SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 131


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju desa yang dimaksud oleh surat kabar lokal, Pandji diam mengamati dan berusaha merasakan aura gelap pekat yang mirip dengan milik Levron.


"Ini sedikit aneh, pada saat masih menggantung di angkasa aku bisa merasakan dengan kuat aura mereka," gumam Mika heran.


Pandji menyahut datar, "Mereka seperti menghilang bukan?"


"Ya … rasanya hampir tidak mungkin!"


"Array pelindung milik Nergal lebih istimewa daripada milik Levron. Dia juga mampu menyamarkan aura gelap mereka hingga mirip seperti manusia," tebak Pandji yakin.


Mika termenung sejenak, "Itu penyebab tidak adanya berita heboh yang seharusnya terdengar oleh kita? Bagaimana mereka menutupinya? Mereka mulai menyatu dengan bangsa kita?"


"Untuk itulah kita datang kesini, memastikan situasi sebenarnya! Awas Mika … berhenti sekarang juga!" teriak Pandji tiba-tiba. "Mika!"


BRAK!!!


Mika membanting setir ke arah kiri karena mobil menabrak dinding melingkar yang tidak terlihat mata.


Suara ban berdecit di atas aspal memekakkan telinga saat Mika menginjak rem, mobil oleng dan akhirnya berhenti di pinggir jalan utama.


Seluruh tim Pandji panik dan berdecak kaget, menyeimbangkan diri agar tidak terjatuh dari tempat duduk mereka.


"Ya Tuhan selamatkan kami!" pekik Aswanta.


Mahesa berseru lantang, "Whats wrong?"


"Opo iki dab?" tanya Tirta linglung pada semua yang ada di sana.

__ADS_1


"Semua baik-baik saja?" Mika menolehkan kepala dengan nafas tertahan. Menghembuskan lega setelah semua mengangguk bersamaan.


Mata mereka tertuju pada satu titik yang sama, jalan raya.


Lalu lintas tetap normal bagi kendaraan lain. Motor dan mobil lalu lalang di jalan tanpa terjadi hal yang sama dengan mobil yang dikemudikan Mika.


Mereka menembus dinding tak kasat tanpa kesulitan, tanpa tekanan ataupun kecelakaan.


"Bahkan array pelindung mereka saja sulit dideteksi!" gerutu Mika sebal. Tangannya mengusap dada, meredakan rasa terkejut karena hampir saja membuat timnya celaka.


"Untung saja kamu nggak ngebut, bisa terbalik nih mobil tadi!" timpal Pandji gusar. "Kamu baik-baik saja, Mika?"


" … " Mika mematikan mesin mobil dan termangu menatap sesuatu yang ditabraknya. "Luar biasa! Aku harus menggunakan banyak tenaga untuk mendeteksi kubah sihir buatan Nergal."


"Bisa jadi dadar jagung kita tadi kalau sampai kecelakaan tunggal," celetuk Tirta konyol. Pemuda itu membuka pintu dan keluar lebih dulu memeriksa kondisi mobil dan sekelilingnya. Matanya memicing mengamati keadaan, "Sepertinya sih aman … tapi aku tidak yakin!"


Pandji turun diikuti oleh seluruh tim. Memperhatikan situasi yang tampak biasa saja, "Tidak ada perbedaan yang cukup mencolok dengan desa sebelumnya. Kecuali kubah … tidak ada aura gelap lain di sekitar sini!"


Mahesa memasang sihir pelindung tubuh, lalu berjalan mendekati dinding tak terlihat. Perisai kuning menyelubungi tubuh Mahesa, dia kini terlihat seperti bola besar yang siap menabrak dinding dengan lambat.


DRET!!!


"Arrgghh …!" desis Mahesa. Benturan energi terjadi seperti konsleting listrik, memijar hanya sekejap mata namun memberi efek kejut yang sangat besar pada Mahesa.


"Mahesa!" teriak Mika panik.


Pemuda itu tersentak sekejap lalu meloncat mundur dengan sigap. "Oh Tuhan!"

__ADS_1


"Kau terluka?"


Udara bergetar keras di sekitar dan dinding tak kasat mata tetap berdiri kokoh. Mahesa menelan ludah kasar, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering. "Aku tidak apa-apa, Mika!"


Pandji diam-diam mengukur kekuatan array pelindung milik Nergal dan memutuskan untuk mencari jalan memutari desa, mempelajari pertahanan lawan sebelum bertarung. "Cerdik sekali! Dia membangun benteng gaib dan menyusun kekuatan dari dalam sana."


"Sobat … apa yang akan kita lakukan sekarang? Hanya diam seperti orang bodoh? Kita sudah mengetahui tempat mereka, kapan kita akan menyerang?" cerca Aswanta tak sabar. Ekspresinya seperti jagoan yang belum pernah kalah dalam pertarungan. Sombong dan arogan.


"Kita belum tau apa yang sedang terjadi di dalam sana, Aswanta. Tahu lokasi kalau tidak tahu besarnya kekuatan mereka sama saja bunuh diri." Pandji mendahului timnya masuk ke dalam mobil. Kali ini dia yang memegang kemudi.


“Kemana kita, Mas?” tanya Mika. Wajahnya serius menatap Pandji yang memasang ekspresi pusing di wajahnya.


"Melihat desa sebelahnya, mungkin ada sesuatu yang bisa kita temukan di sana!"


Entah mengapa Pandji merasa sangat tidak nyaman. Nergal sedang menyiapkan kekuatan besar di dalam benteng pribadinya tanpa bisa dicuri lihat olehnya. Nergal memiliki kesaktian di atas adiknya, memiliki ambisi yang jauh lebih tinggi dan memiliki kekejaman yang luar biasa sadis.


Tiba-tiba, Pandji takut akan kehilangan teman-temannya, takut akan kehilangan keluarga dan takut tidak bisa melindungi mereka yang membutuhkan.


“Kamu tidak harus menanggung beban itu sendirian, Mas Pandji! Berbagilah, aku pendengar yang baik!” Mika menyela jalan pikiran Pandji dengan suara lembut.


Pandji hanya mengedikkan bahu, diam dan kembali larut.


“Apa yang sedang kau pikirkan, Sobat? Bolehkah aku tahu? Mungkin kau bisa bicara padaku sebagai sesama pria,” sambung Aswanta peduli. Dia juga merasa tidak suka melihat Pandji yang diam dengan ekspresi tidak bisa ditebak. “Apakah itu tentang wanita?”


"Aku lebih suka kalau kau diam, Aswanta!" jawab Pandji dengan seringai aneh. Mobilnya menepi di dekat persawahan, matanya menyorot tajam pada tiga orang pria besar yang sedang berjongkok mengelilingi sesuatu.


Sesekali mereka mendongakkan kepala secara bergantian, menatap angkasa lalu kembali menunduk dan mengambil sesuatu untuk dijejalkan ke dalam mulut. Mengunyah dengan cepat dan memperdengarkan berbagai geraman seperti suara binatang.

__ADS_1


Acara makan yang sungguh aneh, liar dan menjijikkan.


***


__ADS_2