SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 89


__ADS_3

Mika menghentikan latihan karena tubuhnya bereaksi pada kegelapan yang menggantung di atasnya, tekanan yang dirasa makin besar setiap malam.


Matanya menyala merah mengamati lingkaran hitam pada bulan, lingkaran yang kini mulai melebar dan menutupi semua penerangan yang jatuh ke bumi. Seperti sebuah isyarat bahwa petaka akan segera datang dan kegelapan akan mengambil alih seluruh kehidupan.


Bulan seperti tertutup awan hitam, lalu awan itu mulai turun membentuk garis lurus vertikal ke arah bumi. Sekejap saja, pilar raksasa berwarna hitam yang menyangga langit terlihat jelas di mata gadis cantik yang masih mendongak mengamati.


Mika menahan nafas ketika melihat fenomena itu dengan skill eyes miliknya, tubuhnya bergetar dan kepalanya mulai pusing.


Hanya dalam sekedipan mata, tiang raksasa itu hilang entah kemana. Meninggalkan awan besar hitam yang masih setia menutupi cahaya bulan.


Kegaiban alam baru berakhir saat semua kegelapan di angkasa membentuk busur yang sangat besar dengan dua ujungnya menyentuh bumi. Seperti pelangi tengah malam, berwarna hitam pekat dengan aura menggidikkan.


"Apa itu, Damar?" tanya Pandji yang masih berada dalam meditasinya.


“Kluwung ireng, Mas Pandji!” jawab Damar Jati singkat.


"Aku tahunya pelangi itu berwarna warni, tidak hitam pekat menakuti orang seperti itu, Damar!"


"Pertandanya memang begitu … tujuannya memang untuk menakuti, apa yang Mas Pandji lihat seperti tiang raksasa hitam tadi adalah turunnya sebagian kecil makhluk gaib tersebut menembus dimensi. Sebentar lagi teror di wilayah lain akan segera dimulai." Damar Jati mencoba menjelaskan singkat apa yang diketahuinya.


"Yogya bagian selatan, aku merasakan hawa tidak enak dari sana!"

__ADS_1


"Mas Pandji benar, sepertinya memang tidak jauh dari Parangtritis."


"Bersiaplah, Damar … sepertinya kita akan berpetualang ke sana!" perintah Pandji serius.


"Sendiko dawuh, Mas Pandji." Damar Jati menjura hormat dan menghilang dari hadapan pemuda yang masih duduk dengan mata terpejam rapat itu.


Sesuatu yang disebut kluwung ireng oleh Damar Jati menipis dan hilang, menyisakan perasaan takut pada yang melihatnya. Membuat setiap orang yang mengerti kegaiban, menerka-nerka kejadian yang akan menimpa umat manusia.


Pandji merasakan kehadiran beberapa orang disekelilingnya, dan satu suara merdu yang sangat dikenalnya memanggil dengan nada panik. "Pandji!"


"Mas Pandji tadi pesan nggak mau diganggu, Mbak Mika!" kata Atika lirih.


"Urgent ini, Tik! Mas … Pandji, Mas Pandji!" seru Mika masih berusaha membangunkan Pandji dari meditasinya.


“Astaga … bagaimana kau bisa tidur dalam situasi mistis dan menyeramkan seperti ini, Sobat?” tanya Aswanta bertanya.


“Aku tidak tidur,” jawab Pandji enggan menjelaskan.


"Lalu apa? Aku mendengar kau mendengkur, Sobat!"


"Mengawasi dalam gulita malam." Pandji menjawab asal. "Teh herbal, Tika! Juga siapkan handuk untuk mereka membersihkan diri. Aku nggak mau membawa mereka dalam keadaan bau keringat begini!"

__ADS_1


Aswanta dan yang lain melongo, kecuali Mika yang sudah hafal dengan lagak Pandji yang harus wangi saat mau bepergian.


"Memangnya kita mau kemana, Sobat?"


"Wisata malam." Pandji melirik ke arah Mika yang memperhatikannya sejak tadi.


"Eh … tujuannya? Malioboro, alun-alun kidul atau ehm ... pasar kembang?" tanya Aswanta ragu.


"Parangtritis?" Mika menaikkan alisnya saat bertanya.


Pandji tersenyum tipis, "Ya … kita ke selatan!"


“Mas … kamu lihat fenomena tadi kan?” Mika penasaran apakah Pandji juga melihat apa yang dilihat oleh mata magisnya.


“Hm … kluwung ireng.”


Mika mendesis pelan, “Aku seperti tidak asing dengan penampakan itu!”


Pandji yang mendengar suara lirih Mika hanya tersenyum tipis, “Sebagian dirimu mungkin memang pernah melihatnya."


Asih jati pasti sudah mengalami hal seperti ini di masa lalu, jika ini sebuah perulangan kejadian ... artinya ada jalan penyelesaian. Mugi Gusti paring keslametan!

__ADS_1


***


__ADS_2