu Sapta selalu berburu hewan spiritual untuk mengisi pusakanya dari hutan hitam alam kegelapan, oleh karena itu semua pusakanya memiliki sifat gelap dan haus darah!"


Pandji mengangguk setuju, membenarkan apa yang terjadi dengan dirinya setelah membangkitkan kekuatan gelap Damar Jati beberapa waktu lalu. "Tapi Damar Jati tidak sepenuhnya hitam, bahkan kekuatannya baru muncul saat dibangkitkan dengan sengaja, Romo!"


"Benar sekali, itu karena Damar dulunya manusia. Berbeda dengan pusaka sihir lain yang murni berisi hewan spiritual dari dunia iblis. Tapi jangan khawatir, semua pusaka itu tergantung bagaimana Tuan yang memilikinya. Mereka hanya abdi, dan hanya akan jadi besi berkarat jika kita tidak menghendaki."


"Bukankah pusaka memilih Tuan?"


"Sebagian ya, sebagian lagi tidak! Banyak yang terpaksa mengabdi setelah ditundukkan." Romo Guru menatap tajam pada pemuda mengantuk yang duduk malas di depannya.


Romo Guru tertawa, "Dia hanya apes karena bertemu denganku tanpa sengaja! Tapi Damar menyukaimu, dia merasa menemukan dirinya di masa muda saat mendampingimu. Dia sudah membatalkan perjanjian denganku kemarin, dia mungkin akan menemani trah Ganendra seumur hidupnya."


"Hem … jika bapak dari seluruh pusaka sihir terlihat ada padaku, bukankah aku akan jadi bahan buruan, Romo?"

__ADS_1


"Kau juga diburu karena alasan lain!" sahut Romo Guru cepat.


"Lahir di waktu yang salah!" Pandji mendesah kecewa. Kalau saja dia bisa memilih, dia ingin dilahirkan di hari yang sama dengan ayahnya, hari yang katanya penuh dengan keberuntungan. Terutama yang berurusan dengan wanita.


"Banyak yang percaya bahwa bagi mereka yang mampu mengumpulkan semua pusaka sihir tersebut, akan menjadi penguasa dunia. Tapi menurut catatan Mpu Sapta, pusaka tersebut justru akan membawa kehancuran dan petaka besar di dunia manusia. Kau sudah tau kalau pusaka-pusaka tersebut adalah kunci untuk membuka dunia lain yang seharusnya tidak pernah ditemukan!"


Pandji menggaruk kepalanya, mengingat berapa banyak orang yang tau kalau pedang kembarnya adalah salah satu pusaka sihir yang paling diburu para ksatria selama ini, dan kejadian dia kerasukan roh pedangnya dalam pertarungan melawan Nergal dan pasukannya pasti sedang menjadi gosip paling hangat di seantero kesatrian Yogya.


Bukan perkara Pandji makin terkenal dan kesatrian miliknya banjir peminat, tapi keselamatan dirinya jadi lebih terancam. Meski tak dipungkiri Pandji menyukai kalau pundi-pundi uangnya jadi bertambah banyak, tapi Pandji semakin yakin kalau sebentar lagi akan banyak orang gila yang menantangnya bertarung demi merebut pusaka penganten darinya.


Romo Guru terkekeh membaca pikiran rumit Pandji. "Apa yang sudah aku wariskan padamu mungkin sedikit bisa membantu melindungi dirimu sendiri khususnya dan menyelamatkan nyawa orang lain di masa depan. Tapi sekali lagi, takdir seseorang sudah tertulis dari sejak zaman azali."


"Zaman azali," kata Pandji membarengi ucapan leluhurnya. "Terima kasih, Romo! Tapi …."


"Aku akan mengantarmu pulang, ibundamu bisa menangis kalau kau tak segera sadar. Aku sangsi dia tidak akan memaafkan lanjaran 21 kalau sampai terjadi apa-apa denganmu. Kau sudah terlalu lama meninggalkan tubuhmu! Kau bisa kesini lagi kapan-kapan!"

__ADS_1


Pandji belum menjawab ketika tubuhnya dibawa terbang dengan kecepatan yang tidak semestinya, melintasi dimensi untuk kembali ke tempat raganya berada.


***


__ADS_2