
Tanpa menoleh lagi, Ayah Pandji melesat masuk ke dalam heksagram dimana Aswanta memimpin pasukan pejuang muda.
Korban telah jatuh dan kondisi aliansi sangat terdesak dalam posisi bertahan tanpa mampu lagi melakukan serangkaian serangan balasan.
Wajah aswanta dan dua temannya yang pucat berangsur memerah, ada kelegaan pada mereka melihat Ayah Pandji masuk ke dalam heksagram.
Bukan hal yang asing dalam dunia kesatrian kalau satu orang yang memiliki kekuatan yang mumpuni bisa mengubah keadaan buruk menjadi lebih baik. Satu orang sakti bisa membalik keadaan yang semula terdesak dalam posisi bertahan menjadi penyerang dalam kurun waktu singkat.
Mata Ayah Pandji hanya menatap putranya sekilas, berdoa semoga masih ada cukup waktu bagi Pandji yang sudah lelah dan mencapai batasnya menahan keganasan Nergal.
Bukan Alaric lebih memperdulikan orang lain ketimbang putranya, tapi pria itu melihat prioritas yang ada di depan matanya. Aswanta dan timnya akan habis seketika jika dirinya tidak segera turun tangan.
__ADS_1
Ayah Pandji masih yakin kalau putranya akan bertahan beberapa waktu lagi sampai pasukan Aswanta ada dalam kendalinya, jadi pria itu tidak menunggu waktu untuk menghunus trisula di tangan kanan dan keris Mas Gun di tangan kiri. Dua pusaka yang memiliki sejarah kelam dalam menemani paranormal hitam.
Menurut pandangan batin Ayah Pandji, putranya belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. Ada hal besar yang masih tersembunyi dan tidak digali Pandji dari dirinya. Mungkin belum … atau Pandji butuh pemicu sebagai alasannya.
Tak jauh dari heksagram sihir, Mika yang sedang menghadapi pasukan manusia Nergal hampir kehabisan mana di saat-saat terakhir, setengah dari penduduk desa yang kerasukan sudah jatuh pingsan setelah ditinggalkan iblis yang menguasai tubuh mereka.
Sekali lagi Ayah Pandji tidak turun untuk membantu Mika, dia merasakan ada sesuatu yang sedang menuju ke arah Mika. Bayangan hitam dengan aura yang pernah dikenalnya. Tidak bersinggungan, tidak ada benturan … artinya yang datang masih dalam satu golongan dengan aliansi.
Sosok perempuan bercadar berpakaian serba hitam yang entah datang dari mana tiba-tiba muncul di depan Mika, mengambil alih pertarungan dengan sigap dan sudah membanting satu manusia kerasukan lalu membuatnya pingsan seketika.
"Siapa kau?" tanya Mika menyelidik. Aliansi tidak memiliki pejuang wanita, lalu wanita bercadar ini tiba-tiba datang mengulurkan bantuan sebagai teman. "Bagaimana kau tau namaku?"
__ADS_1
"Kita bisa berkenalan nanti saat semua kekacauan telah selesai," jawab wanita bercadar singkat. Dia mengeluarkan senjata pusaka dengan aura angker yang menderu-deru saat diayunkan.
"Jangan sakiti penduduk desa atau Pandji akan memburumu sampai ke neraka!" Mika mundur satu langkah setelah meneriakkan perintah.
Entah mengapa dia langsung percaya pada wanita tersebut, mungkin karena mata saktinya tidak mendeteksi aura jahat dan gelap dalam diri perempuan muda yang menutupi wajahnya dengan cadar tersebut. Dan lagi, Mika masih tidak habis pikir wanita yang mengambil alih pertempurannya mengetahui nama lengkapnya.
"I know it, Mikaila!" Jawaban perempuan bercadar tersebut hampir hilang oleh suara ledakan-ledakan energi yang keluar dari pusakanya.
Mika mengamati pertarungan di depannya sebentar, sebelum bergumam lirih dan menutup mata dalam posisi duduk bersila untuk mengatur nafas. "Pusakanya terasa familiar auranya, tidak sama … tapi memiliki kemiripan dengan aura kujang Cakrabuana milik Gia."
Wanita bercadar bertarung apik, meski tidak mengeluarkan iblis dalam tubuh penduduk desa tapi mampu melemahkannya hingga tak berdaya. Dia membuat Mika bekerja lebih ringan nantinya saat mengeluarkan iblis-iblis tersebut dari tubuh inangnya.
__ADS_1
Pertempuran masih berlangsung sengit pada seperempat malam menjelang pagi. Pandji juga masih gigih menghadapi Nergal dengan sisa kekuatannya.
***