
Pandji pamit pada orang tuanya untuk melihat kerumunan peserta di kesatrian. Dia terbatuk pelan membaca papan pengumuman daftar peringkat keseluruhan pertandingan. Namanya ada di posisi teratas, sengaja dicetak tebal untuk menarik perhatian calon murid baru.
Dengan selisih skor hampir 1.000 poin dari Biantara yang ada di urutan kedua, Pandji mutlak menjadi pemecah rekor yang pernah ada. Benar kata Ayahnya, brosur dan formulir pendaftaran Putra Ganendra laris diambil oleh peserta dan penonton umum yang baru saja menikmati pertandingan.
Tiga perempuan cantik yang ikut mendampingi mengucapkan selamat pada Pandji. Hanya saja Ratna terlihat tidak begitu gembira, "Aku harus ikut pulang Ibunda malam ini, besok mungkin aku tidak bisa ikut merayakan kemenangan Mas Pandji."
Pandji bimbang, dia belum menyatakan apapun atas perkenalan keluarganya dengan keluarga Ratna. "Apa aku perlu meminta izin agar kamu bisa tinggal? Eyang buyut mengundang untuk datang lagi kan?"
"Iya, tapi Ibunda besok harus menemani Romo kunjungan."
Pandji mengusap pipinya pelan, dia tau permintaan izin itu mustahil terkabul, mana bisa dia mengajak anak gadis orang menginap di rumah tanpa pembicaraan serius antar kedua orang tua.
Mika dan Atika menatap Pandji dengan ekspresi tertekan, hal itu makin menyulitkan Pandji untuk mengambil keputusan.
Ratna tersenyum manis, "Mas pandji sudah tau jawaban Ibunda nanti apa, mending nggak usah dicoba daripada kecewa. Kecuali …." Ratna tidak melanjutkan kalimatnya, dia hanya menunduk dengan rona pipi memerah.
Pandji mengangguk tak berdaya, tapi dalam kepalanya dia tetap punya rencana.
Aku akan bicara pada Ibunda, mungkin tidak apa-apa punya tunangan sekarang, kalau besok-besok nggak cocok kan bisa diretur ke orang tuanya. Yang penting kembali dalam keadaan utuh nggak ada yang kurang hehehe….
Mika yang menyadari ekspresi Pandji berubah bahagia mendadak jadi curiga, dia menggeret Pandji meninggalkan Ratna dan Atika.
Agak jauh dari kedua wanita yang melihatnya dengan cemburu, Mika bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Pandji?"
__ADS_1
"Eh? Kenapa kamu ingin tau, Mika? Ini sama sekali bukan urusanmu!"
"Aku kakakmu, aku juga diberikan tugas untuk menjagamu!"
Pandji menyeringai jenaka, "Tapi tugasmu bukan menjaga hatiku. Aku bebas kalau soal itu!"
Mika salah tingkah, dia tidak mengerti kenapa melarang Pandji dekat dengan orang lain. "Ratna belum jadi siapa-siapamu, Pandji!"
"Makanya itu aku berniat menjadikannya tunanganku," sahut Pandji cuek.
" … " Mika terbengong mendengar keputusan Pandji.
Pandji melanjutkan dengan tersenyum lebar, "Mana dompetku? Aku menang banyak ya? Kamu mau dibelikan apa?"
Anak ini … benar-benar menyebalkan!
Malamnya Pandji mengutarakan keinginan pada orang tuanya kalau dia bersedia menjalin hubungan lebih lanjut dengan Ratna.
"Mas Pandji … kalau hanya cantik, perempuan cantik di luar sana juga banyak. Ibunda kurang setuju alasanmu mau menjalin hubungan dengan Ratna hanya karena dia cantik."
"Tapi Pandji memang nggak punya alasan lain, Ibunda. Maksudnya Pandji belum menemukan apalagi yang menarik dari Ratna selain dia juga lembut dan imut … bolehkah Pandji berkenalan lebih serius lagi, Ibunda?"
Mata Ibunda Pandji mengamati putranya yang beranjak dewasa, "Mas Pandji hanya menuruti Yangyut kan? Ibunda tau Mas Pandji ingin menyenangkan Eyang, tapi semua harus dipikirkan karena itu menyangkut masa depan."
__ADS_1
"Yangyut bilang kalau Pandji menikah dengan Ratna nanti, Pandji juga masih boleh menikah dengan siapapun yang Pandji inginkan kok Ibunda. Kebetulan Ratna juga cantik, jadi sayang kalau ditolak," kata Pandji cengengesan.
"Astaga, Mas Pandji … menikahi beberapa wanita sudah tidak berlaku lagi di keluarga Abisatya sejak generasi kakeknya Yangyut!"
“Yangyut ingin keluarga kita menjadi keluarga besar lagi, Ibunda.”
Ibunda Pandji tertegun, dia tidak begitu menyukai ide Eyang buyut Pandji. “Mas Pandji masih terlalu kecil untuk memikirkan itu semua."
Pandji mengangguk lesu, "Ratna nanti diambil orang kalau Pandji nggak serius berkenalan dari sekarang!"
Dengan senyum lembut Ibundanya menjawab, "Jika itu mau Mas Pandji kita akan membicarakan kembali secara kekeluargaan. Kita harus memintanya secara resmi, itu berarti kita akan ke Solo dulu untuk membalas kunjungan mereka."
"Tapi ... misal Pandji tiba-tiba bosan apa bisa dibatalkan, Ibunda?" tanya Pandji dengan seringai bodoh.
"Kita tidak sedang membeli bahan perhiasan perak, Mas! Misal nggak cocok bisa langsung kita kirim balik ke supplier.
Membatalkan hubungan pertunangan tidak sama dengan retur barang, bisa minta ganti dengan yang baru atau minta kembali uang, Mas Pandji!" Ibunda Pandji menjawab lembut penuh tekanan seraya melirik tajam ke arah suaminya.
Ayahanda Pandji tidak bisa menahan tawa, dengan gaya jenaka membalas lirikan istrinya, "Ehm … no coment, Diajeng!"
Pandji menggaruk kepalanya, menatap kedua orangtuanya dengan ekspresi pusing.
Rasanya aku ingin segera berusia 27 tahun!
__ADS_1
***