SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 78


__ADS_3

Pandji menatap skeptis wajah angkuh yang mendadak ada di depannya, "Romo Guru?"


Menyeringai jenaka, leluhur Pandji bertepuk tangan. "Kamu benar! Tapi sayang hadiah main tebak-tebakan sudah habis."


Pandji memasang wajah masam, benar-benar ingin menyumpahi pria penuh wibawa yang sedang ingin bercanda dengannya.


Namun, dengan penuh kesopanan Pandji bertanya, "Ada apa gerangan sampai Romo Guru datang mengunjungi cucu di rumah ini?"


Romo Guru mengetuk-ngetukkan tongkat di lantai kamar Pandji, "Apa kau lelah?"


Hal yang paling tidak disukai Pandji adalah ketika seseorang berbicara tidak langsung pada pokok permasalahan. Berputar-putar atau banyak basa-basi.


Menurut Pandji, sangat tidak masuk logika bapak dari semua lanjaran datang hanya untuk menyampaikan empati atau bertanya keadaannya seperti seorang gadis labil.


Pandji menggelengkan kepala ringan, "Tidak … saya hanya sedikit mengantuk!"


Suara ketukan tongkat makin lama makin nyaring, merusak konsentrasi Pandji yang sedang mengatur energi dan pernafasan.


Pandji melepaskan tenaga dalam untuk menstabilkan energi yang masuk dalam pendengarannya. Bukan hal mudah mengimbangi tenaga dalam Romo Guru yang sedang mencoba kekuatannya. Serangan melalui bunyi-bunyian.


Tubuh Pandji bergetar, keringat membajiri punggung. Aura Romo Guru mendadak ikut menekannya kuat, tubuh Pandji seperti dihimpit batu besar dan udara dirampas paksa dari paru-parunya.

__ADS_1


Pandji mengeluh, dia sudah mencapai batasnya. Tubuhnya ambruk dan menggelepar di lantai kamar.


Dada Pandji hampir meledak saat tongkat yang mengetuk lantai berpindah menusuk dada tepat di atas jantung. Hawa panas yang keluar dari tongkat masuk ke dalam tubuh Pandji dengan sangat cepat, seperti sengatan listrik mendadak.


Tubuh Pandji kejang sesaat sebelum dia bisa menetralisir transfer energi dari leluhurnya, mengikatnya di dalam tubuh sebagai tambahan tenaga dalam.


"Sakit?" tanya Romo Guru menyeringai miring. Kedua alisnya bertaut mengamati Pandji yang kembali duduk dan mulai bernafas dengan normal.


Pandji tersenyum kecut, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kalau tubuhnya seperti dirajam saat energi leluhurnya itu masuk. "Tidak, Romo Guru. Hanya seperti tertusuk banyak jarum."


Romo Guru tergelak seraya menaikkan tinggi satu alisnya, "Baiklah!"


BLAR!!!


Kilatan cahaya merah menyilaukan mata menembus langit-langit kamar dan menyambar Pandji dengan kekuatan dahsyat.


Pandji yang tak sempat menghindar karena silau, menerima energi besar itu dengan terpaksa. Gigi gerahamnya menggertak menahan rasa sakit diseluruh tubuh, tulang seperti remuk dan nadinya nyaris putus.


Pandji kembali mengatur pernafasan dengan cepat agar bisa menyerap energi yang masuk dan membuatnya menyatu dengan tubuhnya.


Badan Pandji terasa lebih ringan dan kekuatannya meluap dua kali lipat dari sebelumnya.

__ADS_1


Cara yang aneh untuk menambah jumlah tenaga dalam!


Romo Guru tersenyum penuh misteri, “Bagus!”


Pandji yang masih belum paham langsung bertanya, “Itu tadi apa, Romo Guru?”


“Latihan kecil,” jawab Romo Guru singkat. Tangan kekarnya merogoh kantong kain lusuh yang dibawanya dan memberikan gulungan kecil berwarna coklat usang.


Perkamen lagi?


"Apa ini, Romo?" Pandji mengamati gulungan yang tampak tidak ada istimewanya itu dengan raut penasaran.


"Penanggalan kuno … pelajarilah, itu akan sangat berguna!"


Pandji membuka gulungan dan melihat isinya, mengernyit bingung karena sulit untuk memahami isi dalam perkamen tersebut.


Mendongakkan kepala, Pandji menahan semua rasa kesalnya, leluhurnya yang sakti itu pergi tanpa pamit dan di luar kesadarannya.


Pandji memutuskan untuk melanjutkan meditasi, duduk dalam posisi terbaik dan menenggelamkan diri hingga lelah dan tertidur.


***

__ADS_1


__ADS_2