SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 90


__ADS_3

Mika menatap Pandji beberapa saat sebelum bertanya, "Asih Jati?"


Pandji mengedikkan bahu tak acuh, tidak menjawab atau menjelaskan apapun. Satu hal yang membuat ketiga temannya menatap dengan penasaran.


“Siapa itu Asih Jati, Sobat?” tanya Aswanta ingin tau duluan.


Mahesa mengedikkan kepala ke arah Mika, "Apa perempuan yang kadang terlihat di belakang kakakmu ini?"


"Mungkin dia semacam penyihir abadi yang bergentayangan dari generasi ke generasi," celetuk Tirta.


"Aku tunggu di depan, nggak pake lama!" Pandji menggaruk kepala, sudut bibirnya berkedut merasakan teman-temannya memiliki rasa ingin tahu lebih dari dugaannya, terutama Tirta yang selalu berkomentar berbeda karena cara pandangnya terhadap masalah selalu sedikit aneh.


Mika bergegas masuk rumah, sedangkan tiga pemuda yang tersisa mengambil handuk dari tangan Atika dengan senyum-senyum sinting.


Pandji tidak menggubris teman-temannya yang sibuk mencari perhatian Atika, dia berjalan dengan pikiran rumit ke pendopo depan.


Siluet tubuh yang dikenal Pandji juga sedang duduk di sana memejamkan mata, suaranya menyapa saat Pandji mengambil tempat duduk paling dekat dengan taman, "Bagaimana latihan teman-temanmu?"


"Sesuai harapan dan mereka juga lumayan … ehm kami akan berangkat ke selatan sebentar lagi! Apa Ayah ikut?" tanya Pandji seraya mengencangkan sabuk pedang yang menggantung di bahunya.


Ayahanda Pandji menggeleng berat lalu membuka kedua mata, "Hm … berhati-hatilah, jangan membuat kesalahan sekecil apapun di sana! Mas Pandji taukan … tubuh dan buku sihir yang ada padamu itu satu paket."

__ADS_1


"Waktunya masih tiga malam dari sekarang, Ayah!"


"Ya, tepat malam bulan purnama." Ayah Pandji melihat bulan redup dan bertanya lirih, "Apa yang Mas Pandji rasakan setelah melihat kluwung tadi?"


Pandji tidak langsung menjawab, melainkan ikut melihat bulan redup di angkasa.


Menutupi nyalinya yang naik turun, Pandji menjawab dengan nada tertekan. "Pandji tidak tahu, Ayah! Tapi sesuatu membuat Pandji kadang merasa sedikit … takut."


"Itu wajar, artinya Mas Pandji masih manusia," kata Ayah Pandji mencoba mengerti kondisi jiwa putranya. "Tapi, Mas Pandji harus tetap optimis. Hidup dan mati seseorang sudah digariskan …."


"Sejak zaman azali," Pandji menyambung kalimat Ayahandanya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Ayah! Pandji berangkat sekarang, itu teman-teman sudah siap semua."


"Ada apa lagi, Mas?" tanya Ayahanda Pandji saat melihat putranya bimbang.


"Belum, tapi Ayahanda mendapatkan semacam … bisikan!"


Pandji mengangguk lalu mencium tangan Ayahnya, diikuti Mika dan teman-temannya. Mereka berjalan beriringan menuju mobil dalam diam.


Canda tawa yang tadi selalu ada menghilang dalam sekejap, semua berwajah serius dan berusaha untuk menghilangkan ketakutan dan tekanan.


Mika duduk di belakang kemudi dengan tenang, sama sekali tidak menampakkan keraguan meski tujuan mereka pergi adalah medan perang.

__ADS_1


"Sebenarnya aku belum siap mati muda," kata Tirta konyol. "Tapi aku yakin Guru akan menyelamatkan jiwaku jika sampai tubuhku diambil alih oleh makhluk buruk rupa itu."


Pandji tertawa terbahak, sengaja menghapus ketegangan teman-temannya yang duduk gelisah di dalam mobil, "Kita semua akan saling melindungi, tidak ada yang akan mati di sana!"


"Kalaupun mati … itu bukanlah hal yang sia-sia, kalian akan dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa,'" timpal Mika datar.


"Emangnya kita ini guru?" celetuk Mahesa tertawa hambar.


Memasuki jalan Parangtritis yang mulai sepi membuat tim Pandji kembali diam. Mata dan pendengaran mereka menajam, berusaha merasakan keberadaan makhluk lain yang mungkin berada di sekitar.


Semakin dekat ke arah pantai semakin kuat aura gelap yang mereka rasakan. Mika memperlambat laju mobil, memberikan peringatan waspada kepada semua pemuda yang jadi penumpangnya. "Sebaiknya kita bersiap, aku melihat kabut hitam menggunung di depan."


Tidak ada yang menyahut, hening beberapa saat.


BRAK!!!


Sesuatu menabrak mobil dengan keras hingga menimbulkan goncangan hebat. Mika membanting kemudi ke arah kiri dan menginjak rem secepat yang dia bisa. Mobil berhenti tepat di tempat terbuka, jauh dari pemukiman penduduk.


“Turun semua!” teriak Mika panik.


Pandji adalah orang yang pertama turun dan menjejakkan kaki di tanah, belum juga tubuhnya mencapai keseimbangan … dia diterkam oleh bayangan besar, seekor serigala hitam berkepala dua.

__ADS_1


"Pandji …!" jerit Mika menghampiri. Tangannya meraih dua belati yang tergantung di pinggang dan menghunus ke arah binatang aneh yang menembus malam tanpa terdeteksi olehnya.


***


__ADS_2